Interest

Merasa Lebih Miskin Dibanding Teman Saat Remaja, Awal Gangguan Kesehatan Mental

Dwiwa

Posted on November 17th 2022

Jangan pernah merasa lebih miskin dari teman-teman kalian ya guys. Pasalnya nih, sebuah studi baru dari psikologi di Universitas Cambridge menemukan bahwa remaja yang meyakini bahwa mereka berasal dari latar belakang yang lebih miskin dibanding teman-temannya cenderung punya harga diri yang lebih rendah.

Mereka juga cenderung jadi korban perundungan alias bullying dibanding yang merasa setara secara finansial terhadap kelompok teman sebaya lainnya.

Dilansir Medical Xpress, para peneliti menemukan bahwa penilaian kita tentang diri sendiri melalui perbandingan sosial di awal remaja (seberapa populer atau menarik diri kita menurut kita dibanding dengan orang lain), merupakan inti dari perasaan kita yang sedang berkembang. Dan status ekonomi yang dirasakan pada saat itu dapat berkontribusi pada perkembangan tersebut.

“Masa remaja adalah masa transisi, ketika kita menggunakan perbandingan  sosial untuk menilai diri sendiri dan mengembangkan kesadaran diri,” kata penulis utama stud Blanca Piera Pi-Sunyer, Sarjana Cambridge Gates dan kandidat Ph.D di Departemen Psikologi Universitas.

Dia menambahkan jika perasaan tentang posisi ekonomi kita tidak hanya dalam masyarakat yang lebih luas, tetapi juga dalam lingkungan terdekat kita, mungkin menjadi masalah untuk rasa memiliki kita atau sense of belonging.

Sense of belonging sangat penting untuk fungsi kesejahteraan dan psikososial selama masa remaja. Studi kami menunjukkan bahwa perbandingan kekayaan dengan orang-orang di sekitar kita dapat berkontribusi pada rasa harga diri sosial dan pribadi ketika kita masih muda,” lanjutnya.

Studi yang diterbitkan di Journal of Child Psychology and Psychiatry ini menganalisis ketidaksetaraan ekonomi yang dirasakan dalam kelompok pertemanan di antara 12.995 anak di Inggris pada usia 11 tahun.

Anak usia 11 tahun yang menganggap diri mereka lebih miskin daripada teman-temannya memiliki skor 6 sampai 8 persen lebih rendah untuk harga diri dan 11 persen lebih rendah dalam kesejahteraan dibanding teman mereka yang merasa setara secara ekonomi dengan rekan-rekannya.

Mereka yang menganggap diri merek kurang kaya juga cenderung memiliki kesulitan internalisasi seperti kecemasan, serta masalah perilaku, misalnya masalah kemarahan atau hiperaktif.

Remaja yang menganggap diri mereka lebih miskin dari teman-temannya 17 persen lebih mungkin mengalami intimidasi atau menjadi incaran dibandingkan dengan mereka yang merasa secara finansial sama dengan teman mereka pada usia 11 tahun. Pada usia 14 tahun, mereka yang menganggap dirinya lebih miskin masih 8 persen lebih mungkin menjadi korban dibandingkan mereka yang merasa secara ekonomi sama dengan teman.

Merasa lebih kaya atau lebih miskin daripada teman sebaya terkait dengan kecenderungan melakukan perundungan 3 sampai 5 persen lebih tinggi dibanding yang merasa setara. 

Para peneliti menggunakan data yang dikumpulkan sebagai bagian dari Millennium Cohort Study (MCS) terhadap ribuan anak muda yang lahir antara 2000 dan 2002. Survei tersebut mengukur serangkaian kondisi mental dan perilaku sosial, dan memasukkan pertanyaan tentang persepsi status ekonomi.

Mayoritas anak-anak merasa mereka sama kayanya dengan teman mereka, tetapi 4 persen dan 8 persen masing-masing menganggap diri mereka lebih miskin atau lebih kaya daripada teman mereka, sementara 16 persen mengatakan mereka tidak tahu. MCS juga mengumpulkan data tentang "pendapatan keluarga yang objektif", termasuk ukuran pendapatan mingguan keluarga yang dapat dibuang, yang memungkinkan para peneliti untuk mengurangi efek kekayaan orang tua yang sebenarnya.

“Banyak penelitian menunjukkan bahwa secara objektif, anak muda dari latar belakang yang kurang beruntung memiliki lebih banyak kesulitan kesehatan mental. Temuan kami menunjukkan bahwa pengalaman subjektif dari ketidakberuntungan juga relevan,” tambah Pi-Sunyer.

"Kamu tidak harus kaya atau miskin untuk merasa lebih kaya atau lebih miskin dari temanmu, dan kita bisa melihat ini berdampak pada kesehatan mental remaja awal.” (*)

 

Foto: Pixabay

Artikel Terkait
Interest
Studi: Kian Banyak Anak Usia 3-17 Tahun yang Kesehatan Mentalnya Terganggu

Current Issues
UNICEF: Dihantam Pandemi, Anak-Anak Perlu Bantuan Kesehatan Mental

Interest
Lagi Merasa Kesepian? Robot Ini Siap untuk Menggenggam Tangan Kalian