Lifestyle

5 Ciri-ciri Penderita Orthorexia, Orang yang Terobsesi dengan Pola Makan Sehat

Alda Alviani

Posted on November 27th 2022

Banyak orang yang bilang bahwa hidup seseorang itu bergantung dengan pola makannya. Oleh karena itu, kamu mungkin tidak heran jika sering melihat orang yang membagikan dan memamerkan pola makannya yang bersih dan sehat secara terus-menerus lewat akun media sosial.

Tapi, tahu gak sih? Tindakan tersebut bisa jadi salah satu ciri perilaku penderita orthorexia, lho!

Orthorexia merupakan salah satu gangguan makan di mana seseorang memiliki obsesi terhadap pola makan yang bersih atau sehat. Oleh karena itu, biasanya penderita orthorexia juga memiliki ciri mencolok dengan membatasi makanan yang menurut mereka tidak masuk kriteria bersih atau sehat.

Melansir dari laman YourTango, penelitian menemukan bahwa orang dengan kecenderungan obsesif-kompulsif atau orang yang sebelumnya pernah menderita gangguan makan memiliki resiko lebih tinggi terjangkit orthorexia. 

Selain itu, faktor lain yang juga bisa mempengaruhi seseorang terjangkit orthorexia yaitu memiliki gangguan kecemasan, memiliki kecenderungan perfeksionis, dan orang yang menggeluti profesi yang berfokus pada postur yang ideal (seperti: atlet, orang yang bekerja di industri perawatan kesehatan, hingga musisi).

Nah, apa saja sih ciri dari penderita orthorexia itu? Yuk, simak 5 ciri penderita orthorexia di bawah ini.

1. Terobsesi dengan Diet yang Sehat
Niat awalnya mungkin hanya ingin makan dengan sehat, tetapi seiring berjalannya waktu, mereka akhirnya terobsesi dengan bahan-bahan tertentu dan tren makan sehat.

Penelitian menunjukkan bahwa orthorexia memiliki perilaku yang identik dengan penderita OCD. Mereka bisa menghabiskan lebih dari 3 jam per hari untuk meneliti, memperoleh dan merencanakan apa yang akan mereka makan.

Selain itu, orang dengan orthorexia juga memiliki kekhawatiran yang berlebih soal bahan makanan tertentu, seperti apakah sayur/buah yang akan makan telah terpapar pestisida atau bahan tambahan apa yang dikandungnya. 

2. Mem-blacklist Jenis atau Kelompok Makanan Tertentu dari Daftar Makanan Diet
Beberapa penderita orthorexia juga percaya jenis atau kelompok makanan tertentu tidak bersih atau tidak layak untuk dimakan. Oleh karena itu, mereka juga tidak segan untuk mem-blacklistnya dari daftar makanan diet mereka.

Selain itu, perilaku mereka yang terlihat agak mencolok yaitu sering memeriksa label nutrisi untuk merasa yakin dengan pilihan makanannya.

3. Sering Membandingkan Diri dengan Orang Lain
Ciri lainnya dari penderita orthorexia yaitu sering membandingkan dirinya dengan orang lain. Tindakan ini tentunya mudah dan sering terjadi saat membuka media sosial.

Perlu digarisbawahi, penderita orthorexia tidak membandingkan dirinya dengan orang lain untuk mencapai postur tubuh tertentu, melainkan untuk mengidealkan pilihan dietnya dan menyebarkan informasi yang salah soal pola makan sehat.

4. Merasa Bersalah Saat Makan Makanan Tertentu
Saat melanggar aturan atau menyerah pada godaan makanan tertentu membuat penderita orthorexia merasa bersalah. Mereka akan merasa telah mengecewakan dirinya sendiri karena memakan makanan yang dianggap tidak sehat.

Sebuah studi menyatakan bahwa ketika penderita orthorexia melanggar aturan makanannya, mereka bisa mengalami fase membenci diri sendiri dan bisa menghasilkan aturan yang lebih ketat lagi sebagai ‘hukuman’.

5. Sering Mengalami Perubahan Suasana Hati
Dengan menempatkan sebagian besar rasa bahagia dan puasnya pada pola makan dan diet, ini membuat diri penderita orthorexia rentan mengalami perubahan suasana hati yang ekstrem.

Mereka bisa berubah dari merasa puas menjadi merasa sangat benci tergantung pada apa yang mereka makan. Perubahan suasana hati ini tentunya dapat meningkatkan gejala gangguan kecemasan atau depresi.

Selain itu, efek dari menghindari makanan tertentu membuat tubuh tidak mendapatkan nutrisi yang cukup untuk mengatur suasana hati dan menyeimbangkan emosi.

Itu dia 5 ciri-ciri penderita orthorexia. Jika kamu melihat tanda-tanda ini pada dirimu atau seseorang yang kamu kenal, jangan cepat-cepat mengklaim dengan self-diagnose ya! Sebaiknya segera cari bantuan dan konsultasikan dengan psikolog atau psikiater terpercaya supaya ciri-ciri tersebut bisa diatasi dengan baik. (*)

Sumber Foto: Louis Hansel on Unsplash

Artikel Terkait
Lifestyle
Survei: Hampir Setengah Umat Manusia Makan Terlalu Banyak atau Terlalu Sedikit

Lifestyle
Berusia 20-an? Hal Ini Wajib Kalian Lakukan Agar Tetap Fit Saat Tua

Lifestyle
5 Tips Penurunan Berat Badan Ini Malah Bikin Kamu Cepat Tua