Current Issues

Meski Monkeypox Belum Terdeteksi di Indonesia, Masyarakat Diminta Tetap Waspada

Dwiwa

Posted on July 28th 2022

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan cacar monyet alias Monkeypox sebagai darurat kesehatan global. Menurut laman Sehat Negeriku Kementerian Kesehatan, hingga 27 Juli 2022, ada 17.156 orang di 75 negara dikonfirmasi terinfeksi Monkeypox. Sebanyak 69 di antaranya bukan negara endemis Monkeypox.

Kabar baiknya, sampai saat ini, virus Monkeypox tidak terdeteksi di Indonesia. Meski begitu, Menkes Budi Gunadi Sadikin meminta masyarakat tetap waspada.

“Ini (Monkeypox) baru menular jika gejalanya sudah terlihat,” ujar Menkes Budi, Rabu, 27 Juli 2022, seperti dikutip dari laman Sehat Negeriku Kemkes.

Berbeda dengan Covid-19, penularan virus Monkeypox terjadi melalui sentuhan fisik dengan penderita. Virus ditularkan lewat cairan yang melepuh dari ruam atau bercak merah dari penderita.

Gejala awal dimulai dari demam dan merasa kurang sehat. Tapi baru diduga kuat sebagai penyakit Monkeypox setelah ada bercak merah.

Bercak tersebut harus cepat diambil cairannya untuk pemeriksaan lab dan diagnosa. Biasanya penyakit ini bisa sembuh dalam waktu 2 minggu sampai 4 minggu.

Di Indonesia sendiri sempat ada 9 orang suspek Monkeypox. Namun setelah melalui pemeriksaan laboratorium mereka dinyatakan bukan terkena Monkeypox. Ada pula 2 orang kontak erat dari Singapura yang transit di Indonesia yang akan menuju Malaysia.

“Jadi sampai sekarang Indonesia belum ada kasus Monkeypox,” ucap Menkes Budi.

Sementara itu Juru Bicara Covid-19 Kementerian Kesehatan, Moh. Syahril dalam keterangan pers “Update Perkembangan Cacar Monyet di Indonesia  pada Rabu mengatakan jika meskipun Monkeypox belum terdeteksi di Indonesia, mitigasi telah dilakukan Kementerian Kesehatan. Tujuannya adalah untuk mengantisipasi masuk dan menyebarnya Monkeypox di Indonesia.

Beberapa hal yang dilakukan diantaranya memperkuat pemeriksaan surveilans di pintu masuk ke negara baik darat, laut dan udara. Selain itu juga meminta seluruh dinkes provinsi dan Kabupaten/Kota, KKP, laboratorium, rumah sakit, puskesmas dan fasyankes lainnya untuk meningkatkan kewaspadaan terutama pasca penetapan Monkeypox sebagai PHEIC oleh WHO pada 23 Juli lalu.

Kemenkes juga telah menyiapkan dua laboratorium rujukan pemeriksa Monkeypox di Indonesia yaitu Pusat Studi Satwa Primata LPPM IPB dan Laboratorium Penelitian Penyakit Infeksi Prof. Sri Oemiyati BKPK.

Untuk pencegahan ditingkat masyarakat, Syahril mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan diri dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan seperti menghindari kerumunan, mencuci tangan dengan sabun/alkohol, menggunakan masker serta membudayakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Syahril menyebut prokes masih menjadi cara paling ampuh untuk mencegah Monkeypox mengingat karakteristiknya yang hampir mirip dengan Covid-19. Kedua penyakit ini memiliki karakteristik self limiting disease atau bisa sembuh sendiri dengan gejala yang muncul sekitar 2 sampai 4 minggu. Obat khusus ataupun vaksin untuk Monkeypox sampai saat ini masih belum ada.

“Prokes adalah kebutuhan wajib kita untuk menghindari penularan baik dari Covid-19 maupun penyakit infeksi emerging lainnya termasuk Monkeypox dan Hepatitis Akut,” pesan Syahril.

Walaupun gejalanya cenderung ringan bahkan sembuh sendiri, Monkeypox bisa menjadi penyakit derajat berat dan berpotensi menyebabkan komplikasi penyakit seperti infeksi sekunder, bronkopneumonia, sepsis, dan ensefalitis. Ini juga bisa menyebabkan infeksi kornea sehingga menyebabkan kebutaan manakala tidak segera mendapatkan penanganan medis.

“Apabila mengalami gejala demam dan ruam, harap memeriksakan diri ke fasilitas layanan kesehatan terdekat jika mengalami gejala serupa,” pungkasnya.(*)

Ilustrasi: Pixabay

Artikel Terkait
Current Issues
Kasus Monkeypox Capai Lebih dari 6.000, WHO Kembali Adakan Pertemuan Darurat

Current Issues
Kasus Monkeypox Terus Naik Secara Global, Ini Gejala yang Perlu Diwaspadai

Current Issues
WHO Tetapkan Monkeypox Sebagai Darurat Kesehatan Global