Interest

 Mahasiswa UGM Manfaatkan Aspal Jalanan Untuk Kurangi Suhu Panas di Perkotaan

Dwiwa

Posted on September 14th 2022

Sekelompok mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) menggagas inovasi pemanfaatan aspal sebagai kolektor panas (Asphalt Thermal Collector) untuk mengurangi peningkatan suhu akibat urban heat island (UHI).

Dilansir laman resmi UGM, ide ini diusung tim program kreativitas mahasiswa (PKM) Video Gagasan Konstrukif (VGK) UGM yakni Fikru Shidqi Helmi (Teknik Sipil 2020), Hakan Malika Anshafa (Teknik Sipil 2020), Octa Elwan Ibrahim (Teknik Sipil 2020), Nabila Alma Maharani (Teknik Sipil 2020), dan Syifa Husnun Nissa H. T. (Kimia 2021).

Asphalt Thermal Collector ini merupakan suatu inovasi mengurangi UHI dengan cara menyerap panas pada permukaan aspal menggunakan cairan yang mengalir di dalam pipa. Dengan menurunnya suhu pada aspal, suhu kota sekitarnya turut menurun atau lebih sejuk dari sebelumnya,” jelas Fikru.

Menurutnya, ide penerapan Asphalt Thermal Collector berawal dari tingginya suhu perkotaan. Peristiwa meningkatnya suhu ini tidak lepas dari fenomena Urban Heat Island (UHI) yaitu suhu perkotaan lebih tinggi daripada daerah di sekitarnya.

Salah satunya adalah bertambahnya jalanan aspal. Seperti diketahui aspal memiliki sifat menyerap panas dan di siang hari jalanan aspal dapat mencapai suhu hingga 48°C. Oleh karena itu, perlu adanya inovasi untuk mengatasi persoalan tersebut.

Lima mahasiswa muda ini pun memanfaatkan aspal untuk melawan fenomena UHI. Penyerapan panas oleh aspal yang sebelumnya justru mempercepat proses UHI karena radiasi dapat diputarbalikkan untuk mengurangi efek UHI dengan menerapkan Asphalt Thermal Collector.

Fikru menjelaskan teknis pemasangan dari Asphalt Thermal Collector adalah dengan pemasangan pipa set berbahan polypropylene yang ditanamkan ke jalan dengan kedalaman 2,5 cm dari permukaan. Pemasangan pipa dilakukan secara mengular dan dibuat segmen jalan setiap lima meter untuk memudahkan dalam pemeliharaan.

Selain itu juga dilengkapi dengan komponen pendukung berupa pompa dan bak penampung. Komponen pendukung ini diletakkan di bawah trotoar dan terdapat pintu bagian atas untuk kebutuhan pemeliharaan juga.

Mekanisme kerjanya, air dialirkan dalam pipa melalui inlet dengan pompa dalam kondisi dingin. Seiring bergeraknya cairan di dalam pipa, panas pada lapisan aspal akan terserap oleh air. Air yang keluar dari pipa outlet akan memiliki suhu yang lebih tinggi. Air tersebut kemudian diitampung dalam wadah yang kemudian berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai kebutuhan komersial.

“Selain untuk mengurangi efek UHI, suhu aspal yang rendah juga dapat meningkatkan keawetan pada aspal. Aspal yang awet akan menyebabkan biaya perawatan yang rendah dan keselamatan berkendara di jalan raya juga lebih terjamin,” pungkasnya. (*)

 

Foto: Laman resmi UGM

Artikel Terkait
Interest
STUNTECH, Aplikasi Deteksi Dini Stunting Buatan Mahasiswa UGM

Interest
Mahasiswa UGM Gunakan Mikroalga Sebagai Bahan Alternatif Minyak Goreng

Interest
Mahasiswa UGM Kembangkan Tongkat Pintar untuk Lansia dan Tunanetra