Interest

Mahasiswa UI Buat Inovasi Teknologi Desalinasi untuk Atasi Krisi Air Jakarta

Dwiwa

Posted on September 24th 2022

Mahasiswa Universitas Indonesia (UI) menawarkan inovasi membran filtrasi berbasis graphene pada metode desalinasi. Dilansir dari laman UI, inovasi ini dibuat oleh Elgrytha Victoria Tybeyuliana, Fathiya Alisa Zahrandika, Fikri Irfan Mahendra, Juan Fidel Ferdani, dan Nada Laili Nurfadhilah, mahasiswa angkatan 2019 Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, Fakultas Teknik Universitas Indonesia (DSTL FTUI) bersama dosen Teknik Lingkungan FTUI, Dr. Nyoman Suwartha M.T., M. Agr.

Mereka melakukan penelitian efektivitas graphene membrane sebagai inovasi untuk diimplementasikan pada teknologi desalinasi yang diharapkan dapat berguna untuk mengatasi krisis air di Jakarta. Hasil penelitian tersebut kemudian dituangkan dalam karya ilmiah berjudul “GO-FILTER: Sea Water Desalination Based on Graphene Oxide as a Water Treatment Innovation in Jakarta”.

“Saat ini, peningkatan pencemaran air di Jakarta mulai memicu terjadinya krisis air. Di beberapa area, air tanah sudah tidak dapat menjadi alternatif sumber air akibat penurunan muka tanah dan intrusi air laut di Jakarta," papar Dr Nyoman Suwartha yang juga merupakan Manajer Pendidikan FTUI.

Dia menambahkan, pemanfaatan air laut sebagai sumber air Jakarta dengan metode desalinasi muncul sebagai alternatif solusi. Akan tetapi, metode ini membutuhkan biaya yang cukup besar serta proses reverse osmosis dan metode distilasi bertingkat berujung pada peningkatan gas rumah kaca.

Inovasi membran filtrasi berbasis graphene - membran nanomaterial tipis - sebagai membran desalinasi memiliki beberapa keunggulan bila dibandingkan teknologi serupa lainnya yang ada.

“Membran graphene dapat memisahkan senyawa kristal putih NaCl dari air laut dengan fluks air yang signifikan. Membran graphene dapat menghemat energi sebanyak 15 persen dari pengolahan air laut dan 50 persen dari pengolahan air payau. Dengan efisiensi yang tinggi, membran graphene dapat mengolah air laut untuk sumber air baku dengan permeabilitas yang lebih tinggi dan harga yang lebih ekonomis,” kata Juan, ketua tim.

Kelurahan Kamal Muara dipilih sebagai sebagai objek studi karena daerah tersebut memiliki isu ketersediaan air yang sangat memprihatinkan. Nada mengatakan, studi mereka menunjukkan bahwa penerapan inovasi desalinasi berbasis graphene oxide dapat menghasilkan air bersih yang memenuhi kapasitas kebutuhan masyarakat setempat.

"Air bersih yang dihasilkan yakni 50.000 m3/hari dengan harga produksi sebesar Rp1.000,00/m3. Harga ini lebih murah dibandingkan bila masyarakat membeli air dari pedagang air," ujarnya.

Dekan FTUI, Prof. Dr. Heri Hermansyah, ST., M.Eng., IPU. menambahkan pengolahan air menggunakan membran graphene dapat mengatasi masalah krisis air dan memanfaatkan air laut sebagai sumber air alami. Menurutnya, jika diimplementasikan dengan perencanaan yang matang, inovasi ini lebih ramah lingkungan dan dapat meningkatkan kesejahteraan perekonomian masyarakat setempat serta menciptakan lapangan kerja peluang bagi masyarakat.

Inovasi ini berhasil meraih Gold Medal pada lomba World Science, Environment, and Engineering Competition (WSEEC) 2022. Kompetisi karya ilmiah tingkat Internasional ini diselenggarakan oleh Indonesian Young Scientists Association (IYSA), sebuah organisasi yang khusus bergerak di bidang penelitian dan karya ilmiah, untuk berperan memfasilitasi mahasiswa agar mampu bersaing di dunia industri 4.0.

 

Foto: ANTARA/HO-Humas UI

Artikel Terkait
Interest
Rancang VirtuoStroke, Tim Mahasiswa UI Jadi Finalis Kompetisi Imagine Cup 2022

Interest
Dua Tim Mobil Hemat Energi ITS Juarai Kompetisi Pemrograman Internasional

Interest
UGM Raih Runner Up dan Borong Lima Juara Pada Lomba UPES, Dehradun, India