Opinion

Merasakan Sensasi Berkuliah di Queensland University of Technology

Helena Tipawael

Posted on July 24th 2018

 

Menjadi salah satu negara pencetak universitas kelas dunia, membuat Australia selalu laku jadi tujuan studi calon mahasiswa mancanegara. Tak terkecuali dari Indonesia. Soalnya, mereka menawarkan banyak program studi menarik. Belum lagi fasilitas lengkap yang menunjang perkuliahan dan mempermudah hidup para pelajar rantau. Seperti asrama untuk pelajar internasional yang berlokasi di dalam kampus atau kesempatan melakukan part time job. Duh, siapa coba yang nggak mau.

Beruntung tanpa perlu ngimpi kelamaan, di tahun 2017 aku berkesempatan mencicipi belajar kilat di Australia. Tepatnya di sebuah kampus di tengah kota Brisbane, yang juga merupakan universitas terbaik ke-12 di Australia. QUT namanya alias Queensland University of Technology.

Kuliah dua minggu yang kujalani ini berawal dari keikutsertaanku dalam lomba menulis esai bertema teknologi. Nggak kusangka, ide robot yang kutulis lolos seleksi. Aku pun harus menyampaikan ide itu di depan tiga profesor dari QUT yang didatangkan langsung lagi dari Australia. Dan singkat cerita, ketertarikan mereka atas ideku membuatku lolos ke dalam posisi tiga besar. Berangkat deh, ke Aussie! Wow, the surreal situation was really happening.

Jujur ya, pertama kali menginjakkan kaki di sana aku cuma bisa bengong. Takjub banget sama gedungnya yang berarsitektur bak kastil Eropa kuno. Artsy dan instagrammable banget! Ditambah lagi sama suasana kampus yang tenang dan asri. Nggak cuma mendukung mood tetap oke selama belajar, kondisi ini juga bikin aku nggak sabar buat mengeksplornya.

Selain dikelilingi pohon-pohon besar, QUT juga punya taman kampus yang superluas. Yang saking bersihnya, bikin para pelajar QUT doyan menghabiskan waktu di sana. Mulai dari nongkrong, baca buku, bahkan sekadar tidur-tiduran.

 

Untuk urusan fasilitas belajar, QUT melengkapinya dengan sejumlah showroom eksperimen berukuran luas. Ada showroom pembuatan robot, perakitan mobil, hingga studio film. Peralatannya profesional. Seperti studio filmnya yang memiliki green screen, lighting, audio, dan kawan-kawannya. 

Aku sempat merasa makin ndeso waktu mengikuti kelas Biologi. Meski pelajarannya berjalan serius-santai, praktikum kami nggak santai. Kami diberi project penelitian untuk membantu teman-teman di Afrika yang kekurangan bahan pangan dan lahan tinggal. Penelitiannya dilakukan di beberapa lokasi, mulai dari ruang terbuka hingga ruang isolasi. Pengerjaannya pun dibantu alat-alat canggih yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Selain urusan studi, hal yang juga aku pelajari di sana adalah urusan bersosialisasi. Senang banget bisa menambah koneksi. Tapi entah karena lebih dominan dipengaruhi budaya barat, teman-teman di Australia berpembawaan cenderung individualis. Jadi kesannya cuek dan jalan sendiri-sendiri. Lumayan berbeda dengan kondisi di Taiwan, tempatku belajar sekarang. Teman-teman di sini lebih hangat dan berkelompok. Bahkan terkesan bergantung satu sama lain.

Sebenarnya kedekatan antar teman seperti yang kurasakan sekarang ini memang baik. Banyak yang peduli kalau kita kenapa-kenapa dan bisa punya banyak kepala buat bertukar pikiran. Tapi salah-salah juga bisa jadi negatif. Apa lagi kalau pedulinya sering bersifat kepo, memanfaatkan, eh...terus kelepasan deh jadi bahan gosipan di tongkrongan. Kan malesin. Makanya itu nggak ada salahnya punya teman-teman ‘cuek’ supaya kita bisa lebih fokus sama tujuan.

Hal lain yang aku suka dari QUT adalah coffee shop-nya yang hanya berjarak 30 langkah dari gerbang masuk. Nggak cuma punya croissant enak—hi, croissant lover’s here!, tapi juga lengkap dengan live music yang bikin suasananya kayak di mall. Bikin betah buat brainstorming sama teman berlama-lama. Oh ya, aku juga suka kantinnya yang menyediakan menu masakan dari delapan negara. Benar-benar bikin pengin nyobain semuanya!

Lewat pengalaman belajar di Australia ini, wawasanku terbuka dan lebih menghargai perbedaan. Menyadarkanku kalau apa yang kutahu selama ini belum ada apa-apanya. Pengetahuanku masih sedikit karena teralu banyak hal baru di luar sana yang menunggu buat kupelajari. 

Teringat pada quote Aristotle yang diberikan seorang professor QUT, “The more you know, the more you know you do not know.”

Couldn’t agree more, Prof!

Related Articles
Opinion
Langkah Memilih Kuliah Biar Nggak Salah Arah

Opinion
Kuliah di Perikanan? Mau Jadi Apa?

Opinion
Uang Beasiswa Malah Buat Hedon?