Opinion

Pidato Gaul Pak Presiden

Helena Tipawael

Posted on October 18th 2018

Baru-baru ini, aku dikejutkan dengan berita dari dalam negeri. Bukan lagi gosip Lucinta Luna atau hoaks operasi plastik, melainkan pidato gaul Pak Presiden di sebuah ajang internasional yang diadakan di dalam negeri.

Ya, setelah dipercaya menjadi tuan rumah bagi event internasional, seperti Asian Games dan Asian Para Games, tibalah giliran sidang tahunan Dana Moneter Internasional (IMF - International Monetary Fund) dan Bank Dunia (World Bank) berlangsung di Nusa Dua, Bali, pada 8 - 14 Oktober 2018 lalu. 

Perlu kamu tahu, untuk menjadi host agenda internasional kayak begini tuh susah banget, gengs. Masing-masing negara harus berjuang mempersiapkan diri agar qualified menjadi tuan rumah di mata dunia. Proses seleksinya pun memakan waktu yang cukup lama. Indonesia sendiri telah mendaftarkan diri sejak tahun 2014 silam. Dan finally, setelah empat tahun menunggu, Indonesia pun terpilih.

Menjadi tuan rumah untuk acara pertemuan seperti ini adalah salah satu bentuk investasi, loh. Bukan acara foya-foya belaka supaya bisa lebih dikenal dunia. Tapi juga bentuk kapitalisasi jangka panjang. 

Menurut KBBI V, kapitalisasi adalah kegiatan mengembangkan pengeluaran negara yang sudah dianggarkan sebagai modal atau aset pembangunan dan bisnis. Nah, dengan acara seperti ini, makin banyak kesempatan bagi Indonesia untuk menambah modal bagi pembangunan dan bisnis di dalam negeri. Soalnya, akan ada banyak investor yang bisa diajak buat menanamkan modalnya ke Indonesia! 

Eitsss, jangan salah ya. Menarik investor masuk bukan berarti negara menjual aset yang kita miliki, BUKAN! Tapi, memperbanyak kerja sama agar negara kita juga bisa menjadi negara maju. Ingat, bukan hanya manusia yang nggak bisa hidup sendirian, negara pun sama. Perlu banget berinteraksi dan saling melengkapi (asiqueee~). Apa lagi, sekarang eranya globalisasi.

Nah, kembali ke berita yang membuatku terkejut, aku merasa pidato Pak Presiden di acara IMF dan World Bank itu telah membuat negara kita dipandang keren. Jika di ajang World Economic Forum 13 September lalu beliau menyebut Thanos dan Avengers, kali ini beliau mengangkat Game of Thrones.

Analogi Game of Thrones diambil untuk menggambarkan negara-negara maju sebagai kubu-kubu yang berkelahi untuk menjadi nomor satu di dunia. Terutama Amerika dan Cina, yang lagi perang dagang sehingga membuat pelemahan ekonomi global (iya, ini loh yang bikin Rupiah dan mata uang negara-negara lain melemah). Padahal tanpa mereka sadari, hal ini sebenarnya malah menjadi ancaman besar bagi kubu-kubu tersebut dan tentunya malah menambah kekacauan dunia.

Mereka ini seharusnya bisa bersatu dan berkolaborasi demi melawan ancaman dan mengurangi kekacauan. Bukannya terpecah belah dan saling melukai satu sama lain, hingga ikut melukai pihak-pihak yang tidak ikut berkelahi. Dalam hal ini, negara-negara lain di dunia. Mengingat, kita semua sedang mengalami krisis besar yang sama seperti kemiskinan, perubahan iklim, kekacauan mata uang dan lain-lain.

Menyinggung persoalan antar negara di atas, atau dalam analogi Game of Thrones di pidato beliau disebut sebagai Houses, Pak Presiden berkata, “Tidak penting siapa yang duduki di Iron Throne. Yang penting adalah kekuatan bersama untuk mengalahkan Evil Winter agar bencana global tidak terjadi. Agar dunia tidak berubah menjadi tanah tandus yang porak-poranda yang menyengsarakan kita semua.”

Ucapan itu, tentunya sangat diapresiasi para pemimpin negara yang hadir. Standing applause jadi terasa biasa aja, karena hampir semua hadirin melakukannya. Benar-benar pesan yang sangat dalam maknanya dan begitu mengena kurasa 

Pak Presiden bahkan kembali membuat hadirin tertohok di akhir pidatonya. Katanya, “Para hadirin yang berbahagia, tahun depan kita akan menyaksikan season terakhir dari serial Game of Thrones. Saya bisa perkirakan akhir ceritanya. Saya yakin ceritanya akan berakhir dengan pesan moral. Bahwa konfrontasi dan perselisihan akan mengakibatkan penderitaan bukan hanya bagi yang kalah tapi juga bagi yang menang.”

Duh, aku merinding mendengarnya. Apa lagi saat beliau menyebutkan satu kalimat yang quoteable: “Tidak ada artinya kemenangan yang dirayakan di tengah kehancuran. Tidak ada artinya menjadi kekuatan ekonomi yang terbesar di tengah dunia yang tenggelam.” Wah, hatiku langsung makjleb. 

Bisa jadi momen-momen seperti ini akan tercatat ke dalam buku sejarah anak cucu kita nanti. Bahwa Indonesia kembali menunjukkan kemampuannya sebagai bangsa pemersatu dunia di era globalisasi. Kan keren, tuh!

Ah, semoga lewat acara-acara seperti ini, kita benar-benas bisa menjadi inspirasi bagi dunia ya teman-teman. Seperti yang Pak Presiden sampaikan di dalam penutup pidatonya. Siapa kitaaaa? INDONESIA!

Related Articles
Entertainment
Ide Gila Coldplay di Album Barunya Terinspirasi Game of Throne

Hobi
Game of Thrones: The Tale of The Crows Dirilis untuk Platform Apple Arcade

Entertainment
Panduan Sebelum Nonton Game of Thrones