Sport

Mata Rantai Rasisme di Dunia Sepakbola

Hakiki Hijriawan

Posted on July 24th 2018

"Say no to racism and fairplay" adalah slogan FIFA yang digunakan untuk menyatakan bahwa FIFA menolak rasisme. Namun sayang, slogan hanya sekedar untaian kata yang tak pernah terwujud. Entah sudah berapa pemain yang ternoda akibat rasis. Efeknya nggak main-main loh. Psikis mereka bisa terganggu, hingga harus mundur dari dunia sepakbola. Yap, kasus rasis kembali terjadi, santer di media massa, Mesut Ozil jenderal tengah Arsenal itupun resmi pensiun ‘dini’ di usia yang masih produktif.

Mungkin Ozil bukanlah orang pertama yang tersinggung kasus seperti ini. Nama beken kayak Daniel Alves, Mario Ballotelli, ataupun Zidane pernah merasakan hal seperti ini. Belum kelar euforia Piala Dunia, sepakbola ternodai dengan menguapnya kasus rasis yang menimpa Mesut Ozil. Dikutip dari The Guardian, Ozil resmi pensiun karena Jerman ada perbedaan pandangan politik dengan Turki. Fyi, Ozil emang memiliki darah keturunan Turki Tapi dirinya lahir dan besar di Jerman. Namun, sang keluarga kokoh berada di Turki.

Usut punya usut, kasus ini mencuat karena Ozil berfoto bersama Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan, pada bulan Mei lalu. Foto mereka sebenarnya diambil sebelum Piala Dunia bergulir. Dan bukan cuma Ozil yang hadir diundang dan foto bersama oleh sang presiden. Hadir pula pemain tengah Manchester City, Ilkay Gundogan dan Cenk Tosun penyerang Everton. Kedua pemain ini juga memiliki keturunan Turki.

Hal ini sebenarnya udah tertutup rapat. Legenda timnas Jerman, Oliver Bierhoff menganggap kasus ini udah usai, agar Jerman bisa fokus di Piala Dunia. Namun puncaknya, ketika performa buruk Jerman di Piala Dunia dikaitkan dengan kasus Ozil. Apalagi, Presiden DFB (Deutscher Fußball Bund) atau federasi sepakbola Jerman, Reinhard Grindel berceloteh perihal ini. “DFB menghargai para pemain dengan latar belakang imigran. Namun DFB menganut nilai-nilai yang tidak dihormati oleh Tuan Erdogan. Tidak baik para pemain membiarkan diri untuk dimanfaatkan dengan tujuan kampanye,” ujarnya.

Selain itu, Ozil merasa bahwa masyarakat Jerman nggak mendukungnya. Mereka hanya menganggap pemain berusia 29 tahun itu ‘orang’ Jerman ketika tim menang. “I am German when we win, But I am an immigrant when we lose. Are the criteria for being fully German that I do not fit?”, ujarnya dalam twitter resmi Ozil. Kekesalan Ozil makin memuncak, dirinya mengaku selalu didesak Grindel untuk melakukan konferensi pers ke publik terkait fotonya dengan Erdogan.

II / III pic.twitter.com/Jwqv76jkmd

Bukan hanya itu, Presiden Bayern München Uli Hoeness malah menambah kisruh. Pria 66 tahun itu menganggap pensiunnya Ozil justru jadi hal baik untuk Jerman. “Dirinya bermain apik ketika Piala Dunia 2014. Dan sekarang dia bersembunyi di balik foto itu. Tak heran jika Bayern jumpa Arsenal, kami bermain di atas titik lemahnya,” ucapnya, duh kok begitu sih.

Eits tapi, agen Ozil Dr. Erkut Sogut dengan sigap mendukung kliennya. Sogut beranggapan presiden Bayern nggak punya dasar dalma dalam mengkritik. “Sebagai seorang Presiden Bayern Munchen, tidak kah yang terbaik fokus saja pada performa pemainnya sendiri. Delapan pemainnya bermain untuk timnas Jerman kan?” cetusnya dilansir diario as. Nah kan…

Tapi, kok malah jadi perang dingin gini, piye iki? Seharusnya kasus rasis seperti ini mbok ya diselesein secara damai kan, jangan sampai kasus tandukan maut Zidane kepada Marco Materazzi di Piala Dunia 2006 terulang deh. Eh tapi nasi udah jadi bubur ya, Ozil pun udah resmi pensiun dari tim nasional Jerman.

Related Articles
Sport
Shin Tae-yong, Ahjussi Korea Calon Pelatih Timnas Indonesia

Sport
Hasil Drawing Euro 2020: Perang Dingin Terjadi di Grup F

Sport
Pertama Di Eropa, Bundesliga Musim 2019/20 Pastikan Berlanjut Mulai 16 Mei