Interest

Mitos-Mitos Diet dan Olahraga yang Sering Didengar, Ada yang Kamu Lakukan?

Dwiwa

Posted on July 31st 2022

Perkembangan teknologi membuat informasi tentang diet dan olahraga jadi semakin mudah didapat. Meski hal ini dapat mendorong agar lebih banyak orang memiliki gaya hidup sehat, tetapi informasi yang menyesatkan juga bisa berakibat buruk bagi kesehatan seseorang.

Apalagi, menurut para ahli sebuah keyakinan yang berkembang ketika kita masih muda terkait apa yang sehat dan tidak sehat, dapat terus tertanam hingga seumur hidup. Ini akan sangat berbahaya jika keyakinan yang kita miliki itu tidak benar.

Dilansir CNN, berikut beberapa asumsi soal diet dan olahraga yang sering dipercaya orang padahal itu hanya sekadar mitos.

 

1. Diet populer berseliweran di media sosial jadi pasti berhasil

Menurunkan berat badan secara instan tentu terdengar menarik. Berbagai diet populer yang tidak memiliki bukti ilmiah, membatasi asupan nutrisi tertentu atau melarang kelompok makanan tertentu, serta menjanjikan dapat menurunkan berat badan secara cepat dikenal dengan fad diet.

Salah satu yang populer adalah Keto. Diet ini melarang pelakunya untuk mengonsumsi biji-bijian, kacang-kacangan, dan buah kecuali beberapa beri. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), menghilangkan mikronutrien penting itu tidak sehat. Selain itu, diet ketat juga cenderung tidak bisa bertahan dalam waktu lama.

“Pembatasan seperti itu dalam jangka panjang mengarah pada penambahan berat badan, bukan penurunan berat badan. Seringkali mengarah pada siklus berat badan,” ujar Nina Taylor, manajer pendidikan di National Alliance for Eating Disorders.

Melakukan diet kemudian berhenti disebut dengan siklus berat badan atau diet yo-yo. Studi menemukan jika pola makan ini berkaitan dengan lemak tubuh, tekanan darah, dan kolesterol yang lebih tinggi. Semua itu meningkatkan risiko penyakit najtung koroner dan kematian jantung mendadak pada perempuan.

Studi menunjukkan, menjalani pola makan nabati, memperhatikan asupan gula dan membatasi makan tanpa berpikir adalah cara yang bagus untuk berumur panjang.

2. Media sosioal bisa menginspirasi untuk diet dan olahraga

Penelitian menunjukkan anak muda percaya beralih ke video kebugaran dan diet di TikTok, Facebook, atau media sosial lainnya akan menginspirasi mereka untuk menjadi versi yang lebih baik dari diri mereka sendiri, kata Taylor.

"Mereka percaya itu akan menjadi motivasi untuk berolahraga atau diet," kata Taylor. "Namun, apa yang dicapai adalah ketidakpuasan tubuh - perbandingan sosial dan banyak kekhawatiran tentang tubuh dan berat badan. Itu semua adalah faktor risiko perkembangan gangguan makan."

Dia menambahkan para ahli khawatir disforia tubuh mungkin meningkat selama pandemi karena lebih banyak anak muda menghabiskan waktu di media sosial. Mereka juga menghadapi isolasi sosial dan rutinitas yang terganggu.

"Gangguan makan seringkali merupakan mekanisme koping," katanya. "Ini adalah cara untuk merasa memegang kendali dan menghadapi emosi yang sulit."

Makan intuitif adalah cara alami untuk mendengarkan isyarat tubuh tentang rasa lapar dan kenyang. Menurut para ahli ini membentuk cara makan yang lebih sehat. Beberapa menyebutnya "anti-diet."

3. Sit up bisa hilangkan lemak perut

Pada kenyataannya, olahraga membakar lemak di seluruh tubuh, bukan hanya bagian tubuh yang menjadi target latihan kita.

"Kalian dapat melakukan latihan untuk meningkatkan kekuatan otot, tetapi tidak dapat mengurangi bagian tertentu untuk menghilangkan lemak," kata Dr. Angela Smith, mantan presiden American College of Sports Medicine.

Para ahli menyarankan meningkatkan cardio untuk membakar lemak. Upayakan rutinitas kebugaran yang seimbang dengan memvariasikan intensitas latihan untuk memasukkan latihan intensitas tinggi dan rendah.

4. Aku harus olahraga atau diet sepanjang waktu untuk mengubah tipe tubuh

Ada kepercayaan bahwa berolahraga atau diet sepanjang waktu dapat mengubah tipe tubuh dasar kita, kata Taylor.

"Khususnya di antara kelompok usia yang lebih muda, asumsinya adalah 'jika aku diet lebih baik, atau jika aku berolahraga lebih banyak, aku akan memiliki tubuh dengan bentuk tertentu'. Kenyataannya adalah ada berbagai macam dan keragaman tipe tubuh yang semuanya normal dan sehat."

Menurut Smith, genetika adalah kunci bagaimana olahraga dapat memengaruhi tubuh. Dia menambahkan, beberapa di antaranya mungkin ditentukan oleh bentuk dan ukuran otot. Selain itu bisa kemungkinan juga ditentukan oleh keseimbangan hormonal yang dimiliki saat lahir.

Taylor mengatakan gagasan bahwa setiap orang bisa menurunkan atau menambah berat badan untuk mendapatkan citra tubuh ideal adalah hal yang tidak masuk akal. (*) 

 

Foto: Pixabay

Artikel Terkait
Interest
Biar Badan Nggak Melar, Begini Cara Jitu Jaga Pola Makan Usai Ramadhan

Interest
5 Tips Jaga Berat Badan Ideal Selama Social Distancing

Interest
7 Olah Raga Ringan yang Bisa Kamu Lakuin di Rumah