Interest

Sosiolog Sebut Akses Tidak Terbatas Pada Medsos Picu Perundungan Anak

Dwiwa

Posted on July 24th 2022

Kasus perundungan berujung kematian yang terjadi di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, baru-baru ini menggegerkan publik. Tindakan perundungan yang disertai dengan asusila ini jadi semakin miris karena pelaku dan korbannya adalah anak-anak di bawah umur.

Dilansir Antara, Sosiolog Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta Dr Mukhijab menilai munculnya perundungan anak seperti kasus tersebut diakibatkan oleh akses anak terhadap media sosial yang tidak terbatas.

"Banyak anak yang sekarang bebas mengakses informasi apapun di media sosial yang kemudian mereproduksi perilaku sesuai yang mereka lihat," kata Mukhijab saat dihubungi di Yogyakarta, Sabtu.

Dia menyebut belakangan para orang tua justru memfasilitasi anak-anak mereka dengan telepon pintar atau gawai tanpa melakukan kontrol atau pembatasan. Padahal menurutnya, anak-anak memiliki kecenderungan mereproduksi apapun yang mereka dapatkan di media sosial, termasuk beragam informasi negatif seperti kekerasan hingga pornografi.

"Ada semacam reproduksi perilaku oleh anak-anak atau remaja dari apa yang mereka lihat entah di Youtube, atau medsos lainnya. Mereka ingin melihat secara riil bahwa itu bisa dilakukan juga di dunia nyata," kata dia.

Mukhijab mengatakan fenomena perundungan atau 'bullying' sudah ada sejak lama. Tetapi itu menjadi semakin parah seiring kemunculan media sosial yang dapat diakses anak-anak tanpa adanya pembatasan.

Rasa empati terhadap sesama, sopan santun atau budi pekerti, serta aspek moral yang seharusnya tertanam pada diri anak, menjadi tercerabut ketika asupan yang mereka terima lebih banyak bersumber dari medsos.

"Mereka boleh mengakses apa saja. Di sini problem karena anak belum bisa membedakan mana konten yang layak, dan tidak layak sesuai umurnya," kata dia.

Di Indonesia, masyarakat termasuk generasi muda, dan anak-anak, rata-rata mengakses medsos melalui gawai 8 jam dalam sehari. Menurutnya, lamanya waktu bersinggungan dengan telepon pintar dan mengaksesnya membuat pengaruh smartphone jadi lebih dominan.

Di sinilah orang tua serta para pendidik di sekolah dapat berperan menjadi benteng utama menyelamatkan anak dari paparan negatif media sosial. Mukhijab mengungkapkan meski persinggungan teknologi informasi lumrah seiring perkembangan zaman, orang tua tidak boleh memberikan telepon pintar tanpa memberikan kontrol dan pendampingan.

"Saya kira peran orang tua paling utama karena mereka memiliki kesempatan lebih banyak berinteraksi dengan anak-anak mereka," ujar dia. (*)

 

Foto: Pexels

Artikel Terkait
Interest
Jangan Biarkan Bullying Tumbuh Subur, Lakukan Hal Ini Jika Kalian Jadi Korban

Interest
Greta Thunberg Cerita Pernah di-Bully: "Aku Sangat Kesepian"

Interest
Mendikbud Nadiem Menyebut Angka Bullying Pelajar Indonesia Masih Tinggi