Portrait

Hari Ibu Tanpa Seorang Ibu

Putri Indy Shafarina

Posted on December 21st 2018

DKI Jakarta – Hari Sabtu, 22 Desember 2018 ini adalah tahun ke 9 bagi Putri untuk melewatkan Hari Ibu tanpa ibu. Pun juga tahun ke 8 baginya untuk melewatkan Hari Ibu bersama bunda.

“Aku nggak punya kenangan Hari Ibu yang aku ingat bareng Ibu. Mungkin, karena saat itu aku masih kecil,” ujar Putri, kepada Mainmain pada Kamis (20/18).

Putri selalu diantar-jemput oleh Sang Ibu sejak pertama kali menginjak Taman Kanak-Kanak. Namun, rantai rutinitas tersebut harus terputus saat dirinya duduk di bangku kelas 3 SD.

“Dulu aku ikut banyak les, mulai dari Bahasa Inggris, matematika, sampai karate. Ibu nggak pernah absen buat antar-jemput aku. Bahkan, Ibu sering nungguin aku,” kata Putri menjelaskan.

Ibunya, Sari, adalah seorang ibu rumah tangga muda dengan dua anak. Ia tak pernah luput mengantar-jemput sang buah hati, meskipun harus sambil merawat dan menemani ibunya sendiri (nenek Putri) yang jatuh sakit sejak lama.

“Katanya, dulu aku deket banget sama Mace (panggilan Putri untuk nenek dari ibu). Mace udah kayak ibu kedua aku. Tanteku sering cerita, pas masih kecil banget aku nempel terus sama Mace,” cerita Putri sembari mengingat-ngingat cerita dari tantenya.

Mace adalah singkatan dari Oma Cerewet, sambung Putri, usulnya dari mana nggak tahu, aku lahir manggilnya udah langsung Mace. 

Zul, Nenek Putri, menutup usia pada tahun 2009, begitupun Ibunya. Putri cukup jelas mengingat kronologi kejadian di usianya yang masih kecil itu.

Pada tanggal 15 Agustus 2009, satu minggu menjelang Bulan Suci Ramadhan, Ibu Sari dan Putri harus ditinggal oleh sosok seorang ibu sekaligus nenek bagi mereka.

Nenek Zul telah lama menginap di salah satu rumah sakit di Jakarta karena kondisinya yang kian menurun. Beliau mengakhiri perjalanan hidupnya di rumah sakit tersebut.

 

Tepat pada hari ke-3 Bulan Ramadhan, tanggal 25 Agustus 2009, kini Ibu Sari yang meninggalkan.

Sekali lagi, Putri kembali ditinggal oleh sosok yang ia cintai.

Sekitar pukul 4 pagi, Ibu Sari masih terlelap di tempat tidur. Seharusnya, pukul segitu Putri sudah dibangunkan oleh ibunya untuk sahur.

“Kebetulan, hari itu aku kebangun sendiri. Aku ngintip, Ibu belum bangun. Ya sudah, aku tidur lagi, tunggu dibangunin sama Ibu. Di situ aku tidur-tidur ayam,” ujar Putri.

Kemudian, terdengar ketukan pintu kamar Keluarga Putri yang berada di lantai dua, membangunkan sahur. Sepertinya itu pembantu rumah tangga yang dimintai tolong untuk membangunkan kami sekeluarga oleh tanteku. Yang merespon ketukan pintu tersebut adalah Ayah Putri, Tri.

Nggak lama, aku dengar suara Ayah manggil nama Ibu, bangunin Ibu. ‘Sari, Sar. Sari,’ begitu terus agak lama. Dari ayah manggilnya lambat sampai cepat, dari ayah posisi tidur sampai duduk. Terakhir, ayah teriak manggil nama Om aku, di situ Ayah sudah neken-neken dada Ibu,” jelas Putri.

Keluarga belum sanggup mendahului takdir Tuhan untuk memutuskan, sehingga ibunya dilarikan ke rumah sakit.

Dokter pun memastikan, bahwa pagi itu, Ibu Sari telah pergi.

Tidak ada pertanda, tidak pula menderita sakit sebelumnya. Padahal, usianya masih tergolong muda, tapi Ibu Sari sudah harus menyusul ibunya sendiri yang 10 hari telah lebih dulu pergi.

“Orang-orang bilang, ibu itu orang baik. Meninggal saat Ramadhan dalam keadaan rapi. Aku harus jadi anak sholehah,” kata Putri.

“Saat itu, aku belum terlalu mengerti. Yang ada dipikiranku, ‘Mace udah nggak ada, ibu juga sama. Berarti angpao lebaran bakal berkurang, dong!’” kata Putri menyuarakan pikirannya waktu itu.

“Durhaka banget aku emang dulu. Tapi, aku sadar, bahwa aku memilih berpikir seperti itu untuk membuat diriku senang, melupakan kesedihan. Biar keluargaku yang lain, Om, Tanteku, nggak khawatir sama aku.”

Ia ingat, ibunya cukup sering pergi ke Pasar Mester Jatinegara pada siang hari untuk membeli keperluan kegiatan sekolah, kebetulan Ibu Sari merupakan orang tua yang aktif di komite. Putri selalu ingin ikut, tapi tidak diperbolehkan karena dirinya harus tidur siang.

“Aku nggak suka tidur siang. Kalau disuruh tidur, aku sering pura-pura tidur,” ujarnya sambil terkekeh.

Putri dan Dika ditinggal oleh ibunya di usia yang terlampau muda, Putri di kelas 3 SD, sedangkan Dika masih duduk di TK A. Orang di sekitar mereka menyarankan Ayah Tri untuk mencari pengganti kekosongan sosok ibu bagi anak-anaknya.

“Sekarang, aku ada Bunda. Malah, adikku sekarang 3, bukan 1 lagi. Jadi rame!” tutur Putri sambil memberikan cengirannya.

Putri mengaku, kalau dulu ia sering mengungkapkan rasa kasih sayang kepada Bunda Yani, ibu sambung Putri dan Dika, melalui banyak cara. Tidak hanya saat di hari ulang tahun atau Hari Ibu saja, tetapi hampir setiap hari. Seakan-akan, Putri dan Dika berlomba siapa yang memiliki rasa sayang paling besar kepada Bunda Yani.

“Dulu, aku suka kerajinan tangan. Jadi, bisa tiba-tiba Bunda pulang kerja aku kasih surprise. Aku pernah kasih kayak boneka kecil bentuk love warna biru dari kain flannel. Aku gunting-jahit sendiri, terus aku bungkus pake kotak jam tangan,” ceritanya.

Putri yang berumur masih 9 tahun waktu itu sangat berkebalikan dengan Putri yang sudah berumur 17 tahun. Sekarang, ia hampir tidak pernah mengekspresikan perasaannya seperti dulu lagi. Malu, sudah besar, katanya.

“Allah sayang sama aku. Walaupun, Ibu Sari disuruh pulang sama Allah, tapi Allah datengin Bunda Yani. Aku sangat bersyukur. Dan memang sudah seharusnya begitu.”

Related Articles
Portrait
Mbak Ambon dan Anak-Anak Indonesia

Portrait
Darryl Sebastian Sang Wakil Indonesia di NBA

Portrait
Rizky Faidan Sang Juara PES League Asia 2019 di Jepang!

Meet The Creator



Mainmain.id

Quote Of The Day

NGEJAR DISKON DIBELA-BELAIN BEGADANG SAMPAI PAGI, GILIRAN NGEJAR SI DOI SAMPE DEPAN GANG UDAH PUTER BALIK LAGI