Tech

Implan Otak dan Tulang Belakang Dapat Membantu Orang Lumpuh Berjalan Kembali

Dwiwa

Posted on May 25th 2023

Perkembangan  teknologi di dunia kedokteran semakin maju. Penyakit yang dulu mungkin sulit untuk disembuhkan, kini mulai ditemukan obatnya. Bahkan, sebuah inovasi terbaru mampu mempuat seorang pria yang mengalami kelumpuhan kaki selama belasan tahun bisa berjalan lagi.

Dilansir dari CBS News, pria asal Belanda berusia 40 tahun yang mengalami cidera sumsum tulang belakang 12 tahun lalu kini bisa berjalan berkat simulator yang ditanamkan di otak dan sumsum tulang belakangnya.

Menurut sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Nature, brain-spine interface (BSI) tetap stabil selama satu tahun dan memungkinkan Gert-Jan Oskam berdiri, berjalan, menaiki tangga dan melintasi medan yang kompleks. Oskam bahkan mendapatkan kembali kendali atas kakinya saat BSI dimatikan.

Oskam yang pernah mengalami kecelakaan di Tiongkok ini sebelumnya berpartisipasi dalam uji coba yang dilakukan oleh Grégoire Courtine, seorang ahli saraf di Swiss Federal Institute of Technology, yang juga mengerjakan penelitian baru ini. Pada tahun 2018, tim Courtine menemukan bahwa teknologi dapat merangsang tulang belakang bagian bawah dan membantu orang dengan cidera tulang belakang berjalan kembali. Setelah tiga tahun, peningkatan Oskam stagnan.

Versi sebelumnya yang digunakan oleh Gert-Jan Oskam membantunya berdiri dan melangkah, tetapi hanya bisa terjadi seteah menekan tombol untuk mengaktifkan perangkat.  Tetapi dengan sistem baru, dia hanya perlu memikirkan untuk berjelan sebelum bisa melakukannya.

Menurut Courtine, stimulasi dari kedua titik membangun kembali komunikasi antara otak dan area sumsum tulang belakang yang mengontrol gerakan kaki. Ini memungkinkan proses berjalan lebih alami.

Dalam studi terbaru ini, tim peneliti memulihkan komunikasi antara otak Oskam dan sumsum tulang belakang dengan jembatan digital. Untuk membangun jembatan digital ini, diperlukan dua jenis implan elektronik.

Dilansir dari CHUV, sebuah perangkat ditanam pada area otak yang bertanggung jawab untuk mengontrol gerakan kaki. Perangkat tersebut memungkinkan untuk memecahkan kode sinyal listrik yang dihasilkan oleh otak saat kita berpikir tentang berjalan. Peneliti juga menempatkan neurostimulator yang terhubung ke susunan elektroda di atas area sumsum tulang belakang yang mengontrol gerakan kaki.

Guillaume Charvet, kepala program BCI di CEA, menambahkan, berkat algoritme berdasarkan metode kecerdasan buatan adaptif, niat gerakan diterjemahkan secara real time dari rekaman otak. Keinginan ini kemudian diubah menjadi rangkaian rangsangan listrik pada sumsum tulang belakang, yang pada gilirannya mengaktifkan otot kaki untuk mencapai gerakan yang diinginkan.Jembatan digital ini beroperasi secara nirkabel, memungkinkan pasien untuk bergerak secara mandiri.

Oskam berpartisipasi dalam 40 sesi neurorehabilitasi selama penelitian. Dia mengatakan dirinya sekarang bisa berjalan setidaknya 100 meter atau lebih sekaligus, tergantung hari.

"Kami telah menangkap pemikiran Gert-Jan, dan menerjemahkan pemikiran ini menjadi stimulasi sumsum tulang belakang untuk mengembalikan gerakan sukarela," kata Courtine.

Para peneliti mengatakan pengembangan selanjutnya adalah mengecilkan perangkat keras yang diperlukan untuk menjalankan antarmuka. Saat ini, Oskam membawanya dalam tas punggung. Para peneliti juga bekerja untuk melihat apakah perangkat serupa dapat mengembalikan gerakan lengan.

Dalam beberapa dekade terakhir, ada sejumlah kemajuan dalam perawatan cidera tulang belakang. Sebuah studi yang diterbitkan di Nature pada bulan Februari menemukan bahwa dorongan listrik yang ditargetkan dikirim ke sumsum tulang belakang dapat membantu meningkatkan gerakan lengan dan tangan setelah stroke.

Para peneliti yang membantu Oskam percaya bahwa teknologi yang mereka gunakan, di masa depan, dapat memulihkan gerakan lengan dan tangan juga. Mereka juga berpikir, dengan waktu dan sumber daya, mereka dapat menggunakan kemajuan tersebut untuk membantu pasien stroke.

 

Foto: CHUV/Gilles Weber

Artikel Terkait
Tech
Disebut Sebagai Masa Depan Internet, Apa Itu Metaverse?

Tech
TikTok Tambah Perlindungan Privasi dan Batasi Pemberitahuan untuk Remaja

Tech
Amazon Akan Bayar Pelanggan Rp 140 Ribu untuk Pindai Telapak Tangan, Buat Apa?