DBL

The Journey of AZA Shoes

Mainmain.id

Posted on December 12th 2018

Tak terasa, sejak 2009 hingga 2018 sudah ada lima AZA Shoes yang diproduksi masal dan kelimanya sangat diterima masyarakat. Tak hanya terjangkau, sepatu basket tersebut juga memiliki kualitas yang tak kalah dengan sepatu di pasaran. Inilah sedikit cerita bagaimana AZA Shoes berkembang.

Semua berawal dari tahun 2009. Kala itu, Azrul Ananda, CEO dan Founder DBL Indonesia yang sedang meeting bersama Prajna Murdaya, Bos Grup Berca memberikan sebuah penawaran secara tiba-tiba berupa dua pasang sepatu bermerk League. Sepatu tersebut memiliki dua warna yaitu putih polos dengan aksen jahitan biru, satu lagi hitam polos dengan aksen jahitan emas dengan logo DBL di belakangnya lengkap beserta Azrul Ananda dan tanda tangannya. Desain ini seolah menggambarkan memulai segalanya dengan kertas kosong yang siap digambar menjadi lebih sesuatu yang besar.

Melihat antusiasme yang besar, kolaborasi pun berlanjut ke sepatu yang kedua. Bernama League Pure Player Ltd AZA, sepatu ini menggambarkan identitas DBL Indonesia dengan warna biru tua. Unsur itu semakin kuat dengan logo si Det (maskot Honda DBL berwujud anjing bertelinga panjang kala itu) berwarna jingga.

Hijau. Warna inilah yang membuat sepatu ini punya banyak cerita. Hijau selalu menjadi identitas warna olahraga yang ada di Jawa Timur khususnya Surabaya. Jika Jika edisi pertama putih dan hitam polos sebagai simbol awal yang bersih, kemudian yang kedua biru dan oranye sebagai warna asli DBL, edisi ketiga ini menggambarkan perjalanan hidup Azrul Ananda yang tinggal di Surabaya dengan warna dominasi hijau dan kampus tempat kuliahnya dulu, California State University, Sacramento.

Di edisi keempat yang dirilis tahun 2012, Hyper Drive 2 Low AZA menjadi sepatu kolaborasi terakhir DBL Indonesia dengan League. Sepatu dengan warna hitam berpadu ungu tersebut menjadi sepatu ditunggu oleh banyak penggemar basket kala itu. Bukan tanpa alasan, warna sepatu ini terinspirasi oleh kesukaan Azrul Ananda terhadap salah satu tim basket NBA, Sacramento Kings yang memiliki warna khas berupa ungu.

Selama penyelenggaraan Honda DBL di berbagai kota, sepatu seolah menjadi penghalang para pebasket muda untuk mengembangkan bakatnya. Akhirnya, DBL Indonesia bertemu dengan partner baru yang juga berpusat di Surabaya, Ardiles. Keduanya memiliki tujuan yang sama yaitu membuat sepatu basket yang berkualitas tinggi, keren, tapi dengan harga terjangkau. Untuk menghancurkan penghalang, untuk memudahkan semakin banyak anak Indonesia bermain basket.

Kala membuat Sepatu ini, DBL Indonesia menekankan bahwa harga harus dibawah Rp 500 ribu. Tantangan itu pun langsung dijawab dengan spektakuler. Ardiles akan mematok sepatu dengan harga dibawah Rp 400 ribu. Akhirnya, terlahirlah AZA 5 di penghujung 2017 dengan harga Rp 349 ribu.

Tak hanya rilis, sepatu ini seolah menjadi penghancur penghalang dalam bermain basket. hal ini terbukti dari tingginya penjualan sepatu ini. Bahkan, kota-kota kecil di beberapa provinsi, AZA 5 Bisa ditemukan di toko-toko “tradisional” di pinggir jalan.

Tak lama setelah AZA 5 Rilis, DBL Indonesia dan Ardiles langsung move on dan mengembangkan project baru yang bernama AZA6. Sebuah evolusi pun muncul di produk kedua DBL Indonesia bersama Ardiles dalam sepatu basket tersebut. selain bisa untuk basket, sepatu ini juga memiliki konsep yang wearable dan nyaman digunakan di berbagai kegiatan. Karena, tidak semua orang/anak bisa atau mampu membeli lebih dari satu sepatu.

Dengan kenaikan kelas tersebut, DBL Indonesia dan Ardiles juga tetap memasang sebuah “batas” dalam pembuatan sepatu ini. Yaitu tidak lebih dari Rp 500 ribu. Dalam tulisan Mimpi Sepatu Aza yang ditulis oleh Azrul Ananda, Ia berharap AZA 6 harus mendorong lagi industri olahraga Indonesia, sambil terus mendorong partisipasi basket untuk berbagai kalangan.

 

 

Artikel Terkait
DBL
Catatan Azrul Ananda: Mimpi Sepatu Aza

DBL
Penantian Berbuah Manis di Peluncuran AZA 6

DBL
Pride2 Lengkapi Line-up DBL x Ardiles Shoes