Current Issues

Musik Mellow Bisa Bikin Kita Mendadak Galau?

Gabriel Wakkary

Posted on November 6th 2018

Cuaca lagi hujan, AC dipasang di temperatur yang pas, bingung mau ngapain, not in the best mood but definitely not sad. Eh, nggak tahu kenapa tiba-tiba otak ini autopilot buat nyalain HP, terus memainkan lagu Adele yang When We Were Young. Langsung teringat deh sama cewek yang gue kenal dari MSN beberapa tahun lalu. Dia bilang sama gue kalau dia janji mau berteman sampai...well¸ nanti.

Okay, go ahead and judge me. Gue yakin kok lo semua pasti pernah mendadak galau padahal mood semula baik-baik aja. Cuma gara-gara iseng atau nggak sengaja mendengarkan lagu tentang sesuatu yang sebenarnya nggak lagi lo rasakan, rusak deh mood seharian. Hmmm...kok bisa gitu ya?

Bisa, lah.

Musik sendiri punya kemampuan untuk merubah keadaan mental seseorang secara instan. Salah satu hal yang membuat musik itu menjadi sesuatu yang relateable secara universal adalah musik nggak bikin lo peduli sama bahasa atau aransemennya. If you like it, you like it.

Nggak percaya? Coba deh lo dengerin Sigur Ros. Kecuali lo emang jenius yang iseng-iseng belajar Bahasa Islandia sampe fasih, lo pasti nggak ngerti sama apa yang Jonsi ucapkan. Tapi, entah kenapa lo bisa merasa tersentuh sama komposisi yang doi bikin. Ya nggak?

Nah kalau soal kenapa musik mellow bisa bikin mendadak galau, hal ini bisa dijelaskan lewat sebuah riset yang dipublikasikan oleh Frontiers in Psychology. Bahwa sebenarnya, tingkat empati kita yang tinggilah yang membuat kita bisa ikut merasa tersentuh oleh lagu mellow.

Setelah kita terbawa, kita yang sedang nggak kenapa-kenapa ini lantas mencari ingatan sejenis. Dari sanalah muncul ingatan tentang rasa luka atau rasa rindu terhadap sesuatu. Entah itu rindu liburan, rindu melihat tim sepakbola kita jadi juara, sampai rindu kenangan indah bareng mantan. Lagu mellow pun menjadi wadah kita menuangkan rasa yang diam-diam tersimpan itu hingga kemudian...keterusan galau deh.

Sejalan dengan riset di atas, sebuah eksperimen yang dilakukan oleh Tokyo University of The Arts menunjukkan kalau rasa galau yang muncul karena empati kita itu sebenarnya menjadi sebuah bukti bahwa kita sedang bersyukur. Sebab kita sadar kalau komposisi atau lirik yang dikandung lagu-lagu tersebut terasa jauh lebih menyedihkan dari pada kehidupan kita. Ya, kita tahu kalau kita akhirnya baik-baik saja setelah pernah melewati fase-fase menyedihkan itu.

Oh ya, seseorang dengan track record mental health tertentu juga harus hati-hati loh dalam mendengarkan lagu mellow. Menurut Sandra Garrido, seorang instrumentalis yang juga seorang psikolog, mendengarkan lagu melankolis secara terus menerus bisa bikin keadaan psikologis seseorang jatuh ke tingkat depresi yang kronis. Hal itu bisa semakin buruk kalau si orang tersebut sudah memiliki riwayat depresi secara klinis. Karena perasaan mereka sangat sensitif dan mereka punya kecenderungan untuk sulit bangkit demi mengatasi perasaan tersebut. Waduh, ngeri juga, ya.

Makanya, guys, meski nge-galau lewat musik bakal menjadi bagian hidup yang sulit kita lepaskan, tetap saja kita harus mengatur batasannya. Kalau sesuatu itu sudah lewat, ya sebisa mungkin kita hindari hal-hal sentimental yang bisa membangkitkan rasa yang pernah ada. Anjayyy~

Setuju nggak, nih?

Related Articles
Entertainment
Cara Keren Kunto Aji Ajak Penggemar Lepas dari Kisah Pilu Lewat MV Barunya

Current Issues
Creepy, Disney Bikin Robot Tak Berkulit yang Bisa Berkedip Mirip Manusia

Current Issues
Membatasi Kapasitas Ruangan Dapat Menurunkan Infeksi Covid-19 Secara Signifikan