Current Issues

Kisah Tambora dan Perang Napoleon

Cakra Ajie

Posted on November 13th 2018

Indonesia memiliki sederetan gunung yang telah dikenal dunia berkat kedahsyatannya. Satu di antaranya adalah Gunung Tambora, gunung berapi stratovolcano yang masih aktif dan terletak di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Letusannya yang terjadi pada 5 April 1815 menjadi satu di antara bencana paling dahsyat di dunia.

Karena dahsyatnya letusan ini, gunung Tambora yang mulanya menjulang setinggi 4.300 mdpl menjadi terpangkas sampai tersisa setinggi 2.772 mdpl. Ledakan terdengar hingga 2.600 kilometer jauhnya, dan abunya jatuh setidaknya sejauh 1.300 kilometer. Kala itu di lereng Tambora, ada tiga kerajaan yang tercatat yaitu Kerajaan Tambora, Kerajaan Sanggar, dan Kerajaan Pekat yang semuanya musnah karena letusan Tambora. Kerajaan Bima sendiri turut mencatat peristiwa mahadahsyat ini seperti tertuang dalam naskah kuno Bo Sangaji Kai.

Sebagai dampak dari puncak letusan itu, tsunami menerjang berbagai pulau di Indonesia. Tercatat, di wilayah Sanggar tsunami menerjang setinggi 4 meter dan di Besuki Jawa Timur tsunami terjadi setinggi 2 meter (terjadi sebelum tengah malam). Beberapa pulau di Kepulauan Maluku juga merasakan tsunami itu. Dan menurut data U.S. Geological Survey jumlah korban tewas diperkirakan sebanyak 4.600 jiwa.

Bagi bumi, letusan Tambora berdampak terhadap perubahan iklim global lantaran sulfur dioksida yang turut lepas ke lapisan stratosfer. Musim semi tahun 1815 menjadi terganggu karena debu-debu dan kandungan yang dibawa tertiup angin bergeser ke langit Eropa, Amerika, dan lainnya.

Clive Oppenheimer, dalam tulisannya berjudul Climatic, Environmental and Human Consequences of the Largest known Historic Eruption: Tambora Volcano (Indonesia) 1815, menyebut kabut kering terlihat dari timur laut Amerika Serikat. Hal ini terus berlanjut hingga musim panas 1815. Sementara di belahan bumi utara, letusan Tambora membuat kondisi cuaca ekstrem hingga disebut peristiwa Tahun Tanpa Musim Panas pada 1816, karena Eropa menjadi gelap.

Suhu global menurun sekitar 0,4 sampai 0,7 derajat celsius akibat kabut kering yang menyelimuti bumi. Pertanian yang seharusnya mendapat paparan sinar matahari di musim semi menjadi gagal panen di India dan timbul wabah kolera di Bengal pada 1816. Tifus menyerang wilayah Eropa tenggara dan timur Mediterania antara 1816 sampai 1819.

Letusan Gunung Tambora ternyata juga berpengaruh terhadap sejarah Eropa. Pada musim semi 1815 di langit Eropa, cuaca tak wajar terjadi. Ditandai hujan lebat disertai badai. Lazimnya, hujan apalagi disertai badai sudah tidak ditemui lagi ketika akan memasuki musim semi yang kaya sinar matahari.

Di saat bersamaan, pada 18 Juni 1815, Napoleon melakukan perang penting mewakili Kekaisaran Prancis melawan lima koalisi kekaisaran Eropa. Pertempuran sengit yang berlokasi di Waterloo ini kemudian jadi babak akhir dari kiprah Napoleon Bonaparte. Pasukannya kalah. Di antara sederet analisis kekalahan perang, cuaca ekstrem akibat Tambora di atas menjadi penyebabnya.

Menurut Dr Matthew Genge dari Imperial College London yang melakukan penelitian tentang Tambora, abu vulkanik letusan Tambora dialiri listrik dan dapat memendekkan arus listrik ionosfer—lapisan atas atmosfer yang bertanggung jawab dalam pembentukan awan. Akibatnya, terjadilah pembentukan awan yang kemudian diikuti dengan hujan lebat di seluruh Eropa dan menyebabkan kekalahan Napoleon Bonaparte. Studi yang dipublikasikan di jurnal Geology ini, menunjukkan bahwa letusan gunung berapi dapat menghempaskan abu jauh lebih tinggi dari yang diperkirakan sebelumnya, yakni mencapai sekitar 100 kilometer di atas permukaan tanah.

"Sebelumnya para ahli geologi mengira abu vulkanik terperangkap di atmosfer yang lebih rendah. Namun penelitian saya menunjukkan bahwa abu dapat naik ke lapisan lebih tinggi melalui kekuatan listrik," kata Genge dilansir Science Daily.

Para sejarawan sebenarnya sudah sejak lama mengetahui bahwa Napoleon Bonaparte dikalahkan tentara sekutu lantaran kondisi cuaca buruk. Medan perang menjadi berlumpur akibat turunnya hujan deras yang membantu gerakan tentara sekutu untuk mengendap-endap dalam medan yang basah.

Wah, kalau ada yang tanya pengaruh Indonesia di dunia itu apa, mungkin meletusnya Tambora bisa menjadi salah satu buktinya. Hehe~

Related Articles
Current Issues
15 Tahun Lalu Gempa dan Tsunami Dahsyat di Aceh Tewaskan 170 Ribu Orang

Interest
Waspada! BMKG: Tren Gempa Bumi Tahun Ini Meningkat

Tech
Ilmuwan Kembangkan Alat Pendeteksi Tsunami  Tercepat Berbasis AI