Opinion

Kasus Barista Meremehkan Pelanggan Terjadi Lagi, Kafe Jadi Imbas Cancel Culture

Kezia Kevina Harmoko

Posted on June 5th 2022

Belakangan ini media sosial diramaikan dengan sebuah video TikTok dua barista yang merasa kesal dan memandang aneh pada pelanggan yang memesan menu americano. Video tersebut diunggah pada Kamis, 2 Juni lalu dan jadi viral hingga saat ini.

Dari akun TikTok tempat mereka mengunggah video kontroversial tersebut dapat ditemukan bahwa kafe tempat mereka bekerja adalah Light Space Coffee Shop yang ada di Solo. Hingga saat ini, video viral tersebut sudah dihapus, sudah ada video klarifikasi permintaan maaf, nama akun TikTok sudah diubah dan dimatikan kolom komentarnya, akun Instagram dimatikan kolom komentarnya, dan nama di Google Maps diubah beserta diberikan status tutup permanen (biar warganet gak bisa kasih rating jelek).

Kasus barista blunder di Indonesia dan ramai di dunia maya bukan kali ini aja terjadi. September 2021 lalu sempat ada kasus saat barista kafe Rumah Sekara membuat video yang seakan mengejek pelanggan karena menyebut “espresso” menjadi “expresso”.

Dampaknya mirip juga dengan Light Space. Kolom komentar media sosial dimatikan dan status Google Maps menjadi tutup permanen. Sayangnya kafe ini lebih apes karena warganet keburu menyerang dengan rating bintang satu di Google Maps sebelum statusnya diubah jadi tutup permanen. Kini review kafe itu di Google Maps hanya 2,7 dari 5.

Kita nggak akan membicarakan tentang “hobi” beberapa barista Indonesia yang suka bikin heboh dan agaknya judgemental. Yang perlu disoroti dari fenomena barista blunder ini adalah cancel culture, serangan warganet yang gak main-main. Jadi bahan julid di base Twitter, serangan komentar, DM, bahkan rating, semuanya dilakukan warganet padahal bisa jadi mereka itu bukan sosok yang disindir dalam video TikTok.

Kesal dengan pernyataan barista yang judgemental memang wajar dan bisa dijelaskan secara ilmiah. Fenomena cancel culture dilatarbelakangi oleh social contagion (kalau diterjemahkan kasar, penularan sosial). Singkatnya, social contagion adalah penyebaran tingkah laku, emosi, hingga ide di tengah kelompok. Yang awalnya jadi perilaku individual, berakhir jadi perilaku bersama.

Sebenarnya social contagion ini lebih sering ditemukan di interaksi secara langsung alias tatap muka.  Namun, kini dengan kekuatan media sosial, social contagion juga bisa kita temukan di dunia maya bahkan dampaknya jadi lebih luas dari pada yang terjadi di dunia nyata. Menurut McFarland & Plorhard (2015), ini karena media sosial bisa diakses oleh siapa pun, gak ada batasan ruang dan waktu, dan kini kita dengan mudah bisa merasa tergantung pada orang lain sehingga circle kita lebih luas sehingga akhirnya ekspresi dapat menular dengan cepat.

Di kasus barista blunder, beberapa warganet merasa kesal dengan ucapan barista yang seakan meremehkan pelanggan. Perasaan kesal itu berubah jadi tindakan berkomentar buruk sampai memberi rating rendah. Nah, yang jadi masalah adalah kekesalan ini jadi tameng melakukan hal-hal yang toxic tersebut.

Meski jelas barista tersebut melakukan kesalahan, bukan berarti kita berhak melakukan serangan-serangan yang bisa berdampak panjang bagi barista dan kafe itu sendiri. Mengedukasi boleh, menghancurkan jangan.

 

Related Articles
Entertainment
eaJ Ungkap Di-Cancel Fans adalah Salah Satu Kesalahan Terbesarnya

Hobi
7 Rekomendasi Akun TikTok Make Up Kreator Indonesia Biar Glow Up di Tahun Baru

Interest
Tiga TikToker Melawan, Pemblokiran Tahap Dua di AS Ditunda