Interest

Gegar Budaya si Anak Rantau

Geby Namira M

Posted on October 12th 2018

Hal apa yang pertama kali kuamati soal Semarang waktu pertama kali merantau dari Jakarta? Ya, panasnya. Whoa, panase ora umum, kalau kata orang Jawa. Meski Jakarta juga panas—dan lebih banyak karena polusi, panas di Semarang ini seperti matahari ada di atas kepala dan bikin nyelekit-nyelekit gimana, gitu. Sejuk baru terasa kalau kita ke daerah selatan. Yang kawasannya cenderung berbukit dan banyak ijo-ijo.

Dan sebagai sesama kota besar (ya, masih lebih besar Jakarta jauh, sih), Semarang sangat menyenangkan karena macetnya ‘nggak seberapa’. Ditambah dengan sedikitnya gedung pencakar langit dan ‘sedikit’-nya kendaraan bermotor, bikin aku masih bisa melihat birunya langit di siang hari. Nggak kayak di Jakarta yang mau cerah kayak apapun langitnya tetap abu-abu.

Selain itu, secara umum kota Semarang juga cukup rapi dan bersih. Lihat saja jalan Pemuda atau Simpang Lima. Kerapihan dan kebersihannya bikin kedua tempat itu ikut didaulat sebagai ikon wisata Kota Semarang.

Hal lain yang nggak lepas dari perhatianku tentu soal bahasa dalam pergaulan. Wah, yang satu ini sih beda 180 derajat! Bisa bikin kikuk kalau nggak biasa. Ya gimana coba. Sehari-hari di Jakarta, aku terbiasa ber-‘lo-gue’. Eh, tiba-tiba di Semarang jadi harus ber-‘aku-kamu’ karena umumnya mereka menggunakan kata itu buat kata ganti orang. Kan baper, cuy :D Ini kalau dipakai di Jakarta saat berbicara dengan lawan jenis, salah-salah bisa dikira pacaran. Hadeeuuhh....

Tapi ya nggak ada pilihan lagi buat nggak menyesuaikan diri. Sebagai pendatang, seenggaknya aku butuh seminggu buat membiasakan lidah ber-‘aku-kamu’ meski awalnya terasa menggelikan.

Hal itu belum seberapa. Sebagai kota yang didominasi orang Jawa, sehari-hari orang-orang di sini pastinya berbahasa Jawa. Sangat menantang buatku yang nggak ngerti bahasa Jawa sama sekali ini :’) Jadi kemana-mana, perlu ada teman yang berguna buat jadi translator.

Seiring waktu berjalan, akhirnya aku terbiasa dengan bahasa Jawa. Bahkan sekarang, malah terbawa ke pembicaraan sehari-hari. Aku jadi sering mengucapkan “sek, sek” yang artinya sebentar, atau bertanya kepada teman dengan kalimat “kowe neng ndi?” yang berarti kamu di mana.

Culture shock yang kurasakan kemudian berlanjut ke persoalan perut. Kalau di Jakarta harga warteg aja bisa bikin kenyang duluan, di Semarang malah bikin lapar nggak terselesaikan. Soalnya murah banget, guys. Sepuluh ribu sudan dapat nasi, sayur, ayam, dan minum. Nggak berlaku fluktuatif karena harganya standar pagi, siang, malam. Kan jadi senang akutu~

Selain warteg, di sini juga ada penjual burjo kayak di Jakarta. Iya, warung tongkrongan yang biasa juga jual mie instan itu, loh. Bedanya, kalau di sini jualannya lebih lengkap. Ya jual burjo, jual mie instan, jual nasi ayam bali, orak-arik telur, magelangan (perpaduan nasi goreng dan mie goreng khas Jawa Tengah yang enak parah), nasi omelet, bahkan nasi goreng. Harganya nggak kira-kira lagi. Cuma delapan sampai lima belas ribu! Minumnya bahkan cuma seribu sampai lima ribu. Bisa lah jadi alternatif warteg atau alternatif duduk-duduk syantik~ Ya kan? Ya kan?

Tapi kalau kamu masih kangen merasakan geliat ‘peradaban’ kayak di Jakarta, Semarang juga nggak ketinggalan kok. Mal sudah banyak berdiri di sini. Gerai-gerai makanan cepat saji, mulai dari yang jual ayam goreng, steak, sampai jejepangan juga sudah kayak jamur tumbuh di musim hujan. No more problem, lah.

So, jangan takut merantau ke Semarang, ya. Atau bahkan ke kota manapun. Karena home is where your heart is. Selama kamu bisa berusaha menyesuaikan diri, hatimu juga bakal ‘tumbuh’ di situ. Berhentilah membandingkan tempat asalmu dengan tempat rantaumu. Masing-masing punya sisi spesial yang menarik, selama kamu mau menerima perbedaan yang ada.

Itu cerita rantauku. Gimana cerita rantaumu?

Artikel Terkait
Interest
Banyuwangi Tak Melulu Kawah Ijen, 5 Destinasi ini Juga Wajib Masuk Bucketlist-mu

Interest
Anton Krotov, Kelilingi 86 Negara Tanpa Banyak Dana

Interest
Ngerasain Langsung Serunya Student Exchange!