Interest

Jaga Telingamu! 1 Miliar Anak Muda Berisiko Alami Gangguan Pendengaran

Dwiwa

Posted on November 21st 2022

Buat kalian yang suka mendengarkan musik keras atau terbiasa berada di tempat dengan suara-suara keras, sebaiknya mulai dikurangi. Pasalnya, sebuah penelitian baru menunjukkan bahwa hal itu akan meningkatkan risiko anak muda mengalami gangguan pendengaran.

Dilansir CNN, studi yang diterbitkan di jurnal BMJ Global Health ini mengungkapkan bahwa para remaja dan dewasa muda sangat suka mendengarkan musik, film, pertunjukan, bahkan melakukan panggilan telepon dengan suara terlalu keras dan terlalu lama.

“Kami memperkirakan bahwa 0,67 hingga 1,35 miliar orang berusia 12-34 tahun di seluruh dunia cenderung terlibat dalam praktik mendengarkan yang tidak aman dan karena itu berisiko mengalami gangguan pendengaran”, kata penulis studi utama Lauren Dillard melalui email. Dillard adalah konsultan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan postdoctoral fellow di Medical University of South Carolina.

Dillard menjelaskan, paparan suara dengan volume yang terlalu tinggi dapat membuat sel dan struktur sensorik di telinga lelah. Jika itu berlangsung terlalu lama, mereka bisa menjadi rusak secara permanen, mengakibatkan gangguan pendengaran, tinitus atau keduanya.

Studi tersebut mengungkapkan para peneliti melakukan meta-analisis artikel ilmiah tentang praktik mendengarkan yang tidak aman yang diterbitkan antara tahun 2000 dan 2021 di tiga database. Praktik tidak aman dilacak berdasarkan penggunaan headphone serta kehadiran di tempat hiburan, seperti konser, bar, dan klub.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS membatasi tingkat kebisingan yang aman sekitar 85 desibel selama 40 jam seminggu. Jika kalian mendengarkan hanya 2,5 jam sehari, itu setara dengan sekitar 92 desibel, kata studi tersebut.

Studi tersebut mengatakan jika orang sering menggunakan headphone untuk mendengarkan musik dengan volume setinggi 105 desibel. Sementara untuk suara di sebuah venue sering kali berkisar antara 104 hingga 112 desibel.

De Wet Swanepoel, profesor audiologi di Universitas Pretoria di Afrika Selatan mengatakan analisis penelitian ini sangat ketat, dan buktinya meyakinkan bahwa gangguan pendengaran harus menjadi prioritas kesehatan masyarakat. Swanepoel tidak terkait dengan penelitian tersebut.

“Musik adalah anugerah untuk dinikmati seumur hidup,” ujar Swanepoel, yang juga pemimpin redaksi International Journal of Audiology. “Pesannya adalah untuk menikmati musik tetapi dengan aman.”

 

Bagaimana cara untuk menjaga pendengaran?

Baik mendengarkan di perangkat sendiri atau di konser, Dillard memperingatkan bahwa telinga yang berdenging adalah pertanda baik kalau musiknya terlalu keras.

Namun, ada cara untuk mencegah kerusakan sebelum kita menyadari efeknya. Beberapa perangkat memungkinkan penggunanya memantau tingkat pendengaran mereka di pengaturan perangkat. Beberapa bahkan akan mengingatkan ketika kita terlalu lama mendengarkan terlalu keras.

"Jika perangkat mengatakan kalian mendengarkan pada tingkat yang tidak aman, matikan volume dan dengarkan musik untuk waktu yang lebih singkat," kata Dillard melalui email.

Dillard mengatakan para ahli tidak dapat secara pasti mengatakan headphone mana yang paling aman untuk digunakan. Tetapi dia merekomendasikan penggunaan headphone yang mengurangi kebisingan latar belakang. Sebab, ini dapat membantu menjaga volume pada level yang lebih rendah karena  tidak perlu meredam kebisingan di sekitar kita.

Tetapi kita tidak selalu memiliki kendali atas tombol volume. Dillard mengatakan jika berada di konser atau tempat yang bising, kalian dapat melindungi pendengaran dengan berdiri lebih jauh dari pengeras suara dan menjauh dari kebisingan, jika memungkinkan. Dia menambahkan, menggunakan pelindung telinga, bahkan penyumbat telinga busa pun bisa bermanfaat. (*)

 

Foto: Pixabay

Artikel Terkait
Interest
Sering Lama Pakai Headphone? Awas Alami Gangguan Pendengaran

Interest
Kehilangan Pendengaran Bukan Berarti Tidak Punya Kesempatan, Pria Ini Beri Bukti

Current Issues
Bukan Hanya Hilang Bau dan Rasa, Gangguan Telinga Juga Bisa Jadi Gejala Covid