Interest

Unik, Sebuah Restoran di Inggris Bagikan Info Jejak Karbon di Menunya

Dwiwa

Posted on August 10th 2022

Menu di restoran biasanya akan menyajikan makanan apa yang tersedia lengkap dengan harganya. Tetapi menu di The Canteen, sebuah restoran di barat daya Inggris, menambahkan informasi lain, yakni jejak karbon yang terkandung di dalam setiap makanan.

Misalnya saja pada menu beetroot and carrot pakora with yoghurt, hanya bertanggung jawab atas 16 gram emisi CO2. Kemudian menu terung dengan saus miso dan harissa dengan tabbouleh dan roti panggang Zaatar menghasilkan 675 gram karbon dioksida.

Ketika pelanggan mempertimbangkan pilihan mereka, menu di restoran vegetarian di Bristol itu juga memperlihatkan perbandingan dengan hidangan yang tidak disajikan: emisi dari hamburger yang diproduksi di Inggris. Dalam menu tersebut, dituliskan bahwa emisi dari burger daging sapi asli adalah 10 kali jumlah alternatif vegannya.

The Canteen pada bulan Juli menjadi restoran pertama yang setuju untuk memberikan informasi jejak karbon pada menu yang mereka sajikan di bawah kampanye yang dipelopori oleh badan amal kampanye vegan Inggris, Viva!. Manajer restoran The Canteen, Liam Stock, menyebut langkah itu sebagai cara untuk melihat dan memahami apa yang telah manusia lakukan terkait krisis iklim.

Untuk menghitung jejak karbon pada setiap piring, The Canteen mengirimkan resep dan sumber bahannya ke perusahaan khusus bernama MyEmissions. Perusahaan tersebut akan menghitung dampak karbon yang dihasilkan dengan mempertimbangkan aspek pertanian, pemrosesan, pengangkutan, hingga pengemasan.

Belum diketahui apakah penambahan informasi jejak karbon pada menu yang disajikan berdampak pada pilihan pelanggan. Tetapi Stock mengatakan inovasi menu ini telah membuat orang tertari dan memberikan dukungan.

“Di Inggris, jika kamu memiliki restoran besar, sudah kewajiban untuk menyediakan infoemasi soal kalori di menu. Tapi banyak orang mengatakan mereka lebih tertarik pada jejak karbon,” kata Stock, dilansir dari AFP.

Dia mengklaim jika hidangan di restorannya menghasilkan jejak karbon rendah karena sebagian besar bahannya berasal dari dalam negeri.

Jejak karbon dari bisnis dan konsumen semakin mendapat sorotan ketika banyak negara berjuang untuk membatasi kenaikan suhu global hingga 1,5 derajat Celcius dan untuk mencapai emisi nol bersih pada tahun 2050.

Pada April lalu, para ahli dari Panel Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim PBB mengatakan beralih ke pola makan nabati adalah salah satu cara paling efektif bagi seseorang untuk mengurangi jejak karbon mereka.

Sementara itu, Laura Hellwig, manajer kampanye di Viva!, mengatakan angka jejak karbon harus diwajibkan. Dia menyebut jika kita sedang berada dalam keadaan darurat iklim dan konsumen harus dapat membuat pilihan yang tepat.

Dalam pandangannya, kebanyakan orang akan benar-benar memilih untuk planet ini jika dihadapkan dengan perbandingan antara jejak karbon dari makanan berbasis daging dan hidangan vegan. (*)

 

Ilustrasi: Pixabay

Artikel Terkait
Entertainment
Drake Kerja Sama bareng Startup Finansial Ramah Lingkungan buat Selamatkan Bumi

Interest
Mengapa Kita Sulit Tidur Saat Cuaca Panas?

Interest
Kini Es di Bumi Mencair Jauh Lebih Cepat Dibanding Pertengahan 1990-an