Sport

3 Alasan Andrea Dovizioso Mundur dari MotoGP

Tora Nodisa

Posted on July 15th 2022

Foto: MotoGP.com

Penggemar MotoGP dikejutkan dengan berita Andrea Dovizioso yang berencana berencana pensiun. Namun semua pemberitaan terkait keputusan pembalap Italia tersebut masih simpang siur. Hingga kemudian, pembalap berusia 36 tahun ini menjelaskan duduk permasalahannya. Ada beberapa alasan yang menyebabkan Dovi memilih mundur dari balapan yang membesarkan namanya. Berikut alasannya:

1. Tak Punya Motivasi Balapan Lagi

Sejak kemunculannya di MotoGP pada tahun 2009, Dovi selalu mengisi line-up tim-tim pabrikan. Mulai dari Repsol Honda, hingga Ducati Team. Bahkan Dovi sangat identik dengan Ducati yang dia tunggangi sejak 2013 hingga 2020. Tapi dalam dua tahun terakhir, Dovi bergabung dengan tim satelit, sehingga kurang dapat dukungan. Khususnya dalam hal pengembangan motor.

RNF Yamaha merupakan tim metamorfosis dari Petronas Yamaha SRT. Dovi masuk tim ini di akhir musim 2021, dan diteruskan ke musim 22. Dalam 11 balapan di MotoGP 22, dia hanya mendapatkan 10 poin. Dovi terpuruk di antara para rookie seperti Darryn Binder, Remy Gardner dan Raul Fernandez, yang baru masuk MotoGP.

Performa Dovi terjun bebas. Padahal dia adalah runner-up MotoGP di bawah Marc Marques sejak 2017 hingga 2019, serta finis di urutan keempat di musim 2020. Sejak memutus hubungan dengan Ducati, Dovi seperti kehilangan taringnya. Setelah lelah berjuang bersama RNF Yamaha, Dovi akhirnya memutuskan mundur. 

"Yang pasti saya tidak akan balapan," katanya, dikutip dari motogp.com. "Saya tidak punya motivasi lagi untuk balapan. Saya selalu mengatakan bahwa jika saya tidak bisa kompetitif, maka saya akan meninggalkan MotoGP."

2. RNF Yamaha Bukan Tim yang Bisa Diharapkan

Memang cukup berani ketika Andrea Dovizioso pada akhirnya menyinggung soal RNF Yamaha. Namun dia terpaksa mengatakan semuanya agar tim-tim di MotoGP berbenah. Terutama dari sisi teknisi motor. Dovi menyebut RNF Yamaha tidak punya sumber daya manusia yang cukup baik untuk pengembangan motor. 

"Saya rasa balapan semakin sulit dari waktu ke waktu. Kendala dalam latihan semakin banyak, dan ketika kualifikasi hasilnya buruk. Sulit bagi saya untuk mengangkat performa tim, ketika selalu start dari barisan belakang," katanya. 

Dovi mengendarai Yamaha YZR-M1 sama seperti Fabio Quartararo dan Franco Morbidelli. Tapi keduanya lebih baik dari Dovizioso. Menurutnya, ada yang salah dari Yamaha. Mereka hanya mengembangkan motor berdasarkan satu atau dua gaya dalam balapan. 

"Saya pikir Yamaha saat ini cukup luar biasa," katanya. "Kita sebenarnya bisa memacu motor, serta melakukan pengereman dengan baik. Hanya saja ada beberapa bagian yang kurang bagus," jelasnya. 

Jika Fabio (Quartararo) bisa menang, tentu ada alasannya. Saya punya cara memacu motor yang berbeda dengannya. Seperti Franco (Morbidelli) yang memanfaatkan lebih banyak sudut setiap kali berbelo, dia tidak mengerem dengan keras. Berbeda dengan saya, yang memakai sudut sempit sehingga harus mengerem lebih dalam. Sementara akselerasi Yamaha tidak secepat Ducati."

Faktanya, Quartararo sempat mengeluhkan karena kekurangan utama motor Yamaha adalah tenaga. Sementara Dovizioso sudah pernah protes bawah grip motor Yamaha bermasalah. Rumornya, RNF akan ganti motor dari Yamaha ke Aprillia. Namun Dovi sudah tidak tertarik untuk balapan lagi. 

3. Tren MotoGP Bergeser

Dovizioso masuk ke kelas MotoGP pada tahun 2008, namun dia sudah memulai karir sebagai pembalap profesional sejak tahun 2001. Dovi sudah cukup makan asam-garam kerasanya persaingan di sirkuit. Dan, dia menilai ada pergeseran tren di MotoGP. 

"MotoGP telah banyak berubah. Banyak sekali. Di masa lalu, atau tepatnya 10 tahun yang lalu, biasanya selalu ada pembalap yang sama peringkat teratas. Bukan masalah motornya, namun karena dia memang punya skill yang bagus. Sekarang berbeda, mekanik lebih penting. Hal-hal kecil dalam tim sangat berpengaruh dalam banyak hal," ungkapnya. 

Tim-tim pabrikan jelas punya mekanik atau teknisi yang mengerti betul dengan motor dan pengembangannya. Sementara tim-tim satelit harus mempelajari motor tersebut. Ketika Dovi di Ducati Team, dia mendapatkan semua dukungan tim, termasuk mekanik handal. Sebaliknya di RNF, dia tidak mendapatkan hal tersebut. (*)

Artikel Terkait
Sport
Cetak Hat-Trick, Fabio Quartararo Perkasa di Puncak Klasemen

Sport
Francesco Bagnaia Di Ambang Gelar Pertamanya setelah Menang di Malaysia

Sport
Fabio Qaurtararo Kukuh di Puncak Klasemen Setelah Menang di GP Barcelona