Sport

High atau Low-Top Sneakers, Mana Yang Lebih Aman?

Mainmain.id

Posted on January 16th 2019

The History of High-top and Low-top Sneakers

Kalau kalian kira Converse adalah perusahaan pertama yang menciptakan sepatu basket, kalian salah besar. Ketika olahraga basket pertama kali ditemukan oleh Dr. James Naismith pada tahun 1891, Spalding adalah perusahaan pertama yang memproduksi sepatu basket yakni tahun 1907. Memiliki desain high-top berbahan kanvas, sepatu ini sayangnya kalah pamor dengan Converse All-Star yang booming sejak tahun 1917. 

Penampakan model sepatu basket waktu pertama kali diciptakan (via: blackfives)

Elizabeth Semmelhack, seorang Profesor mode yang ahli dalam sejarah alas kaki menyatakan bahwa desain high-top yang dipilih Spalding dan Converse di sepatu basket pertama mereka tidak ada hubungannya dengan safety, namun karena pada masa itu model sepatu pria didominasi ankle boots

Sepatu low-top mulanya dikenalkan Adidas pada tahun 1969 lewat seri the Superstar, serta Puma dengan seri Clyde. Meskipun kedua sepatu ini cukup tenar, namun sepatu high-top masih jadi pilihan utama para pemain basket dari mulai Nike Air Jordan I hingga berbagai seri Air Jordan yang didominasi model high-top. Baru lah ketika Kobe Bryant merilis Nike Zoom Kobe 4 pada tahun 2008, low-top sneakers mulai dilirik para atlet. 

Nike Paul George I jadi sepatu yang paling banyak dikenakan pemain NBA di tahun 2018 (via: solecollector)

Sampai saat ini menurut Howard Oesterman, seorang pediatris di Washington Wizards hampir setengah dari pemain NBA menggunakan sepatu low-top, dengan Nike PG1 sebagai sepatu yang paling banyak digunakan para pemain NBA di tahun 2018. 

High-top vs Low-Top, Mana Yang Lebih Aman?

Sebuah penelitian La Trobe University, Australia yang dipublikasikan di British Journal of Sports Medicine pada tahun 2001 menilai dari 10.000 pemain basket, tidak ditemukan fakta bahwa sepatu high atau low-top menjadi faktor yang dapat menyebabkan cedera ankle. Namun, air cells (jenis cushion yang terdiri dari campuran gas), pemanasan serta cedera yang sebelumnya pernah dirasakan, jadi faktor utama yang mempengaruhi resiko cedera.

Teknologi air cells yang ternyata belum maksimal menjaga stabilitas kaki (via: Klekt)

Gaylene McKay seorang fisioterapis yang melahirkan penelitian ini menyatakan, “Air cells yang terdapat di dekat tumit sepatu basket menurunkan stabilitas kaki, hal ini meningkatkan resiko cedera ankle hingga 4,3 kali dibanding yang tidak menggunakan air cells pada sol sepatunya,” ujar McKay. Karena cedera ankle kebanyakan terjadi ketika seorang pemain mendarat dengan cara yang salah, sehingga saat stabilitas kaki kurang terjaga, kaki akan lebih mudah terkena cedera ankle. Nggak salah kalau selama ini kamu berpendapat bahwa sepatu high-top bisa menjaga ankle lebih baik karena tali sepatu yang cukup tinggi mampu mensupport ankle. 

But, it turns out the cushion is more impactful than the high or low-top model!

Selain memilih cushion yang tepat agar terhindar dari kurang stabilnya kaki, Howard Oesterman sang pediatris Washington Wizards juga membocorkan bahwa hampir setengah dari pemain NBA menggunakan custom insoles yang dibuat khusus dengan memindai kaki mereka. Kuncinya, mau high or low-top sepatu aman lahir dari kenyamanan (dan kemampuannya untuk mensupport kaki, tentunya)~

Related Articles
Entertainment
Jakarta Sneaker Day 2019 Sesak Karena Sepatu Lokal

Sport
4 Manfaat Pisang Buat Kamu yang Hobi Berolahraga

Interest
5 Sneakers di Bawah Rp 1 Juta yang Cocok untuk Ngampus versi Mainmain

Meet The Creator



Mainmain.id

Quote Of The Day

NGEJAR DISKON DIBELA-BELAIN BEGADANG SAMPAI PAGI, GILIRAN NGEJAR SI DOI SAMPE DEPAN GANG UDAH PUTER BALIK LAGI