Interest

Lagi Tren, Quiet Quitting Itu Baik atau Buruk Sih? Ini Kata Psikolog Unair

Dwiwa

Posted on September 18th 2022

Memiliki pekerjaan yang mapan, gaji besar, dan selalu pulang tepat waktu tanpa lembur adalah impian semua orang. Tetapi tentu saja di dunia nyata, kondisi ideal seperti ini sulit di dapat. Entah pulang tepat waktu tapi gaji kecil, atau gaji besar namun harus lembur setiap hari.

Jika dulu orang lebih memilih untuk resign ketika merasa tidak nyaman dengan kondisi tersebut, saat ini muncul tren quiet quitting yang cukup banyak dilakukan Gen Z dan milenial. Alih-alih keluar dari pekerjaan, orang-orang yang mengikuti tren ini lebih memilih untuk bekerja secukupnya saja untuk bertahan atau istilahnya bekerja sesuai "argo".

Dilansir Unair News, dosen Fakultas Psikologi (FPsi) Universitas Airlangga (Unair), Reza Lidia Sari SPsi MSi menjelaskan bahwa quiet quitting merupakan respons perlawanan dari hustle culture yang menganggap pentingnya dedikasi yang amat tinggi pada pekerjaan.

“Perilaku ini berkebalikan dengan extra-role behavior dimana seseorang berkenan mengerjakan pekerjaan diluar job desc-nya demi kelancaran sistem organisasi,” jelasnya.

Dosen mata kuliah Psikologi Organisasi dan Industri itu menyebutkan bahwa sejatinya quiet quitting bukan perilaku yang sepenuhnya baik atau sepenuhnya buruk.


Work Life Balance dan Mengatasi Burn Out

Ketika membatasi pekerjaan sesuai dengan porsinya, seseorang dianggap dapat menciptakan kondisi work-life balance. Kondisi ini membatasi antara dunia kerja dan dunia non kerja yang menjadi situasi idaman bagi kebanyakan gen Z dan Milenial.

“Selain itu, tren ini dianggap sebagai hal yang positif karena dapat secara efisien memaksimalkan jam kerja tanpa harus lembur,” lanjutnya.

Quiet quitting juga menjadi salah satu mekanisme koping untuk mencegah overwork. “Bisa menjadi jalan keluar untuk pulih dalam burnout dalam bekerja, menarik diri sejenak untuk mengatur ritme kerja yang lebih baik,” jelasnya.

 

Jenjang Karir dan Konflik Organisasi

Meski memiliki sejumlah dampak positif, Reza menyebut bahwa secara individual perilaku quiet quitting dapat menyebabkan seseorang kurang termotivasi dalam menjalankan perannya sebagai karyawan. Akibatnya, kontribusi yang diberikan kepada perusahaan jadi kecil sehingga pertumbuhan jenjang karir bisa terhambat.

Selain itu, Reza juga menjelaskan bahwa dalam organisasi, perilaku ini dapat menyebabkan konflik antar karyawan. “Kecemburuan sosial dapat timbul ketika melihat perbedaan beban atau waktu pulang yang berbeda, untuk itu sebelum timbul konflik sosial, pemimpin organisasi harus peka terhadap situasi ini,” sarannya (*)

 

Foto: Pixabay

Artikel Terkait
Interest
Milenial Versus Baby Boomers, Mana yang Paling Bahagia di Tempat Kerja?

Interest
Mengenang Ibu Kasur, Tokoh Pendidik Anak yang Tampil Jadi Google Doodle

Interest
Dear Gen Z, Pendapatanmu Bakal Kalahkan Milenial 10 Tahun Lagi Nih...