Opinion

Bersekolah Tiga Tahun, Worth it kah?

Ristania salsabila putri

Posted on June 7th 2018

            Sebagai seorang pelajar, di sekolah pasti diajarin berhitung dong. Nah sekarang, Let’s count! Mulai dari SD, kita bersekolah selama 6 tahun. Terus dilanjutkan dengan belajar di bangku SMP, selama 3 tahun dan kemudian mengenyam pendidikan di taraf SMA selama 3 tahun. Hmm... jadi totalnya berapa hayoo? 12 tahun! Wow banget kan! Tapi, menurut aku, yang paling penting adalah saat kita berada pada masa SMA. Kenapa, tuh? Karena SMA, adalah penentu akan kemana kita selanjutnya, sebelum akhirnya fokus pada satu bidang aja.

Banyak banget yang bilang, kalau masa-masa terindah itu adalah masa SMA. Aku pribadi sih setuju. Tapi, selama ada siang ada juga malam. Mereka berjalan beriringan saling berganti mengisi hari. Kayak kamu sama aku tuh (uhuy). Tugas yang banyak dan numpuk, ulangan harian yang mendadak, apalagi kalau ada “kerja kelompok” rasa “kerja keras sendiri” jadi momen-momen yang paling menyebalkan. Duh! Tapi biar gimana pun, semua itu emang harus dijalani sih untuk melewatinya, eaa. Kalau kalian sendiri, ngerasain kaya gitu nggak?

Selama menjadi seorang pelajar SMA, kadang aku masih sering dibingungkan dengan apa yang aku pelajari. Kenapa sih harus belajar mata pelajaran yang sedikit pun aku nggak suka? Ngelirik aja nggak, apalagi tertarik! Ditambah lagi, kita harus menghadapi berbagai macam tipe guru. Nih ya, kalau udah nggak suka matpelnya plus gurunya killer, wah badtrip banget sih. Belajar sekeras apapun tetep aja ngejelimet diotak, setuju nggak?

Sering kali dibikin kesel sendiri, kenapa parameter kepandaian dan kecerdasan seseorang selalu dilihat berdasarkan nilai. Kalau kitanya memang nggak punya passion dan ketertarikan di matpel tersebut, kenapa kita wajib dituntut untuk dapet nilai sempurna? Ibaratnya nih, kita menilai kepiawaian seekor ikan dinilai dari kecepatanya naik ke atas pohon dan menilai kepandaian seekor Gajah berdasarkan kelincahannya berenang melewati selat Malaka.

Selama 3 tahun sekolah, aku merasa nggak mendapatkan basic yang mumpuni untuk bekal di Perguruan Tinggi nanti. Memilih jurusan kuliah aja sulitnya bukan main, belum lagi resiko yang harus ditanggung karena kecemplung di satu jurusan yang salah. Masih kurang familiarnya kita sama passion dalam diri, usut punya usut jadi penyebab utamanya. Habis, di sekolah semuanya dipelajarin sih, jadinya nggak ada yang bener-bener kita kuasain deh.

From me or maybe from us, sekolah 3 tahun akan menjadi percuma bila hanya memaksakan diri memenuhi tuntutan yang bertolak belakang dengan keinginan dan passion pribadi. Jika kita fokus sama yang kita cintai, aku yakin kita hasilnya akan lebih maksimal. Karena, aku selalu percaya “Setiap anak diahirkan dengan bakat yang berbeda”. So, is it worth it or not?

Related Articles
Opinion
Beratnya Menjadi Kelas Sulung di Sekolah

Current Issues
Murid Kelas 3 SMA di Korea Selatan Akhirnya Kembali Masuk Sekolah

Opinion
Sekolah Tanpa PR?!