Interest

Jangan Biarkan Bullying Tumbuh Subur, Lakukan Hal Ini Jika Kalian Jadi Korban

Dwiwa

Posted on June 23rd 2022

Kasus bullying atau perundungan yang merenggut nyawa kembali terjadi di Indonesia. Seorang remaja usia 13 tahun harus meregang nyawa akibat ulah tidak bertanggung jawab dari teman-temannya yang juga masih berusia belia.

Kasus seperti ini bukan hal yang baru. Hanya saja, layaknya gunung es, tidak banyak kasus seperti ini yang menjadi perhatian. Lalu, mengapa kasus bullying cukup sering terjadi pada remaja?

Dilansir dari Unair News, Tiara Diah Sosialita MPsi Psikolog, dosen Departemen Psikologi Universitas Airlangga (Unair), memaparkan sejumlah alasan mengapa ini terjadi. Secara psikologis, tindakan bullying bisa dipicu sikap-sikap negatif seperti perasaan iri, dendam, dan permusuhan antar remaja.

Dari sisi pelaku, biasanya bullying dilakukan karena kepercayaan diri mereka yang cenderung rendah. Bullying menjadi sarana si pelaku untuk mencari perhatian orang-orang di sekitarnya.

“Asumsi mereka, dengan mem-bully orang lain mereka akan merasa puas, lebih kuat, serta menjadi lebih dominan,” jelasnya.
Selain itu, adanya pengaruh negatif media juga turut berperan menjadi penyebab tindakan bullying pada remaja. Menurut Tiara, berbagai tindakan kekerasan di televisi atau internet dapat menjadi inspirasi bagi para remaja untuk mencontohnya bahkan tanpa alasan yang jelas sekalipun.

Lalu bagaimana cara mencegah bullying?

Agar hal ini tidak terjadi, Tiara menekankan pentingnya para remaja mengetahui bentuk-bentuk tindakan bullying itu sendiri. Pada remaja, umumnya bullying dapat dilakukan dalam bentuk verbal (mencemooh, membentak, mencela), fisik (menendang, memukul, meludahi), relasional (mengabaikan, mengucilkan), serta dalam bentuk cyberbullying.

“Kalau sudah mengenal bentuk-bentuk bullying, jika merasa mereka melakukan bullying maka perlu untuk berhenti. Dan sebaliknya, jika seseorang menyadari bahwa ia korban bully, ia perlu melakukan langkah-langkah untuk tidak membiarkan (tindakan, Red) bully itu terus,” tegas Tiara. 

Untuk korban bullying, Tiara menegaskan pentingnya menyikapi tindakan tersebut dengan percaya diri dan menghadapinya dengan kepala tegak.

“Ingat, yang melakukan tindakan tercela adalah pem-bully, bukan korban. Jadi, yang harusnya merasa bersalah adalah si perundung,” ujarnya.

Korban bullying, sambung Tiara, juga perlu mencari bantuan kepada orang-orang yang dapat ia percaya seperti orang tua, saudara, guru, atau konselor. Selain itu, korban dapat menyimpan bukti-bukti tindakan bullying agar dapat ia laporkan kepada pihak berwajib.

Dia juga berpesan jika seandainya para remaja menyaksikan tindakan bullying, jangan diam saja. Tetapi berusahalah untuk melakukan sesuatu seperti melerai, mendamaikan, atau mencari bantuan baik kepada guru maupun pihak berwenang.

"Bullying itu bisa tumbuh subur karena orang-orang yang ada di sekitar remaja yang menjadi korban bullying itu diam aja,” terangnya.

Orang tua juga diharapkan waspada terhadap tindakan bullying pada remaja mengingat tindakan ini dapat terjadi kapanpun, di manapun, pada siapapun, dan oleh siapapun. Terdapat beberapa ciri yang dapat menjadi indikasi tindakan bullying baik secara fisik (memar, luka, patah tulang), perilaku (tertutup, kesulitan berbaur, self-harm), maupun secara mental (emosi tak terkontrol, gangguan komunikasi).

Orang tua dapat meminta bantuan pihak sekolah apabila anaknya terindikasi menjadi korban bullying. Selain itu, mengingat dampak bullying sangat besar terhadap psikis, orang tua juga dapat melibatkan profesional seperti konselor atau psikolog jika terdapat trauma pada korban.

“Jangan membiarkan bullying berlarut-larut sehingga remaja berkemungkinan melakukannya pada orang lain,” pungkas Tiara.(*)

Ilustrasi: Pixabay

Related Articles
Interest
Mendikbud Nadiem Menyebut Angka Bullying Pelajar Indonesia Masih Tinggi

Interest
Greta Thunberg Cerita Pernah di-Bully: "Aku Sangat Kesepian"

Current Issues
Percayalah, Bullying Itu Penyakit!