Current Issues

Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 Dominasi 81 Persen dari Varian Covid-19 Nasional

Dwiwa

Posted on July 14th 2022

Subvarian baru Omicron BA.4 dan BA.5 telah mendominasi di Indonesia. Dilansir dari Antara, Koordinator Tim Pakar dan Juru Bicara Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito, kedua subvarian ini mendominasi sekitar 81 persen dari varian Covid-19 nasional.

Hal tersebut disampaikan Wiku dalam konferensi pers pada Rabu 13 Juli 2022. Wiku pun mengimbau masyarakat agar semakin meningkatkan kesiapsiagaan lebih tinggi.

"Berkaca dari pengalaman di negara lain, umumnya puncak kasus terjadi sekitar 16 sampai 33 hari. Sedangkan puncak rawat inap sekitar 29-49 hari kemudian sejak subvarian ini pertama kali ditemukan," ujarnya.

Jika ditarik ke belakang, kedua subvarian tersebut muncul di tanggal 6 Juni 2022 atau sekitar 36 hari yang lalu. Karena itu, potensi kenaikan kasus ke depan masih tetap ada. Meski begitu, potensi ini bisa dicegah dengan menjalankan perilaku hidup bersih dan sehat.

Wiku juga mengutip pernyataan Presiden Joko Widodo pada perayaan hari raya Idul Adha 10 Juli 2022 yang menegaskan pentingnya penggunaan masker di manapun berada, semata-mata demi keselamatan di tengah kondisi penularan virus yang kembali meningkat,

"Mungkin banyak juga yang bertanya-tanya pentingnya tetap menjalankan protokol kesehatan setelah sudah divaksin booster. Nyatanya data dan fakta menunjukkan bahwa orang yang tidak menjalankan hal tersebut dapat kembali tertular walaupun sudah divaksin booster," kata dia.

Dalam penjelasannya, Wiku mengatakan pada prinsipnya ada tiga manfaat yang didapat dari vaksin, yaitu mencegah terinfeksi, mencegah perburukan gejala jika terinfeksi, dan mengurangi jumlah virus yang ada di dalam tubuh agar tidak mudah menularkan. Namun yang perlu diingat, orang yang sudah divaksin booster sekalipun bukan berarti kebal 100 persen dari Covid-19.

"Sebagaimana sosialisasi yang Badan POM rutin lakukan setelah adanya pengumuman emergency use of authorization (izin penggunaan darurat) bahwa rata-rata efikasi saat uji klinis tidak pernah mencapai sempurna 100 persen, bahkan untuk vaksin bagi penyakit lain sekalipun," kata Wiku.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan persentase angka efikasi ideal bagi vaksin yang layak digunakan ialah 50 persen. Wiku mengatakan semua vaksin yang ada di Indonesia memiliki efikasi di atas angka tersebut sehingga seluruh vaksin yang ada dijamin efektivitasnya.

Ditemukannya reinfeksi bahkan setelah divaksin atau breakthrough infection bisa saja terjadi pada semua orang terutama populasi rentan seperti orang dengan gangguan imunitas, penderita komorbid, dan lansia, kata dia.

"Breakthrough infection akan semakin sering terjadi jika peningkatan jumlah virus di sekitar kita tidak diimbangi dengan kepatuhan protokol kesehatan yang tinggi," ujar Wiku.(*)

Foto: Pixabay

Artikel Terkait
Current Issues
Varian BA.2.75 Sudah Masuk Indonesia, Apa yang Harus Dilakukan?

Current Issues
Kabar Gembira, Kasus Covid Terus Mengalami Penurunan di Berbagai Belahan Dunia

Current Issues
Studi: Tanpa Booster, Efektivitas Vaksin Covid Menurun Setelah 6 Bulan