Opinion

Maaf, Sekadar Mengingatkan

Perduli atau cuma nyinyir?

Dzaki Aribawa

Posted on December 17th 2018

Maaf maaf nih, cuma ngingetin aja kok (ilustrasi: azamraharjo)

Kita bangsa Indonesia dari dulu emang terkenal sebagai sebuah bangsa yang santun dan nggak enakan banget. Nggak percaya? Pantun, karya sastra lama itu, kalau kalian perhatikan bagian sampirannya (dua baris pertama) adalah bentuk “basa-basi” sebelum isi pantunnya yang berisikan anjuran atau nasihat di dua baris terakhir.

Sekarang, sekalipun kita udah nggak pernah ngobrol pakai pantun, bentuk “basa-basi” nya masih ada, tapi ditaruh di akhir kalimat dan berbunyikan “Maaf, sekadar mengingatkan.”  

Di salah satu twitnya, ahli linguistik Bahasa Indonesia, Ivan Lanin menjadikan kalimat : “Maaf, sekadar mengingatkan.” menempati posisi pertama di kalimat yang akan dikenang banyak orang tahun di tahun 2018.

Dikutip dari kumparan.com, konten meme yang berisikan kalimat “Maaf, sekadar mengingatkan.” adalah kalimat yang sering dilontarkan oleh segelintir orang untuk menegur siapapun yang tidak memakai kerudung. Kalimat itu biasanya ditaruh di akhir kalimat teguran dan biasanya disertai dengan emoticon dua tangan.

Kalau dilihat-lihat sih sebenarnya nggak ada yang salah kan dengan kalimat itu? Wong hanya mengingatkan?  Tapi kok banyak warganet yang tersinggung ya kalau di-komen begitu. Seharusnya nggak usah kesel dong, kita sebagai orang Indonesia itu mestinya bangga lho dengan hal kayak gini. Nah loh bingung kan? Coba kalian ingat-ingat, di sekolah, waktu pelajaran PPKN, kita diajarin kalau globalisasi dan teknologi membuat orang Indonesia jadi orang yang individualistis dan apatis sama sekitarnya

Nah! lewat komen-komen kayak gitu, sebenarnya para warganet itu kembali pada fitrahnya sebagai orang Indonesia yang peduli dan bergotong royong menuju kebaikan. Ya kan?

Eitts belum selesai, tapi disini kita justru sering bertemu dengan pemandangan yang bikin kita kesel sekaligus geleng-geleng. Karena merasa sedang (hanya) memberikan imbauan atau saran, banyak warganet yang merasa bahwa pendapatnya tidak punya celah untuk ditentang.

Kalau lihat yang kayak gitu, akhirnya kita suka mikir dia itu mau mengingatkan atau cuma nyinyir sih?

Yah mau gimana lagi, jangan-jangan karena para publik figur itu sudah terlanjur sensitif kalau mau dikritik sama para nyinyirers, mereka harus mencari inovasi baru supaya kritik nya tidak bisa disalahkan dan semakin kuat bobot nya. Akhirnya, berselimutlah keinginan jahat untuk nyinyirin orang dengan selimut cantik yang bernama kepedulian. Lalu secara spontan munculah kalimat “Maaf, sekadar mengingatkan.”

Tapi yang benar-benar kita harus ingat, masih banyak kok orang-orang yang mengingatkan atas dasar kepedulian. Kalo kalian nggak percaya, coba aja bertindak onar di depan orang tua kalian, niscaya mereka akan mengingatkan kalian, bukan karena mereka mau nyinyirin anaknya, tapi karena mereka peduli sama kalian.

Akhirnya kita nggak bisa menemukan kesimpulan pasti dari apa keinginan seseorang dibalik apa yang ia lakukan. Satu-satu nya hal yang bisa kita kontrol, ya cuma diri kita sendiri. Kalau kata sufi, Jalaluddin Rumi, “Kemarin aku pintar, jadi aku ingin mengubah dunia. Hari ini aku bijak, aku hanya ingin mengubah diriku”

Related Articles
Interest
Makanan Viral yang Mungkin Akan Musnah di 2019!

Opinion
Ini dia Tipe Penonton Waktu Nobar Piala Dunia

Opinion
Gemuruh itu Bagaikan Musuh

Meet The Creator



Mainmain.id

Quote Of The Day

NGEJAR DISKON DIBELA-BELAIN BEGADANG SAMPAI PAGI, GILIRAN NGEJAR SI DOI SAMPE DEPAN GANG UDAH PUTER BALIK LAGI