Interest

Benarkah Remaja Beralih ke TikTok untuk Cari Diagnosis Kesehatan Mental?

Dwiwa

Posted on October 31st 2022

Hampir tiga tahun pandemi Covid-19 membuat dunia kacau. Orang-orang terisolasi dan dunia digital semakin digandrungi karena bisa menjadi alat penghubung. Sayangnya, selain berdampak positif media sosial juga memiliki dampak yang kurang baik bagi kesehatan mental, khususnya pada remaja.

Dilansir dari The New York Times, dalam beberapa tahun terakhir, diskusi tentang kesehatan mental telah menjamur di media sosial, terutama di TikTok. Platform ini menggunakan format yang memungkinkan penyampaian informasi dalam bentuk video intim yang mudah dicerna dan muncul dalam algoritma yang tidak pernah berakhir.

Bagi mereka yang mencari tahu tentang berbagai gangguan kesehatan mental, semakin mudah untuk menemukan definisi singkat dan penilaian mandiri secara online. Hal ini sebenarnya bisa membantu mengurangi stigma terkait penyakit mental, tetapi ada juga sisi buruknya.

Sejumlah layanan kesehatan mental mengatakan bahwa mereka melihat peningkatan pada remaja dan dewasa muda yang mendiagnosis diri sendiri dengan penyakit mental – termasuk gangguan langka – setelah mempelajari kondisi tersebut secara online.

Dalam beberapa kasus, informasi ini mengarahkan mereka untuk mendapatkan bantuan yang diperlukan. Tetapi ini juga bisa menyebabkan orang salah memberi label kepada diri sendiri, menghindari penilaian profesional dan mendapatkan perawatan yang tidak efektif atau tidak tepat.

Annie Barsch, terapis pernikahan dan keluarga berlisensi di Elburn, Illinois, Amerika Serikat telah mendapatkan banyak pertanyaan dari remaja dan dewasa muda yang datang ke kantornya dengan diagnosis tertentu dalam pikirannya.

“Orang-orang berkata ‘Aku memiliki gejalanya, berarti aku memiliki kelainan itu’. Tetapi itu hubungannya bukan semacam itu,” ujarnya.

Dia menambahkan, beberapa remaja akan memilih untuk percaya pada TikTok dibanding terapis profesional. Dan untuk beberapa sesi, mereka terus berada pada agenda yang sama.

“Hampir seolah-olah, saya sebagai profesional dengan gelar master, lisensi klinis, dan pengalaman bertahun-tahun bersaing dengan TikToker ini,” kata Barsch.

Sangat mudah untuk salah mendiagnosis

TikTok adalah salah satu domain web paling populer di dunia, khususnya di kalangan remaja dan dewasa muda. Algoritmanya mahir menampilkan konten yang mirip dengan konten yang penggunanya simpan di masa lalu. Para pengguna Instagram dan Facebook juga melihat konten seperti ini melalui fitur Reels.

Formatnya – seringkali memutar video pendek kurang dari satu menit – tidak menyisakan ruang untuk sesuatu yang penting. Pengguna yang mencari informasi kesehatan mental mungkin menemukan sangat sedikit deretan gejala.

Padahal, bagian yang membuat diagnosis rumit adalah bahwa gangguan yang sama bisa muncul pada anak, remaja, dan orang dewasa dengan sangat berbeda. Dengan kata lain, deretan gejala yang sama tidak berlaku untuk semua kelompok umur.

“Sangat mudah untuk salah mendiagnosis,” kata Mitch Prinstein, kepala petugas sains dari American Psychological Association. “Kalian mungkin memiliki gejala yang terlihat seperti depresi orang dewasa, tetapi sebagai anak atau remaja ini bisa berarti sesuatu yang sangat berbeda.”

Dia menambahkan, mungkin juga sulit untuk menyadari gejala-gejala tertentu. Dan hal itu benar-benar harus diamati oleh pihak yang objektif. Ada banyak faktor yang harus dilihat oleh terapis untuk menentukan suatu diagnosis kepada klien.

Mudah untuk terjebak

Terkadang, masalah kesehatan mental juga menjadi sesuatu yang dibanggakan di media sosial. Prinstein mengatakan anak-anak mencari komunitas, dan menggunakan perjuangan mereka dengan gejala kesehatan mental sebagai cara untuk menemukan orang yang sepemikiran.

Terkadang mereka menggunakan gejala sebagai simbol kebanggaan atau cara singkat untuk menjelaskan siapa diri mereka ke orang lain. Dan beberapa remaja mungkin mencari informasi kesehatan mental secara online karena orang dewasa dalam kehidupan mereka tidak terbuka untuk membicarakannya.

Sebuah studi yang diterbitkan pada Maret menganalisis 100 video di TikTok dengan tagar #mentalhealth yang secara kolektif telah ditonton lebih dari 1 miliar. Ini menunjukkan bahwa remaja tampaknya beralih ke TikTok sebagai sumber dukungan, dan nasihat di sana mayoritas didapat dari percakapan pengguna.

“Kekhawatiran terbesar adalah bahwa remaja mungkin membuat diagnosis sendiri dan rencana perawatan yang salah tanpa adanya masukan profesional,” kata Corey H. Basch, profesor kesehatan masyarakat di William Paterson University of New Jersey dan penulis utama studi. Dia menambahkan, remaja juga bisa menemukan informasi atau akun yang tidak akurat yang memicu perilaku berbahaya.

Di sisi lain, Basch mengatakan bahwa menemukan komunitas online yang positif dan suportif dapat menjadi kekuatan, terutama bagi mereka yang terpinggirkan atau tidak memiliki akses ke sumber daya kesehatan mental.

Diagnosismu bukanlah siapa kamu sebenarnya

Anish Dube, kepala Council on Children, Adolescents and their Families di American Psychiatric Association mengatakan, seringkali informasi yang disajikan di media sosial tidak akurat atau terlalu sederhana. Jadi Dube merekomendasikan agar anak-anak diarahkan ke sumber yang dapat dipercaya.

Di lingkungan perguruan tinggi, terkadang siswa mencari diagnosis untuk menerima layanan atau akomodasi, kata Seli Fakorzi, direktur operasi kesehatan mental di TimelyMD, penyedia kesehatan virtual yang melayani lebih dari 1,5 juta siswa di lebih dari 230 kampus.

Dia menambahkan, tetapi di lain waktu, mereka hanya ingin mengetahui mengapa mereka merasa berbeda atau apa yang membuat mereka sama dengan orang lain yang dikenalnya yang berjuang dengan kondisi yang sama.

Hawkins mengatakan penting juga untuk membantu anak-anak memahami bahwa diagnosismu bukanlah siapa kamu. Itu adalah bagian dari apa yang mereka miliki.

“Diagnosis adalah titik awal pemahaman,” tambahnya. "Itu bukan titik akhir." (*)

Foto: Pixabay

Artikel Terkait
Interest
Studi: Facebook Ditinggalkan Anak Muda, Cowok Banyak di YouTube, Cewek di TikTok

Current Issues
CEO TikTok Minta Bantuan Instagram dan Facebook Lawan Pemblokiran

Tech
Instagram Akan Kenalkan Fitur ‘Take a Break’, Seperti Apa sih?