Interest

Wajib Tahu, Ini Tanda Pasanganmu Berpotensi Lakukan Kekerasan

Dwiwa

Posted on October 14th 2022

Banyaknya berita kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dalam beberapa minggu terakhir tentu membuat sebagian dari kita merasa was-was ketika akan memilih calon pasangan. Kita pun mulai bertanya-tanya, seperti apa kriteria calon pasangan yang tidak akan melakukan kekerasan, baik fisik maupun verbalĀ 

Dilansir dari Antara, Psikolog klinis Anggiastri Hanantyasari Utami mengatakan ada beberapa hal yang bisa dipertimbangkan sejak awal sebelum menentukan pasangan, khususnya pasangan hidup, demi mengantisipasi terjadinya KDRT.

"Ketika kita mau objektif dan peka, sebelum menentukan pasangan hidup ada beberapa hal yang bisa kita amati sejak dini," kata Anggiastri kepada Antara, Kamis.

Dia menjelaskan kekerasan dalam rumah tangga adalah hal yang menjurus kepada isu kesehatan mental, bisa dalam bentuk kekerasan fisik, kekerasan ekonomi dengan tidak memberikan nafkah, kekerasan seksual dalam rumah tangga, maupun kekerasan secara psikologis.

Lalu, seperti apa tanda pasangan kita berpotensi melakukan kekerasan?

Menurut psikolog di LPDK Kemuning Kembar dan Omah Perden, pertama adalah seringkali dia merendahkan kita baik secara personal maupun ketika di depan umum. Ciri lainnya adalah tidak mampu mengkomunikasikan dan menyelesaikan masalah berdua dengan baik bahkan cenderung menghindari atau kabur dari masalah.

Kemudian, perhatikan apakah pasangan sering menggunakan kata-kata kasar saat menyampaikan keluhannya. Hal lain yang harus diwaspadai adalah ketika pasangan memaksakan kehendak pada pasangannya seperti mengatur apa yang seharusnya dilakukan pasangan tanpa mau mendengar kebutuhannya.

Hati-hati juga bila pasangan merasa berkuasa dan merasa paling benar.

"Ini ditandai dengan sering menyalahkan pasangan atas sikap dan perilaku kasar yang dilakukan dilanjutkan dengan mengatakan bahwa pasangan pantas mendapatkan hal tersebut," jelasnya.

Kalian juga perlu mengamati apakah pasangan bersikap buruk kepada orang tua dan orang-orang sekitarnya. Sebab, sikap dan perilaku seseorang mencerminkan bagaimana ia tumbuh dan berkembang dalam keluarga.

"Bagaimana mereka memperlakukan orang-orang di rumah dan sekelilingnya dapat menjadi salah satu tanda, meskipun tidak mutlak, bagaimana mereka akan memperlakukan pasangannya di kemudian hari," ujar Anggiastri.

Sementara itu, pasangan yang sudah menikah sebaiknya perlu saling belajar untuk bisa memahami satu sama lain dan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi. Kelola emosi dalam pernikahan agar tidak berujung kepada kekerasan dengan cara memahami kebutuhan diri, kemudian memahami kebutuhan pasangan dan saling mengkomunikasikannya dengan baik.

Ia mengatakan dengan menempatkan kepentingan bersama, secara otomatis masing-masing akan memikirkan bagaimana cara terbaik untuk memberikan kenyamanan dan memenuhi kebutuhan pasangan.

"Perlu diingat bahwa ketika menjadi pasangan suami istri, pasangan merupakan sebuah tim yang kesuksesan tim ini ada di tangan bersama," katanya.

Ketika setiap orang mengedepankan ego dan merasa paling berhak mendapatkan apa yang diinginkan, maka yang terjadi adalah kegagalan komunikasi bahkan konflik.(*)

Foto: Pexels/Mart Production

Artikel Terkait
Interest
Studi WHO: 1 dari 3 Wanita di Dunia Jadi Korban Kekerasan Fisik atau Seksual

Lifestyle
Pacar Kamu Toxic atau Tidak? Berikut Tanda yang Harus Diwaspadai

Current Issues
Asal-Usul Challenge Foto Hitam Putih #WomenSupportingWomen dan Apa Itu Femicide