Interest

Mengenal Apa Itu Fatphobia dan Dampak Buruknya

Dwiwa

Posted on January 25th 2023

Obesitas telah dikaitkan dengan peningkatan faktor risiko dari berbagai penyakit mematikan. Bagi orang dengan obesitas, menurunkan berat badan bisa menjadi salah satu cara untuk menurunkan risiko.Sayangnya, beberapa orang mungkin memiliki apa yang disebut sebagai "fatphobia", yang dapat memicu berbagai praktik yang sangat tidak sehat. Kondisi tersebut dapat menyebabkan lebih banyak gangguan kesehatan fisik dan mental. 

Menurut Boston Medical Center, fatphobia adalah bias implisit dan eksplisit dari individu yang kelebihan berat badan yang berakar pada rasa bersalah dan dianggap mengalami kegagalan moral. Sementara itu, Sarah Anzlovar, MS, RD, LDN, konselor makan intuitif bersertifikat dan ahli diet untuk ibu di Sarah Gold Nutrition, LLC, mengatakan kepada Eat This, Not That! bahwa apa yang sering disebut sebagai sindrom anti-lemak ini merupakan ketakutan yang terinternalisasi terhadap kegemukan, yang dapat muncul dalam berbagai cara.

Jadi, menjadi fatphobic bukan seseorang yang takut menjadi gemuk. Sebaliknya, istilah tersebut menunjukkan bahwa mereka mungkin memiliki prasangka terhadap orang yang secara visual tampak memiliki lebih banyak lemak tubuh daripada yang dianggap dapat diterima. Dan ambang batas ini sangat subyektif.

"Lebih gampangnya, fatphobia itu  seperti mempermalukan atau mengintimidasi," tambah Anzlovar. "Meskipun seringkali tampak halus, seperti seseorang mengomentari bagaimana pakaian tertentu membuatmu terlihat lebih kurus atau memuji penurunan berat badan."

Sayangnya, perasaan negatif orang terhadap kelebihan berat badan tidak hanya memengaruhi individu yang memegang keyakinan ini.  Fatphobia dapat memiliki implikasi negatif yang nyata bagi banyak orang di masyarakat kita, karena sangat terkait dengan bias berat badan.

Menurut Christine Byrne, RDN, ahli diet yang berfokus pada gangguan makan, bias berat badan merupakan bias terhadap orang gemuk. Ada keyakinan bahwa menjadi gemuk adalah kegagalan moral, atau mewakili kurangnya tanggung jawab pribadi. Masyarakat modern telah mengadopsi kepercayaan negatif bahwa orang gemuk itu malas, tidak bertanggung jawab, dan kurang disiplin diri. Padahal faktor genetik, sosial ekonomi, dan lingkungan berperan dalam perkembangan obesitas.

Faktanya, hasil review dan meta-analisis yang dipublikasikan di Obesity menunjukkan bahwa profesional perawatan kesehatan pun memperlihatkan bias berat badan secara implisit. Secara khusus, sejumlah besar dokter medis, perawat, ahli diet, psikolog, fisioterapis, terapis okupasi, ahli patologi wicara, ahli penyakit kaki, dan ahli fisiologi olahraga memiliki sikap bias berat badan implisit dan/atau eksplisit terhadap orang yang dianggap obesitas.

Stigma berat badan semakin memprihatinkan, karena dilaporkan telah meningkat dua pertiga dalam dekade terakhir. Dan penelitian telah menunjukkan bahwa stigma berat badan mengarah pada konsekuensi kesehatan fisik dan psikologis yang merugikan bagi populasi ini.

"Karena bias yang melekat ini, hanya 10 persen orang dengan obesitas mencari perawatan medis untuk kondisi tersebut," kata Lauren Harris-Pincus, MS, RDN, pendiri NutritionStarringYou.com dan penulis The Everything Easy Pre-Diabetes Cookbook. "Ini membuat sisanya mencari perawatan diri sendiri, seringkali dalam bentuk fad diet dan penipuan penurunan berat badan yang dijajakan oleh 'influencer' tanpa pelatihan dalam perawatan dan pengobatan orang dengan obesitas."

Bryne menambahkan, berulang kali mengalami stigma berat badan dapat meningkatkan stres seseorang secara keseluruhan dan menurunkan kualitas hidup mereka.

 

Angka pada timbangan bukan satu-satunya prediktor kesehatan

Harris-Pincus menjelaskan bahwa bersandar hanya pada indeks massa tubuh (IMT) adalah cacat. Sebab, pengukuran ini berdasarkan tabel asuransi Met Life pada tahun 1930-an dan 1940-an. Ini tidak berbasis sains dan tidak memperhitungkan perbedaan atau variasi ras/etnis atau gender dalam tipe/komposisi tubuh.

Byrne menambahkan bahwa IMT tidak pernah dimaksudkan untuk mengukur kesehatan, namun sistem medis menggunakannya sebagai indikator seberapa sehat atau tidaknya seseorang. Ini bermasalah karena terlalu menekankan hubungan antara berat badan dan kesehatan.

Di luar fakta bahwa IMT tidak membedakan antara lemak dan berat otot, BMI tidak memberi tahu kita apa pun tentang apa yang terjadi di dalam tubuh seseorang dari segi kesehatan. Orang gemuk bisa saja tubuhnya sehat sedangkan yang kurus kondisi kesehatannya justru buruk.

Byrne dan Harris-Pincus pun setuju bahwa metrik kesehatan lainnya dapat memberikan gambaran yang baik tentang kesehatan seseorang dan harus diperhitungkan. Tekanan darah, kadar kolesterol, dan kadar gula darah adalah beberapa contoh indikator kesehatan seseorang yang tidak memperhitungkan berat badan.

Byrne juga menambahkan bahwa faktor penentu lain kesehatan seseorang seperti akses ke perawatan kesehatan, akses ke makanan segar, keterhubungan sosial, lingkungan yang baik, kurangnya stres, kualitas tidur, dan genetika secara keseluruhan juga memainkan peran besar dalam kesehatan seseorang. (*) 

 

Foto: Pixabay

Artikel Terkait
Lifestyle
Apa Sih Penyebab Utama Seseorang Jadi Gendut dan Obesitas?

Interest
5 Tips Jaga Berat Badan Ideal Selama Social Distancing

Lifestyle
Penelitian Selama 17 Tahun ini Harusnya Bikin Kalian Takut Konsumsi Fast Food