Pop-Sci

Suka Berbohong? Hati-Hati, Psikologimu Gangguan!

terus lama-lama jadi Pinocchio

Nizar Fahmi

Posted on November 14th 2018

Rasanya mustahil jika di dunia ini ada manusia yang terlahir dengan keadaan tidak pernah berbohong sama sekali. Sebagai bentuk untuk mempertahankan diri, berbohong akhirnya dilakukan oleh siapapun. Awalnya sih coba-coba, tapi efeknya bagaikan narkoba. Bikin ketagihan, cuy!

Percaya atau tidak, manusia mulai suka berbohong disaat dirinya telah memasuki usia 3 atau 4 tahun. Dr. Miriam Stoppard yang merupakan seorang dokter keluarga ternama di Inggris, menyatakan hal tersebut pada bukunya yang berjudul Family Healt Guide. Menurut Dr. Miriam, kebohongan pertama seorang manusia muncul pada saat ia dimarahi oleh sang ibu atau ayah ketika masih kecil. Misalnya sewaktu mencoret tembok atau memecahkan sesuatu.

Hanya saja, kebiasaan tersebut sebenarnya bisa diatasi jika edukasi mengenai bahayanya berbohong mulai diberikan sejak dini, lho. Bukan malah dibiarkan begitu saja. Itulah mengapa manusia (termasuk saya juga kok, hehe) sering tumbuh tanpa memperdulikan efek yang akan terjadi ke depannya. Diri kita secara perlahan mulai membenarkan kesalahan yang seharusnya tidak terjadi.

Kalau dibiarkan, hati-hati, psikologis diri bisa terserang mythomania atau yang dikenal dengan sebutan kebohongan patologis. Seseorang yang mengidap mythomania biasanya tidak cuma berbohong terhadap orang lain, tapi juga akan berbohong terhadap dirinya sendiri. Ia secara tidak ragu akan meyakini kebohongan yang dilakukannya sebagai suatu kebenaran. Parahnya lagi, tak jarang dari mereka sadar bahwa mereka tengah berbohong. Because they will think like “it’s normal”.

Lalu sebenarnya mengapa manusia berbohong? Atau lebih tepatnya, mengapa seorang manusia bisa mengidap mythomania tersebut?

Dilansir dari AntaraNews, seorang Psikolog, Ratih Zulhaqqi, menjelaskan bahwa manusia yang mengidap kebohongan patologis ialah mereka yang kerap tidak memiliki kepercayaan diri. Untuk membuat dirinya terlihat lebih baik, akhirnya berbagai bentuk kebohongan pun dilakukan tanpa pandang bulu, berulang kali, gengs! Selain itu, orang yang susah menerima kenyataan pun diyakini bisa terkena mythomania lho.

Tidak hanya masalah psikologi saja yang didapatkan oleh orang-orang yang suka berbohong. Ternyata, kesehatan otak juga bisa terganggu. Seperti kata Arthur Markman, PhD., seorang psikolog, jika kita berbohong maka akan ada banyak hal yang dilakukan oleh tubuh kepada otak. Tubuh akan melepaskan hormon steroid yang ada pada otak, sehingga otak bekerja lebih keras dibandingkan kondisi biasanya. Kondisi ini hanya untuk menentukan apakah suatu hal yang ingin dilontarkan masuk dalam kategori kebenaran atau kebohongan.

Butuh waktu kurang lebih 10 menit bagi otak untuk melakukan hal tersebut. Akhirnya, kemarahan pun tercipta dan berujung kegelisahan karena takut kebohongan yang dilakukan terbongkar. Jika dilakukan terus-menerus, otak kita bisa stress!

Nah, jadi kamu masih sering mau bohong? Kurang-kurangi lah cuy, biar dosa juga nggak nambah terus.

Related Articles
Interest
Selamat Datang Di "Post Truth Era"

Pop-Sci
Nilai Sekolah Nggak Menentukan Masa Depan!

Pop-Sci
Beli Buku Tapi Kok Malah Nggak Dibaca?

Meet The Creator



Mainmain.id

Quote Of The Day

NGEJAR DISKON DIBELA-BELAIN BEGADANG SAMPAI PAGI, GILIRAN NGEJAR SI DOI SAMPE DEPAN GANG UDAH PUTER BALIK LAGI