Sport

Penjelasan Logis Kenapa Aleix Espargaro Merasa Sudah Finis

Tora Nodisa

Posted on June 6th 2022

Foto: Crach.net

Pembalap MotoGP dari tim Aprilia, Aleix Espargaro, menjalani salah satu momen paling pahit dalam olahraga, yaitu merayakan kemenangan sebelum waktunya dan finis tanpa podium. Peristiwa itu terjadi selama GP Barcelona, saat pembalap tersebut mengira bahwa ini sudah lap terakhir dan dia melepas gas, ternyata masih satu putaran lagi. Akhirnya Espargaro harus merelakan posisi kedua, dan finis di posisi kelima. 

Setelah balapan, Espargaro tampak menyesal dan frustasi. Bahkan di sesi wawancara, tidak banyak yang dia ucapkan. Intinya, Espargaro hanya ingin meminta maaf karena sudah melakukan kesalahan yang konyol seperti ini. "Saya sangat sedih. Jika mereka menusukku sekarang, mereka bahkan tidak akan mengambil darah. Saya harus meminta maaf kepada tim, ini adalah kesalahan yang sangat besar. Kesalahan seperti itu di MotoGP tidak boleh terjadi kalau ingin memperebutkan gelar juara," katanya. 

"Saya merasa sangat buruk, saya hanya bisa meminta maaf lagi. Ini tidak bisa terjadi. Saya merasa sangat buruk untuk tim karena kami telah melakukan pekerjaan yang sangat baik," imbuh Espargaro, yang sudah mendapatkan pole position serta catatan waktu tercepat dengan motor Aprilia miliknya di sesi kualifikasi. 

Aleix Espargaro kehilangan podium ketika dia keliru mengira balapan MotoGP Catalunya telah berakhir satu putaran sebelum finis. Saat pembalap lain melaju melewatinya, Espargaro menyadari kesalahannya yang mengejutkan. Dia lalu memacu lagi motornya, namun sudah terlambat. 

Faktanya, Espargaro bukanlah pebalap pertama yang melakukan kesalahan seperti itu di Barcelona. Sebelumnya ada Kenny Roberts pada 2006 dan Julian Simon pada 2009. Ternyata ketiganya juga punya alasan yang sama. Mereka salah paham dengan lap yang tersisa ketika melihat menara waktu utama. Karena hanya itu yang terlihat oleh pembalap, ketimbang papan pit masing-masing, atau pengibar bendera kotak-kotak. 

Dalam kasus Espargaro, garasi Aprilia ada di urutan pertama setelah tikungan terakhir. Jadi Espargaro sering tidak melihat papan pit-nya sendiri. Dengan asumsi, dia bisa melihat menara waktu untuk menghitung mundur lap balapan. Padahal ketika menara menunjukkan angka satu, maka balapan kurang satu putaran lagi, bukannya sudah berakhir. 

"Tim saya (dengan papan pit) adalah yang pertama setelah keluar dari tikungan terakhir. Jadi beberapa lap saya tidak punya waktu untuk melihat papan itu, karena saya terlalu fokus dengan Quartararo dan Jorge Martin. Saya mendorong ke batas jadi saya hanya melihat celah dengan Martin, +0,6, lalu saya melihat menara dan saya melihat 'L1'. Jadi saya melakukan satu putaran lagi dan saya tidak ingat bahwa di sini, di Barcelona, ​​putaran terakhir adalah '0' bukan '1'. Dan saya menutup gas di trek lurus," ungkap Espargaro. 

Selain itu, ada pula faktor mental. Espargaro merasa sudah menyerah karena tidak bisa menurunkan gap lima detik dari pembalap posisi pertama, Fabio Quartararo. Kesalahan tersebut membuatnya tergelincir di posisi kelima. Selain itu, kini Espargaro terpaut 22 poin dari Quartararo di peringkat pertama klasemen MotoGP 2022. 

Sebenarnya, pembalap juga memiliki alat untuk menghitung putaran balapan di dasbor motor. Tapi alat tersebut menghitung juga putaran pemanasan (warm up lap). Jadi pembalap juga tidak bisa sepenuhnya mengandalkan alat tersebut. Dengan demikian, kesimpulan yang bisa diambil yaitu tanda bahwa balapan sudah berakhir adalah bendera kotak-kotak yang berkibar. Sebelum melihat bendera itu berkibar, sebaiknya memacu motor. (*)

Artikel Terkait
Sport
Aleix Espargaro, Sang Pawang Aprilia

Sport
Sejarah! Aleix Espargaro dan Aprilia Menangi GP Pertamanya

Sport
Pencapaian Marc Marquez Setelah Satu Dekade di MotoGP