Interest

Merayakan Seni Media Anak Bangsa di ArtJog 2018

Jean Marais

Posted on June 5th 2018

 

Akrab disapa sebagai melting pot kesenian kontemporer, Jogja tidak pernah berhenti melahirkan seniman-seniman bernas dari puluhan galeri yang hadir hingga sudut-sudut sempit kota ini. ArtJog, adalah salah satu  dari sekian banyak pameran akbar yang kejutannya tumpah ruah, dan patut di tungu setiap tahunnya.

            Memasuki usia ke-11, agenda pameran seni kontemporer ini dihelat selama satu bulan penuh. Dimulai sejak 4 Mei 2018, malam puncak ArtJog kali ini jatuh pada 4 Juni 218. Pada pameran yang digelar di Jogja Nasional Museum, Yogyakarta, tema Enlightment milik ArtJog kali ini dihadiri 54 Seniman se-antero dunia, untuk ambil bagian dalam sejarah panjang kesenian kontemporer tanah air.

            “Bisa dibilang jumlah seniman muda pada ArtJog kali ini, adalah sepertiga dari jumlah total. Kami melakukan kurasi berdasarkan kualitas karya dan konsistensi. Serta keterkaitan dengan tema Enlightment juga menjadi pertimbangan bagi kami, tentang siapa saja yang karyanya di pamerkan disini (ArtJog,Red),” kata Ignatia Nilu, kurator ArtJog 2018.

             Sebagai pameran yang mengedepankan karya-karya seni kontemporer, dan segar. Produk kesenian yang di pamerkan pada ArtJog ini juga beragam dan memiliki keunikan masing-masing. Disini ArtJog tidak hadir sebagai pameran yang eksklusif. Dalam artian, ArtJog bukan hanya menjadikan audiens sebagai penonton karya saja.

             Lebih dari itu, ada suatu interaksi yang ditawarkan. Audiens dan Seniman dapat berinteraksi melalu karya. Seperti halnya karya berjudul Pernyataan Tidak Tertulis karya Bandu Darmawan. Disini tidak ada kanvas besar penuh goresan garis nirmana yang absurd. Melainkan hanya pendar cahaya yang dipancar dari sebuah proyektor, yang menayangkan adegan siluet dari seseorang yang tengah menulis di sebuah mesin ketik.

             Lewat bayang-bayang siluet itu lah, penonton dapat merespon Bandu dengan melakukan pose yang mereka ingini, sehingga menghadirkan sebuah cerita dari karya tersebut. Jadi disini, penonton diberi kebebasan untuk membuat cerita tentang seorang yang tengah sibuk dengan mesin ketiknya itu.

             “Ya aku pikir itulah fungsi dari kuratorial ya. Kita membuat program untuk sebuah pameran, tanpa harus mengekang imajinasi dari penonton. Jadi disini audiens diberikan kebebasan untuk berinteraksi, serta memiliki pemahaman atas masing-masing karya. Jadi ketika karya sudah di lempar ke publik, maka untuk pemaknaanya kita juga tidak bisa membatasi,” imbuh Ignatia Nilu.

             Ruang pameran ArtJog sendiri terdiri hingga lantai. Dan setiap seniman, memiliki ruang pamer dalam bilik-bilik yang disediakan. Jadi seniman dapat melakukan eksplorasi secara bebas. Baik melalui display karya dan kebebasan merespon ruang. Tidak hanya itu, seniman new media yang tengah naik daun, Agan Harahap, juga ikut berpameran di ArtJog 2018.

             Tidak hanya menghadirkan ratusan karya dari seniman-seniman bernas saja. ArtJog kali ini juga menghadirkan performance art serta pertunjukan musik. Serta pernak-pernik industry kreatif yang dikelola anak-anak muda Yogyakarta, dengan konsep wearable art yang hadir di booth merchandise, menambah semarak perhelatan ini.

Displacement and landing with two palm trees' & 'Falling into place, gathered throng' karya Wawi Navarroza. (source: tim ArtJog 2018)

             “Bagi saya ArtJog kali ini berbeda dengan tahun lalu. Karya-karya yang di pamerkan pun cuku beragam dan segar. Serta, hadirnya seniman-seniman muda inilah yang cukup menarik. Menyediakan ruang berarti mengusahakan regenerasi,” tukas Bambang Nurdiansyah, pengunjung sekaligus seniman muda Yogyakarta.

Bagi kalian yang selama hidupnya belum pernah sekalipun mengunjungi pameran-pameran seni, percayalah, bahwa kalian adalah golongan orang-orang yang merugi. Yuk ajak teman-temanmu mengunjungi pameran seni di kotamu. Pasti akan sangat seru!

Related Articles
Entertainment
Tulus & Stars And Rabbit Tutup ArtJog dengan Paripurna           

Interest
Makanan Viral yang Mungkin Akan Musnah di 2019!

Interest
Menyaksikan Kondisi Sosial-Politik Lewat Bienalle Jogjakarta XV Ekuator #5