Current Issues

Mengapa Hasil Negatif Tes Covid-19 Membuat Kita Merasa Sembuh dari Gejala?

Dwiwa

Posted on June 19th 2022

Setelah lebih dari dua tahun hidup dengan pandemi, pasti banyak di antara kita yang memiliki kekhawatiran ketika mengalami sakit tenggorokan, pilek, atau kelelahan. Kondisi ini sering membuat munculnya rasa curiga apakah kita sedang terkena Covid-19 dan melakukan tes. Tetapi anehnya, ketika hasilnya negatif, kita sering tiba-tiba merasa sudah baikan.

Lalu, apa yang menjadi penyebab ini bisa terjadi? Bagi beberapa ahli, pengalaman ini mencerminkan hubungan antara tubuh dan pikiran.

“Kami telah belajar bahwa faktor sosial, emosional, dan perilaku mempengaruhi kesehatan,” kata Kaz Nelson, seorang profesor psikiatri dan ilmu perilaku di University of Minnesota Medical School seperti dilansir dari The Washington Post. “Hubungan pikiran-tubuh ini tidak bisa diremehkan. Ini nyata dan sangat kuat.”

Namun sebelum kita menjelajahi hubungan pikiran-tubuh yang berkaitan dengan tes virus Corona, Nelson dan para ahli lainnya ingin kita menekankan bahwa metode pengujian tidak 100 persen bisa diandalkan. Selain itu rapid test antigen di rumah yang digunakan juga bisa menghasilkan negatif palsu yang membuat orang salah mengira mereka tidak menular.

Nelson juga mengatakan penting untuk diingat bahwa gejala Covid, baik dari infeksi akut atau long Covid, bukanlah gejala yang bisa kita bayangkan dengan mudah. Ada masalah kesehatan nyata yang sebenarnya, konsekuensi nyata pada sistem saraf dan sistem organ tubuh lainnya.

Lalu bagaimana kita memahami hubungan pikiran-tubuh yang kuat ini dalam kontek terhadap semua informasi yang kita miliki?

Menurut Lekeisha Sumner, seorang psikolog klinis, menjelaskan dalam email bahwa untuk memahami tentang bagaimana cara orang bereaksi terhadap hasil tes dan kenyataan lain hidup dengan Covid-19, penting untuk mengakui efek pandemi pada kehidupan kita.

“Masyarakat harus bergulat dengan efek ketidakpastian yang cukup besar, pesan kesehatan masyarakat yang beragam, stigma dan ketakutan yang terkait infeksi, perubahan keadaan sosial dan ekonomi kita, ketakutan penularan berkepanjangan, perubahan kebiasaan sehari-hari, dan kesedihan yang terkait dengan kesakitan dan kematian – semua yang diharapkan seperti sebelum pandemi,” tulis Summer.

Dia menambahkan, jika kita hidup dengan tingkat stres berkepanjangan yang luar biasa tinggi dengan jaringan sosial yang terfragmentasi.

Menurut Rosalind Dorlen, psikolog klinis dan anggota departemen psikiatri di Overlook Medical Center di Summit, N.J, khawatir tertular Covid, khususnya, sering menjadi sumber stres yang signifikan bagi banyak orang. Selanjutnya, tubuh manusia dapat bereaksi terhadap stresor tertentu dengan respons fisiologis.

Dorlen menambahkan seluruh iklim covid telah mengaktifkan respons stres karena konsekuensi terinfeksi. Bagaimanapun, hasil positif atau negatif dapat menjadi perbedaan antara melanjutkan hidup atau perlu mengisolasi diri. Ini berpotensi mengembangkan hasil yang lebih parah dari infeksi, seperti long Covid.

"Setiap kali otak kita mengantisipasi konsekuensi dari sesuatu dan kemudian mengevaluasi ancaman dan kemudian memperhatikan atau berfokus pada ancaman itu, itu benar-benar dapat memengaruhi pengalaman gejala [fisik]," kata Nelson. "Ketika ancaman itu dihilangkan, maka itu menimbulkan kelegaan dan penurunan kepekaan terhadap tubuh dan gejalanya."

Menurutnya, daerah tertentu di otak bertanggung jawab untuk mendeteksi rangsangan yang tidak menyenangkan, seperti rasa sakit, sementara daerah lain terlibat dalam respons emosional terhadap sensasi tersebut dan seberapa banyak perhatian yang diberikan kepada mereka.

Respon emosional ini, katanya, dapat meningkatkan atau mengurangi kepekaan seseorang terhadap rasa fisik. Dia menambahkan bahwa tes negatif virus Corona adalah isyarat perilaku sosial-emosional yang mendorong kelegaan dan dapat mengubah respons emosional seseorang terhadap gejalanya.

Misalnya, kata Dorlen, jika kita menarik napas dalam-dalam beberapa kali atau berkata pada diri sendiri, "Oh, aku baik-baik saja," setelah menerima hasil negatif, kalian mungkin merasa stres dan kecemasan mulai mereda.

Penjelasan lain yang mungkin mengapa kita merasa lebih baik setelah tes negatif mungkin ada hubungannya dengan sifat gejalanya, kata Albert Ko, ketua departemen epidemiologi penyakit mikroba di Yale School of Public Health.

Dia mengatakan, gejala ringan yang umum, seperti sakit tenggorokan, hidung tersumbat atau berair atau merasa lelah, dapat memiliki berbagai penyebab - banyak di antaranya hanya sementara.

"Kalian bangun di pagi hari, mungkin mengalami hidung tersumbat karena alergi. Kalian mengalami postnasal drip. Kalian sakit tenggorokan," katanya. "Kemudian kalian dites dan gejalanya mungkin akan hilang karena sebagian besar sakit tenggorokan dan postnasal drip membaik di siang hari."

Tetap saja, kata Ko, hanya karena hasil tes negatif dan merasa lebih baik tidak berarti kalian dapat benar-benar yakin tidak mengidap Covid.

Baca Juga: Beasiswa Pemuda Tangguh Surabaya untuk SMA Dibuka, Ini Syarat dan Cara Daftarnya

"Jika kalian memiliki satu tes negatif, tetapi sangat curiga bahwa kalian telah terpapar, lakukan tes lain satu atau dua hari kemudian,” katanya.

Nelson mengatakan pada mereka yang menggunakan rapid test antigen, ada banyak orang yang datang dengan hasil negatif palsu bahkan ketika mereka memiliki Covid.

"Jika gejala berkurang dan itu adalah tes negatif palsu, maka tentu saja itu bertentangan dengan tujuan kami untuk mitigasi dan pengendalian infeksi," katanya.

Dia menambahkan, apa yang perlu kalian lakukan adalah mendapatkan informasi lain selain pengujian, termasuk gejala fisik, risiko paparan, dan tingkat penyebaran komunitas. Hal ini harus menjadi pertimbangan dalam membuat pilihan perilaku.(*)

Foto: Pixabay

Artikel Terkait
Current Issues
Studi: Varian Delta Meningkatkan Risiko Rawat Inap Akibat Covid-19

Current Issues
Studi: Lebih dari 40 Persen Orang dengan Covid-19 Tidak Menunjukkan Gejala

Current Issues
Hanya 3 Menit, Tes Antigen Covid-19 Ini Diklaim Dapat Berikan Hasil Akurat