Current Issues

Inikah Hewan yang Pertama Kali Menularkan Covid-19 ke Manusia?

Dwiwa

Posted on August 10th 2022

Darimana asal Covid-19 masih menjadi misteri hingga saat ini. Tetapi sebuah studi baru mengungkap jika anjing rakun menjadi salah satu sumber yang paling mungkin menjadi penyebab kesengsaraan manusia 2,5 tahun terakhir ini. Hewan ini banyak dibiakkan dan di jual di Tiongkok, baik untuk daging maupun bulunya yang mewah.

Dilansir dari USA Today via Yahoo News, studi itu menyebut jika hewan berbulu asli Asia ini mungkin menjadi perantara dalam penularan virus ke manusia. Hewan tersebut mungkin mendapatkan virus SARS-CoV-2 dari kelelawar dan menyebarkannya ke orang-orang di pasar Tiongkok hingga memicu pandemi Covid-19 global.

Tidak ada cara pasti untuk mengetahui hal ini. Tetapi Chris Newman, seorang ahli biologi, ekologi dan penelitia yang berhubungan dengan Universitas Oxford mengatakanan sampel yang diambil dari kandang dan gerobak yang digunakan untuk menampung dan mengangkut anjing rakun di Pasar Makanan Laut Huanan di Wuhan, Tiongkok pada akhir 2019 mengandung jejak virus.

“Sejauh kekhawatiran ahli virologi, melihat strain evolusi dari virus itu sendiri, sangat masuk akal jika (SARS-CoV-2) berevolusi pada kelelawar kemudian menyebar melalui anjing rakun sebagai perantara utama,” ujar Newman yang juga merupakan salah satu penulis studi.

Dia menambahkan, pasar basah yang menjual daging dan hewan hidup, telah ditutup di seluruh Tiongkok sejak awal pandemi. Tetapi di beberapa negara lain masih beroperasi.

Pasar basah sering memelihara hewan dalam kondisi yang oleh kebanyakan orang dianggap mengerikan, dan dapat memicu penyakit. Newman menggambarkan kandang anjing rakun dan mamalia lain seperti marmut ditumpuk tinggi. Urin dan kotoran hewan di kandang atas jatuh ke kandang bawah, berpotensi menularkan virus dan bakteri.

Menurut Newman, hewan-hewan tersebut disembelih sesuai permintaan dan tidak dengan cara yang baik. Di peternakan bulu, anjing rakun dan rubah dikuliti hidup-hidup atau disetrum. Di pasar, penjual menyembelih mereka dengan pisau, memberikan apa yang konsumen anggap sebagai daging segar.

Meskipun data yang ada tidak bisa memberikan bukti pasti jika dari sinilah SARS-CoV-2 akhirnya berpindah ke manusia, Newman dan lainnya mengatakan itu merupakan jalur yang sangat masuk akal..

Menurut Thomas Muller, seorang dokter hewan yang terlibat dalam salah satu penelitian. studi menunjukkan jika anjing rakun dapat terinfeksi dan menyebarkan virus SARS-CoV-2 meskipun mereka tidak terlihat sakit.

 

Apakah pasar basah adalah awal mula?

Ada banyak lokasi potensial di Wuhan, dimana virus itu kemungkinan berasal. Tetapi studi baru, yang diterbitkan dalam jurnal "Science" yang ditinjau oleh rekan sejawat, menyelidiki banyak pilihan, yang semuanya berasal dari di pasar tertentu.

Dalam utas Twitter terperinci yang diposting pada akhir Juli, rekan penulis studi Angela Rasmussen, seorang ahli virologi, menulis bahwa semua data yang tersedia menunjuk ke pasar makanan laut sebagai awal mula dibanding laboratorium penelitian di kota yang sama. Dia menyebut jika meskipun datanya tidak lengkap dan sempurna, itu dapat menunjukkan jika pandemi dimulai di Huanan melalui Zoonosis, buka kebocoran lab.

Pasar Huanan telah lama dicurigai sebagai titik asal SARS-CoV-2. W. Ian Lipkin, seorang ahli epidemiologi dan direktur Pusat Infeksi dan Kekebalan di Mailman School of Public Health di Columbia University mengatakan tempat itu dilihat sebagai sumber yang paling mungkin pada Januari 2020. Ketika itu dia bertemu dengan rekan-rekannya di Beijing untuk membahas wabah yang relatif kecil dari penyakit baru yang belum disebutkan namanya.

Sejak jauh sebelum Covid-19, Lipkin berpendapat bahwa pasar hewan liar seperti Huanan berbahaya dan harus ditutup di seluruh dunia. Kontrol yang lebih banyak juga harus ditambahkan ke penelitian laboratorium yang melibatkan satwa liar.

"Terlepas dari kemungkinan besar bahwa pasar hewan liar ini atau lainnya memicu pandemi, bekerja dengan bahan dari satwa liar hanya boleh dilakukan di biokontainmen," kata Lipkin, mengacu pada protokol laboratorium yang mengurangi risiko penularan patogen.

Kontak apa pun yang dilakukan hewan liar dengan manusia menimbulkan risiko penyakit yang dapat berlanjut, kata Müller, yang berspesialisasi dalam virologi dan epidemiologi di Friedrich-Loeffler-Institut di Riems, Jerman. Babi bisa tertular flu dari manusia dan sebaliknya, katanya.

Banyak penyakit diketahui berasal dari hewan liar, termasuk Ebola, Zika, flu, wabah, penyakit Lyme, dan rabies. Virus SARS pertama, yang terdeteksi di Tiongkok pada tahun 2002, diyakini telah berpindah dari kelelawar ke musang, makhluk seukuran kucing dengan ekor berbulu panjang dan moncong runcing, sebelum melompat ke manusia.

Manusia telah meningkatkan risiko penyakit zoonosis ini dalam beberapa tahun terakhir, kata Müller, dengan melanggar batas wilayah yang digunakan oleh hewan liar melalui penebangan, perburuan dan urbanisasi, serta sikap yang memandang semua hewan sebagai hewan peliharaan potensial daripada potensi bahaya.

"Setiap jenis tindakan mitigasi risiko dalam hal perilaku manusia - itu adalah kunci untuk menghindari peristiwa penularan lintas spesies ini di masa depan," kata Müller.(*)

Ilustrasi: Pixabay

Artikel Terkait
Current Issues
Misteri Pandemi: Ilmuwan Kini Fokus Pada Asal-Usul Covid-19 dari Hewan

Current Issues
Para Ahli di Tim WHO Sebut Pencarian Asal Usul Covid-19 Telah Terhenti

Current Issues
WHO Kembali Lakukan Investigasi untuk Mencari Asal-Usul Covid-19