Portrait

Perjalanan Ferian Menjadi Duta Generasi Remaja Indonesia Emas

Mainmain.id

Posted on November 12th 2018

Berawal dari mengikuti organisasi Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-Remaja) yang ada di kampungnya, Ferian meraih juara satu dalam ajang pemilihan Duta GenRe (Generasi Berencana) Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2018. Posisi ini membuatnya otomatis menjadi perwakilan provinsi dalam Pemilihan Duta GenRe Indonesia 2018 yang berlangsung di Jakarta belum lama ini.

Diprakarsai oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), gerakan GenRe ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman mengenai perencanaan pendidikan, berkarir secara terencana dan perencanaan kehidupan berkeluarga. Sasaran program ini adalah remaja, yaitu mereka yang berusia 10 hingga 24 tahun. Melihat rentang usia tersebut, program GenRe di sebarluaskan melalui jalur masyarakat dan jalur pendidikan. Melalui jalur masyarakat, BKKBN membentuk PIK-Remaja. Sedangkan melalui jalur pendidikan, BKKBN membentuk PIK-Mahasiswa. 

Sebagai bagian dari PIK-Remaja, Ferian diharuskan memahami empat substansi yang menjadi roda kegiatan. Pertama mengenai kependudukan dan pembangunan keluarga, kedua terkait kesehatan reproduksi remaja, ketiga mengenai keterampilan hidup, dan keempat tentang perencanaan kehidupan berkeluarga. 

Di aspek yang pertama tersebut, Ferian harus mengerti mengenai konsep bonus demorafi, yakni suatu kondisi di mana usia produktif (15-64 tahun) lebih banyak dibandingkan dengan usia non produktif(di bawah usia 15 tahun dan di atas usia 64 tahun). Sedangkan terhadap aspek kedua, Ferian harus mengetahu masalah-masalah seksualitas selama masa puber, keterkaitannya dengan HIV dan AIDS, juga masalah NAPZA. Harapannya, Ferian bisa menjadi agen pengingat bagi rekan-rekan sebaya tentang pentingnya memiliki awareness terhadap hal tersebut.

Selain terus membekali diri dengan kemapuan public speaking yang berguna dalam sosialisasi program yang dilakukannya, slama bergabung dalam aktivitas ini Ferian mengaku juga jadi lebih perhatian terhadap kasus pernikahan dini di Indonesia. Sehingga ia berusaha menyebarkan kepedulian kepada lingkungan di sekitarnya untuk meminimalisasi kasus tersebut lewat program PUP (Pendewasaan Usia Perkawinan).

“Usia minimal menikah bagi perempuan adalah 21 tahun dan bagi laki-laki 25 tahun. Pertimbangan ini bukan semata-mata karena aspek fisik saja. Namun juga terkait aspek psikologis dan ekonomi,” sebut Ferian.

Dalam menghadapi pemilihan Duta GenRe Indonesia 2018, Ferian berusaha sebaik mungkin dalam menyiapkan diri. Seperti membekali diri dengan lebih banyak pengetahuan, merancang program sosialisasi yang lebih inovatif, dan tentunya membuat media kampanye PUP semenarik mungkin.

“Pada masa karantina di Jakarta, saya dapat banyak ilmu. Mulai dari mengenai kependudukan di Indonesia, kondisi remaja, kelas public speaking dari CNN, materi mengenai State World of Population dari UNFPA, belajar menari nusantara, dan dari semua itu hal yang terpenting adalah belajar kedisiplinan. Bagaimana kita bisa mengatur waktu dengan baik dan tertib mengikuti segala acara yang telah disusun,” ungkap remaja yang ingin mengimplementasikan nilai-nilai Sustainable Development Goals PBB ini.

Tak ingin hanya menjadi ajang yang mencetak role model baru bagi remaja di Indonesia, Ferian berharap ajang GenRe mampu mencetak remaja-remaja yang produktif dan sanggup menjadi bagian dari Indonesia Emas di masa mendatang.

Gimana, apa kamu juga tertarik mengikuti jejak Ferian?

Artikel Terkait
Portrait
Mbak Ambon dan Anak-Anak Indonesia

Sport
Hore! Atlet Indonesia Rebut Medali Emas di Piala Dunia Panjat Tebing 2021

Portrait
Ligamen Sobek, Irsyad: “Gue bisa ke lapangan lagi!”