Interest

Mata Pelajaran di Sekolah Udah Cukup Belum, sih?

Girvan Bagaskara

Posted on June 4th 2018

Jawabannya : Belum! Kurikulum pendidikan yang sering berganti, memang cukup memancing perdebatan. Tapi untuk memasukkan ilmu-ilmu yang lebih berfaedah sebagai panduan hidup dalam mata pelajaran, tetap saja terlewat.

Kegalauan ini datang setiap kali saya lagi duduk di kelas memperhatikan pelajaran. Kenapa sih kita harus belajar pelajaran yang lagi dijelasin di depan sana? Bukannya dalam keseharian nggak dipakai-pakai amat? Jangankan yang benar-benar jarang dipakai—seperti integral, fisika kuantum, atau stokiometri. Yang sering dipakai aja sering terlupakan kok. Bahkan saking terlupakannya sampai memicu perdebatan karena bingung ‘di-‘ itu harus disambung atau dipisah atau apakah bumi itu bulat atau datar.

Ya, kan? Ya, kan?

Nah, berangkat dari sana, saya pun terpikir untuk memberi ide mata pelajaran apa yang sebaiknya ada di sekolah. Sehingga kehidupan bersekolah jadi lebih padat, juga bermanfaat bagi kehidupan di masa depan. Syukur-syukur kalau Kemendikbud mendengar, lalu mempertimbangkannya sebagai materi alternatif pengganti pelajaran-pelajaran yang sudah ada sebelum saya keburu lulus sekolah.

 Ehehehe. You wish~

#Pelajaran Pertama: Analisis Teknologi dan Jejaring

Kesannya boleh sia-sia. Tapi pelajaran ini bakal bermanfaat banget buat generasi yang hidup di era serba gadget seperti sekarang.

Pertama-tama tentunya siswa akan diajak untuk menganalisis kecanggihan spesifikasi sebuah gadget. Tentunya lewat istilah-istilah ruwet yang kerap tampil pada iklan atau kemasan gadget tersebut. Mulai dari kapasitas baterai, resolusi, prosesor, dan lain-lain. Baik itu laptop maupun smartphone. Sehingga tak ada lagi drama orang tua menangis karena anaknya terus merengek agar dibelikan gadget puluhan juta dengan spec ala kadar tapi ujung-ujungnya cuma buat selfie.

Setelah mengenal gawai macam apa yang mereka butuhkan, barulah siswa dikenalkan dengan analisi konten internet. Seperti belajar ciri-ciri akun manusia versus akun bot, belajar menyaring portal-portal yang hanya memanfaatkan judul clickbait—yang no.10-nya suka bikin kamu tercengang itu loh. Juga membedakan gambar editan dengan yang asli, sampai akhirnya bisa mencari sumber utama pembuat hoaks yang lagi viral. 

Hmm...nggak butuh intelijen lagi dong kalau begitu?

Yah, namanya usaha buat menekan berita simpang siur ‘dari grup sebelah’ atau akun-akun bodong di sosial media. ]

 

#Pelajaran Kedua: Jika Aku Menjadi

Meminjam judul acara TV, pelajaran ini penting untuk meningkatkan people skills kita. Bagaimana menumbuhkan empati, memahami toleransi, dan berkomunikasi di lingkungan yang heterogen. Tentu saja ini karena Indonesia terdiri dari beragam suku dan agama.

Didukung dengan meningkatnya minat generasi milenial dalam hal traveling, kita akan tinggal beberapa saat di suatu tempat yang berbeda kultur dengan kita. Tak hanya belajar untuk terbuka terhadap pekerjaan, gaya hidup, atau adat yang sama sekali asing, kita juga diajak untuk bijak menjembatani perbedaan itu. Sehingga bisa menghilangkan sentimen atau kecurigaan tak beralasan terhadap suatu kaum yang terlihat berbeda dari kita.

 

#Pelajaran Ketiga: Cara Membuat Berkas-berkas Kewarganegaraan

Yang nggak bisa dihindari ketika kita mencapai usia 17 tahun adalah membuat dokumen untuk melengkapi status sebagai warga negara yang baik. Dibuka dengan KTP, lalu kerap disusul oleh SIM, hingga akhirnya dokumen-dokumen lain yang kita butuhkan seiring berjalannya usia (misalnya STNK, NPWP, PBB, dan lain-lain).

Meski terdengar sepele, ternyata praktiknya begitu kompleks. Sosialisasi aja nggak cukup untuk membuat kita tahu bahwa mengurus dokumen-dokumen itu berat. Perlu penjelasan kenapa dokumen itu ada dan kenapa kita butuh. Ke mana mengurusnya, bagaimana prosesnya, dan apa sanksinya bila kita tidak memilikinya atau telat memperpanjang. Cukuplah saya rasa untuk bisa dirangkum ke dalam sebuah pelajaran tersendiri. Atau setidaknya, diselipkan dalam materi Kewarganegaraan yang hingga kurikulum sekarang belum pernah membahas masalah ini.

Karena percaya nggak percaya, dengan belajar mengurus dokumen ini, akan ada pelajaran lain yang kita dapat. Belajar tentang NPWP akan mengenalkan kita pada pelaporan PPH 21, sehingga kita akan lebih perhatian pada pembangunan negara yang menggunakan pajak penghasilan kita. Sama halnya dengan belajar tentang SIM akan mengingatkan kita lagi pada pelajaran rambu-rambu lalu lintas. Sehingga kita akan lebih beretika dalam berkendara dan menggunakan jalan raya.

Nah, kalau menurutmu, pelajaran apalagi yang perlu ada di sekolah buat menggantikan pelajaran yang soon to be forgotten itu?

Related Articles
Interest
Mendikbud Nadiem Makarim Hapus Ujian Nasional!

Interest
Yuk Kenalan dengan Rumah Belajar! Bimbel Online ala Kemendikbud

Interest
Beberapa Hal Ini Bikin Sistem Pendidikan Indonesia Jadi Jahat