Current Issues

Studi: Anak-anak Lebih Mudah Menyebarkan Covid-19 dan Lockdown Bermanfaat

Dwiwa

Posted on June 22nd 2022

Lebih dari dua tahun dunia menghadapi pandemi Covid-19. Misteri soal virus SARS-Cov-2 yang menjadi penyebab penyakit ini pun pelan-pelan mulai diungkap. Terbaru, sebuah studi menemukan jika anak-anak dan remaja paling bertanggung jawab terhadap peningkatan infeksi langsung dan sekunder.

Dilansir dari Medical Xpress, studi ini mengamati data transmisi Covid-19 berkualitas tinggi dari kota di Tiongkok utara. Studi yang dilakukan dua peneliti Universitas di Albany ini juga menemukan bahwa lockdown di seluruh wilayah terbukti efektif dalam membendung penyebaran virus.

Studi yang dipimpin Profesor Sosiologi Zai Liang ini diberikan akses langka ke profil pasien dan data pelacakan kontak dari setiap kasus yang menyertai wabah virus di Shijiazhuang dari Januari hingga Februari 2021.

"Karena pengujian universal dan penelusuran digital, datanya berkualitas tinggi,” ujar Liang yang didampingi mahasiswa Ph.D Sosiologi dan dosen Han Liu.

Kedua peneliti UAlbany, bergabung dengan dua rekannya dari Tiongkok, adalah penulis artikel "Sociodemographic and Policy Factors Associated with the Transmission of Covid‑19: Analyzing Longitudinal Contact Tracing Data from a Northern Chinese City," yang diterbitkan online pada 31 Mei oleh Jurnal Urban Health.

Penelitian tersebut melihat faktor sosiodemografi seperti usia, jenis kelamin dan status sosial ekonomi, mendalilkan bahwa karakteristik sosiodemografi tertentu mungkin memfasilitasi penyebaran kuman dengan mengekspos orang yang terpapar untuk lebih banyak melakukan kontak sosial.

Ini termasuk anak-anak yang berinteraksi di dalam kelas, perempuan memiliki lebih banyak kontak dengan kerabat mereka daripada laki-laki, dan pekerja yang kurang sejahtera yang bekerja atau tinggal di lingkungan yang penuh sesak.

Beberapa kesimpulan dari studi tersebut di antaranya adalah anak-anak berusia 0-17 tahun memiliki kontak dekat yang lebih sedikit daripada orang dewasa. Tetapi ini menyebabkan lebih banyak infeksi sekunder - 32,1 persen anak-anak yang terinfeksi, 67,9 persen orang dewasa.

Selain itu, kontak dekat anak-anak 81 persen lebih mungkin terinfeksi daripada kontak mereka yang berusia 18-49 tahun. Terakhir, petani, dibandingkan dengan pekerja non-manual, memiliki 40 persen lebih banyak kasus sekunder dari lingkungan yang sama.

"Sementara anak-anak memiliki kemungkinan rendah mengalami gejala parah setelah terinfeksi Covid-19, mereka dapat menyebarkannya ke masyarakat yang lebih besar dengan menginfeksi anggota rumah tangga mereka dan orang dewasa lain yang tinggal di lingkungan mereka. Orang dewasa ini kemudian dapat menularkan penyakit ke kontak sosial mereka sendiri,” tulis Liang.

Karena itu, dia menyarankan agar di masa depan dilakukan studi tentang bagaimana mengendalikan infeksi di dalam sekolah.

Kesimpulan utama lain dari studi Shijiazhuang adalah bahwa intervensi non-farmasi yang tepat waktu, termasuk pembatasan pertemuan dan penutupan sekolah, secara efektif menahan infeksi lebih lanjut melalui pengurangan kontak, terutama ketika diterapkan di daerah kecil dengan beban kasus tertinggi. Namun, Liang mengakui bahwa penutupan sekolah memang memiliki konsekuensi negatif bagi pendidikan dan sosialisasi anak-anak.(*)

Ilustrasi: Pixabay

Related Articles
Current Issues
IDAI: 20 Persen Anak yang Terpapar Covid-19 Tidak Bergejala

Current Issues
Covid-19 di Indonesia Makin Menggila, Kebiasaan Ini Bikin Kamu Lebih Berisiko

Current Issues
Mau Nonton Bioskop Aman di Tengah Pandemi? Ikuti Saran Ahli Ini...