Interest

Telusur Jejak Toleransi Beragama di Jalur Historis Semarang

Geby Namira M

Posted on November 16th 2018

 

Sebagai kota pesisir yang menjadi melting point beragam budaya dan keyakinan, Semarang bisa menjadi contoh bahwa suatu perbedaan bisa berjalan harmonis dalam waktu panjang. Kita bisa melihatnya pada suatu jalur wisata kota lama di Semarang yang menjadi bukti akan hal itu. Seperti apa? Yuk, kita cari tahu sama-sama.

Di suatu kawasan pinggir kali kota lama Semarang, atau tepatnya di jalan Layur, Dadapsari alias Kampung Melayu, ada satu masjid tua yang berdiri dengan aksen Arab-Melayu. Namanya Masjid Layur. Dibangun pada tahun 1802, masjid ini memiliki menara khas berlanggam Arab-Melayu yang dulu pernah berfungsi sebagai mercusuar. Kenapa mercusuar? Karena dulu di kali ini merupakan jalur lalu lintas perahu yang meramaikan perdagangan. Tetapi nggak cuma dari segi arsitektur, aksen Melayu juga diadaptasi dalam kebiasaan di masjid ini. Seperti area ibadah laki-laki dan perempuan yang benar-benar terpisah, seperti kebiasaan orang Melayu. Sebab katanya, laki-laki dan perempuan itu pamali kalau berada di satu ruangan.

 

Nah, selain Masjid Layur, tak jauh dari sana juga ada Katedral Gedangan atau Gereja Katolik St. Yusuf. Mengingat di kawasan ini dulu banyak orang Belanda yang menganut Protestan, keberadaan katedral yang merupakan tempat ibadah umat Katolik ini tentu menjadi aneh. Kok bisa ya?

Bisa dong. Karena saat Belanda masih menduduki Indonesia, Belanda sendiri sempat berada di bawah pengaruh Prancis yang menganut Katolik. Bahkan Deandels yang pernah menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda pun seorang Katolik. Itulah kenapa bisa ada katedral di kawasan ini.

Selain menjadi asal salah seorang romo yang sangat berpengaruh, Soegijopranoto, katedral ini juga sempat menjadi panti asuhan dan tempat penitipan anak-anak pekerja Romusha yang dikirim ke Burma (Myanmar) di masa penjajahan Jepang.

 

Masih di sekitar kawasan kota lama Semarang, ada pula gereja ikonik yang pasti kamu lihat kalau berkunjung di sana, yakni Gereja Blenduk. Disebut begitu karena atap gereja berbentuk bulat seperti kubah. Dibangung pada tahun 1753, Gereja Blenduk menjadi bangunan paling tua di kawasan kota lama.

Oh ya, di dalam gereja ini masih ada orgel (alat mirip piano) kuno loh. Jika dulu pernah digunakan sebagai pelengkap peribadatan umat Protestan, atas alasan usia, ia kini tidak dioperasikan lagi.

 

Lalu selanjutnya kita akan kembali bertemu masjid. Jika Masjid Layur kental dengan suasana Arab-Melayunya, Masjid Jami Pekojan ini cenderung bernuansa ‘semi-India’. Sebab para pendirinya berasal dari Koja (Pakistan) yang memiliki kultur sangat dekat dengan India.

Lucunya, masjid yang dibangun pada tahun 1800-an ini berada di sekitar area Pecinan. Tetapi jika waktu Ramadan tiba, hidangan takjil yang disediakan tetap berupa bubur khas India.

Jejak Koja juga bisa kamu pada makam-makam para ulama bernama khas Pakistan yang masih ada di sana. Juga pada pohon bidara tua yang masih berdiri kokoh di sana. Katanya, ia ada di sana karena dibawa langsung oleh orang-orang Koja terdahulu.

 

Terakhir, di kawasan kota lama juga ada Klenteng Tay Kak Sie yang nggak kalah menarik sama Klenteng Sam Po Kong. Dibangun pada tahun 1746, klenteng ini awalnya dipakai untuk tempat pemujaan Yang Mulia Dewi Welas Asih, Koan Sie Im Po Sat. Tapi seiring berjalannya waktu, klenteng ini pun berkembang menjadi tempat pemujaan berbagai Dewa Dewi dari aliran Tao maupun Konfusianisme.

Selain arsitekturnya yang khas, satu hal yang makin membuat klenteng ini menarik adalah area di sekitarnya. Ya, apa lagi kalau bukan kawasan Pecinan yang menjadi surganya makanan itu. Setiap kamu ke sini, jangan lewatkan mencoba lunpia legendarisnya ya. Yakni Lunpia Gang Lombok.

 

Gimana, menyenangkan bukan bisa jalan-jalan sambil belajar sesuatu? Ternyata, sesuatu yang berbeda bisa sangat menyenangkan ya jika berjalan berdampingan. Kalau di tempat tinggalmu, ada cerita sejenis juga nggak? Share, dong!

Artikel Terkait
Interest
Semarang Terpilih sebagai Destinasi Wisata Terbersih di Asia Tenggara

Interest
Banyuwangi Tak Melulu Kawah Ijen, 5 Destinasi ini Juga Wajib Masuk Bucketlist-mu

Interest
Khofifah Siap Pamerkan Keajaiban Dunia di Jawa Timur Sepanjang 2020