Current Issues

India dan Tiongkok Beri Lampu Hijau Vaksin Covid-19 Tanpa Jarum

Dwiwa

Posted on September 8th 2022

India dan Tiongkok telah membuka pendekatan baru tekait vaksinasi Covid-19. Kedua negara ini telah menyetujui penggunaan vaksin Covid-19 bebas jarum untuk diberikan kepada warganya.

Dilansir dari Associated Press (AP) pihak berwenang di India telah mengizinkan vaksin versi hidung milik Bharat Biotech pada hari Selasa sebagai pilihan bagi orang-orang yang belum divaksinasi.

“Langkah ini akan semakin memperkuat perjuangan kolektif kita melawan pandemi,” kata menteri kesehatan India Mansukh Mandaviya di Twitter.

Tidak jelas seberapa baik vaksin Covid-19 versi hidung ini bekerja. Bharat tidak segera merilis hasil studinya atau mengatakan seberapa cepat opsi baru akan diluncurkan.

Vaksin hidung India dikembangkan oleh para ilmuwan di Universitas Washington di St. Louis dan kemudian dilisensikan kepada pembuat vaksin India Bharat Biotech. Perusahaan melakukan dua uji coba, memberikan dua dosis vaksin kepada 3.100 sukarelawan yang sebelumnya tidak divaksinasi dan sebagai booster kepada sekitar 875 sukarelawan yang telah menerima dua suntikan vaksin Covid-19 lainnya.

Bharat juga sedang mencari izin agar semprotan hidung bisa digunakan sebagai booster untuk dua pertiga orang di India yang sudah divaksinasi.

Semprotan hidung Bharat menggunakan virus flu simpanse yang tidak berbahaya untuk mengirimkan salinan protein spike virus Corona ke lapisan hidung. Fungsinya adalah untuk melatih tubuh agar bereaksi jika bertemu virus asli.

Sementara itu, CanSino Biologics mengumumkan pada hari Minggu bahwa pihak berwenang Tiongkok telah menyetujui versi inhalasi dari vaksin Covid-19 buatan mereka yang digunakan sebagai dosis booster. Perusahaan merujuk pada hasil awal studi yang menunjukkan versi inhalasi meningkatkan perlindungan kekebalan setelah satu isapan.

Tidak diketahui secara jelas apakah itu berarti peningkatan efektivitas, atau kapan booster inhalasi akan tersedia.

Sejauh ini, vaksin Covid-19 yang banyak digunakan di dunia masih harus disuntikkan. Vaksin jenis ini telah menyelamatkan jutaan nyawa dan terus menawarkan perlindungan yang kuat terhadap penyakit parah dan kematian, bahkan ketika varian virus Corona yang lebih menular beredar.

Tetapi versi bebas suntikan sedang dieksplorasi sebagai strategi untuk meningkatkan perlindungan terhadap infeksi. Secara khusus pengembangannya berfokus pada vaksin hidung yang dirancang untuk menangkis virus tepat di tempat ia memasuki tubuh.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, hampir selusin kandidat yang mungkin sedang dalam berbagai tahap pengujian secara global. CanSino's merupakan salah satu dari dua kandidat vaksin inhalasi yang sedang dikembangkan.

Booster inhalasi CanSino menggunakan virus flu manusia serupa yang tidak berbahaya. Versi ini adalah vaksin injeksi satu dosis perusahaan yang diubah menjadi bentuk aerosol. Vaksin yang dihirup sebagian besar diuji sebagai booster untuk orang-orang yang telah menerima suntikan Covid-19 perusahaan Tiongkok lainnya.

Ashley St. John, seorang ahli imunologi di Duke-NUS Medical School di Singapura, mengatakan para ilmuwan sedang mengejar pilihan vaksin Covid-19 melalui hidung dan inhalasi karena sistem kekebalan memiliki alat khusus untuk melindungi berbagai tempat di tubuh kita dengan cara yang sedikit berbeda.

“Keuntungan dengan vaksin hidung adalah dapat menyingkirkan virus sebelum memiliki kesempatan untuk membangun dirinya di paru-paru dan bereplikasi,” kata Dr. Vineeta Bal, seorang ahli imunologi dan profesor di Indian Institute of Science Education Research di kota Pune.

Keuntungan yang dimiliki vaksin yang disemprotkan melalui mulut akan tergantung pada ukuran droplet individu dalam semprotan, tambah Bal. Sroplet besar akan melatih pertahanan di mulut dan bagian tenggorokan, sementara droplet yang lebih kecil diharapkan untuk melakukan perjalanan lebih dalam dan mencapai paru-paru.

Dr. Michael Diamond dari Universitas Washington di St. Louis, yang membantu menciptakan vaksin yang dilisensikan ke Bharat , mengataka vaksin semprotan hidung mungkin juga lebih mudah diberikan dibanding suntikan, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah.

Pada Oktober 2021, Kementerian Kesehatan Rusia mengizinkan uji coba awal bentuk hidung Sputnik V di antara 500 sukarelawan. Tetapi status uji coba tersebut dan ketersediaan vaksin masih belum jelas.(*)

Foto: Pixabay

Artikel Terkait
Current Issues
Studi: Suntikan Vaksin Covid-19 untuk Penyintas Hasilkan Kekebalan Tinggi

Current Issues
1,5 Juta Vaksin Pfizer Tiba, Bisa Digunakan untuk Warga Usia 12 Tahun ke Atas

Current Issues
Vaksin Covid-19 di Amerika Serikat Diperkirakan Selamatkan Hampir 280.000 Nyawa