Sport

Piala Dunia dan Kutukan Juara Bertahan

Louise Dewangga

Posted on November 18th 2022

Ajang bergengsi empat tahunan Piala Dunia sebentar lagi memulai rangkaian panjangnya selama satu bulan kedepan.  Pada edisi kali ini Qatar yang menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022 akan menjadi saksi lahirnya drama, kontroversi, serta kejutan ala Piala Dunia.

Penunjukkan Qatar pada tahun 2010 silam sejatinya hingga sekarang menuai banyak kontroversi. Negara yang terletak  di sebuah semenanjung kecil di Jazirah Arab di Asia Barat tersebut melahirkan beragam polemik. Rumor para pekerja konstruksi  yang membangun beberapa fasilitas untuk Piala Dunia dikabarkan meninggal, dimulai pada musim dingin, dan masih banyak lagi.

Namun hajat besar Piala Dunia pastinya tidak ingin dilewatkan oleh para pecinta sepak bola seantero negeri. Banyak orang sesumbar tim favoritnya yang akan melenggang dan menjadi kampiun, beberapa ada yang mengimani tim jagoannya dalam diam.

Nama-nama seperti Prancis, Jerman, Spanyol, Argentina, hingga Brasil menjadi nama unggulan dalam edisi kali ini. Tiga dari lima nama tersebut sejatinya punya kenangan kelam atas hajat besar Piala Dunia.

Kutukan juara Piala Dunia yang selalu gagal untuk menembus fase grup banyak diimani dan diamini oleh beberapa orang. Sejatinya kutukan ini dimulai ketika Prancis berhasil memenangi ajang empat tahunan Piala Dunia 1998. Pada edisi berikutnya, Prancis justru keok dan menjadi juru kunci grup. Dari tiga laga Marcel Desaily dan kolega hanya mampu imbang satu kali dan kalah dua kali.

Brasil yang keluar sebagai kampiun tahun 2002 menatap edisi 2006 di Jerman dengan kepala tegak. Brasil menjadi satu-satunya negara yang terhindar dari kutukan yang diamini oleh beberapa orang.  Ze Roberto dan kolega  berhasil menembus perempat final meskipun mereka harus takluk dari Prancis.

Kutukan pun berlanjut Italia yang menjadi kampiun 2006, pada edisi 2010 yang begitu diingat pada memori kepala karena kemeriahannya, harus rela angkat koper dari Afrika Selatan lebih dini karena berada di dasar klasmen grup F. Langkah Italia terbilang oke, mereka bahkan diprediksi bisa berbicara banyak pada edisi 2010. Bergabung di grup F bersama Paraguay Slowakia dan Selandia Baru tentu bukan batu sandungan berat bagi Gli Azzuri. Sayang dewi fortuna yang diyakini oleh masyarakat Italia masih terlalu enggan untuk berurusan dengan kutukan juara piala dunia.

Pada edisi 2014, juara 2010, Spanyol harus puas duduk di peringkat ketiga klasmen grup B. bersama dengan Belanda, Chili, dan Australia. Spanyol hanya mampu menang satu kali dan kalah dua kali, Kutukan pun berlanjut.

2018 menjadi ajang pembuktian Jerman untuk mematahkan mitos tersebut. Tergabung di grup F bersama Swedia, Meksiko, dan Korea Selatan di atas kertas skuad asuhan Joachim Loew bisa melenggang setidaknya dengan status peringkat kedua grup. Sayang, sepak bola tidak hanya diukur dari catatan angka yang terpampang di kertas statistik. Jerman justru terbenam di dasar grup dengan hanya mengoleksi 1 kemenangan dan 2 hasil kalah.

Juara piala dunia 2018 adalah Prancis. Prancis sendiri sudah tidak asing dengan kutukan ini, mereka yang memulai pada dua dekade silam. Kutukan ini bisa saja dipecahkan oleh skuad asuhan Didier Deschamps. Bisa juga Kylian Mbappe dan kolega meneruskan warisan kutukan juara bertahan. Mengingat absennya beberapa pilar penting seperti Paul Pogba dan Ngolo Kante dalam tubuh timnas Prancis.

Dari beragam intrik dan kontroversi tersebut, Piala Dunia 2022 nanti pastinya ditunggu oleh seluruh pecinta sepakbola. Kejutan, drama, dan kontroversi adalah bumbu wajib yang disajikan pada setiap laga sepak bola. Melihat reputasi kutukan juara bertahan dan rekam jejak prediksi EA Sports dalam meramal siapa yang membawa pulang trofi, masihkah kalian bertaruh untuk Prancis sob?(*)

Foto: RT.com

Artikel Terkait
Sport
Brasil dan Momok Fase Delapan Besar Piala Dunia

Sport
Tuah Kroasia Dalam Urusan Adu Penalti

Sport
Sejarah Baru Tercipta, Laga Piala Dunia Qatar 2022 Dipimpin Wasit Perempuan