Interest

Kunci Remaja Sehat dan Bahagia Adalah Aktivitas Fisik, Bukan Menghadap Layar

Dwiwa

Posted on July 1st 2022

Tidak bisa dipungkiri, kemajuan teknologi telah membuat gawai menjadi salah satu sumber hiburan bagi anak dan remaja. Tetapi sebenarnya, kunci seorang anak dan remaja sehat dan bahagia adalah olahraga, bukan layar.

Baik itu latihan olahraga, pelajaran musik atau pertemuan santai dengan teman-teman, ketika anak-anak terlibat dalam kegiatan sepulang sekolah, mereka cenderung merasa lebih bahagia dan lebih sehat. Daripada teman-teman mereka yang terpaku pada layar.

Dilansir dari Medical Xpress, sebuah studi baru yang dilakukan oleh University of South Australia dan Departemen Pendidikan, para peneliti menemukan bahwa kesejahteraan anak-anak meningkat ketika mereka berpartisipasi dalam kegiatan ekstra kurikuler. Tetapi itu menurun ketika mereka menghabiskan waktu di media sosial atau bermain video game.

Studi yang diterbitkan di BMC Pediatrics ini menganalisis data dari 61.759 siswa sekolah di tahun ke-4 hingga 9 (melalui 2018 South Australian Well-being and Engagement Collection). Mereka menilai jumlah rata-rata hari per minggu anak-anak berpartisipasi dalam kegiatan setelah sekolah (jam 3 sampai 6 sore).

Hasilnya kemudian dibandingkan dengan faktor kesejahteraan seperti kebahagiaan, kesedihan, kekhawatiran, keterlibatan, ketekunan, optimisme, regulasi emosi, dan kepuasan hidup.

Mereka menemukan sebagian besar siswa menonton TV sekitar empat hari selama minggu sekolah dan menghabiskan waktu di media sosial sekitar tiga hari dalam seminggu.

Menurut Australian Institute of Health and Welfare, satu dari tujuh anak (setara dengan sekitar 560.000 anak) memiliki gangguan kesehatan mental, dengan satu dari 10 anak memiliki tingkat kesejahteraan yang memprihatinkan.

Peneliti utama, Dr. Rosa Virgara dari UniSA mengatakan penelitian ini menyoroti kebutuhan mendesak untuk mendorong anak-anak berpartisipasi dalam kegiatan selain layar.

"Membantu anak-anak mengembangkan rasa kesejahteraan pribadi yang baik adalah yang terpenting dalam lingkungan yang tidak pasti saat ini," kata Dr. Virgara.

"Ini sangat penting bagi anak-anak usia sekolah dasar karena mereka belajar tentang tantangan dan risiko yang dapat ditimbulkan oleh sekolah penuh waktu; tetapi ini juga sama pentingnya bagi remaja yang menghadapi berbagai perubahan fisik, sosial, dan emosional.”

Dia menambahkan jika studi mereka menyoroti bagaimana beberapa kegiatan di luar sekolah dapat meningkatkan kesejahteraan anak-anak, sementara yang lain -terutama layar- dapat merusak kesehatan mental dan fisik mereka.

"Layar adalah gangguan besar bagi anak-anak dari segala usia. Kebanyakan orang tua akan membuktikan hal ini. Dan apakah anak-anak bermain game, menonton TV atau di media sosial, ada sesuatu tentang semua layar yang merusak kesejahteraan mereka,” lanjutnya.

Dia mengatakan jika ini menarik karena orang mungkin berpikir bahwa kurangnya gerakan fisik yang menyebabkan hal ini. Tetapi penelitian ini menunjukkan bahwa mengerjakan pekerjaan rumah atau membaca - keduanya aktivitas yang tidak banyak bergerak - berkontribusi positif terhadap kesejahteraan, jadi ini adalah hal lain.

Faktanya, tim peneliti menemukan bahwa kesejahteraan anak-anak lebih tinggi ketika mereka berpartisipasi dalam kegiatan ekstrakurikuler - bahkan jika mereka sudah melaporkan bahagia.

"Ini menunjukkan bahwa kita perlu menemukan cara untuk mendorong anak-anak dari segala usia dan latar belakang untuk terlibat dalam kegiatan yang menjauhkan mereka dari TV, komputer, dan perangkat seluler," tambahnya.

Penelitian ini juga menyoroti perbedaan yang jelas antara anak-anak yang berasal dari latar belakang sosial ekonomi rendah dan tinggi. Siswa dengan latar belakang sosial ekonomi rendah yang sering berolahraga 15 persen lebih mungkin untuk optimis, 14 persen lebih mungkin untuk bahagia dan puas dengan kehidupan mereka, dan 10 persen lebih mungkin untuk dapat mengatur emosi mereka.

Sebaliknya, anak-anak yang bermain video game dan menggunakan media sosial hampir selalu memiliki tingkat kesejahteraan yang lebih rendah: mencapai 9 persen lebih kecil kemungkinannya untuk bahagia, hingga 8 persen menjadi kurang optimisme, dan 11 persen lebih mungkin menyerah dalam menggapai sesuatu.

"Anak-anak yang lebih berisiko cenderung berasal dari latar belakang sosial ekonomi yang lebih rendah, yang menunjukkan kebutuhan yang jelas untuk dukungan yang lebih besar di bidang ini," kata Dr. Virgara.

Virgara menekankan jika secara keseluruhan, pesannya jelas - bermain game, menonton TV, bermain di komputer, dan menelusuri media sosial tidak membantu membangun atau mempertahankan kesejahteraan positif pada anak-anak.

"Ini tentu menjadi tantangan, terutama karena sebagian besar anak dibesarkan dengan gawai. Tetapi jika keluarga dapat lebih menyadari masalah yang berhubungan dengan layar, maka mungkin kita dapat menemukan keseimbangan yang lebih baik antara waktu layar dan kegiatan di luar sekolah lainnya," ungkapnya.(*)

Foto: Pixabay

Artikel Terkait
Interest
Jangan Diskip, Olahraga Selama Ramadhan Punya Banyak Manfaat Loh!

Interest
Rombak Vikendi dan Senjata Baru di Season Baru PUBG

Interest
Mitos-Mitos Diet dan Olahraga yang Sering Didengar, Ada yang Kamu Lakukan?