Interest

3 Jenis Gangguan Makan Ini Kerap Dialami Remaja, Ada yang Mengalami?

Dwiwa

Posted on May 30th 2022

Perkembangan teknologi telah membuat informasi sangat mudah di akses, bahkan oleh remaja sekalipun. Sayangnya, tidak selamanya akses terhadap banyaknya informasi ini berdampak positif, misalnya soal gambaran fisik atau bentuk tubuh yang dianggap ideal.

Di media sosial, banyak yang sering menggambarkan sosok yang dianggap ideal adalah pemilik tubuh tinggi, kurus, dan langsing. Sosok "ideal" ini pun jadi banyak diidamkan oleh para remaja hingga rela melakukan berbagai macam diet yang pada akhirnya justru berujung pada gangguan makan alias eating disorder.

“Pada kasus gangguan makan, berarti ada penyimpangan perilaku makan. Terjadinya secara terus-menerus dan dalam periode waktu tertentu. Bentuk penyimpangannya bisa pada pola konsumsi dan penyerapan makanan,” ungkap Tiara Diah Sosialita MPsi Psikolog dalam webinar bertajuk "Eating Disorder: Waspadai Gangguan Makan pada Remaja,” pada Sabtu (28 Mei 2022) seperti dilansir dari Unair News.

Dia menambahkan, secara karakteristik gangguan makan ditandai dengan perilaku makan tidak wajar yang seringkali disertai gangguan emosi. Penderita gangguan makan, ungkapnya, bisa makan terlalu banyak atau terlalu sedikit. Mereka pun terobsesi terhadap berat badan dan bentuk tubuh yang biasanya disertai emosi-emosi negatif.

Dalam webinar yang diselenggarakan oleh Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (Unair) itu, Tiara memaparkan jika gangguan makan bukan cuma berdampak pada fisik tetapi juga pada psikososial penderitanya. Menurutnya, ada tiga jenis gangguan makan yang sering dikaitkan dengan remaja, yakni anorexia nervosa, bulimia nervosa, dan binge-eating (compulsive overeating).

1. Anorexia Nervosa
Orang dengan anorexia nervosa akan menghindari dan membatasi porsi makan secara berlebihan. Berat badannya juga cenderung mengalami penurunan. Meski begitu, mereka tetap menganggap jika tubuhnya masih gemuk.

“Ini yang menyebabkan penderita anorexia nervosa melakukan usaha-usaha untuk menurunkan berat badan. Mereka juga akan membatasi hubungan dan kegiatan sosial karena merasa cemas dan tidak nyaman dengan kondisi fisiknya,” tutur Tiara.

2. Bulimia Nervosa
Berbeda dengan gangguan sebelumnya, remaja dengan bulimia nervosa, justru akan makan secara berlebihan. Akan tetapi, makanan itu kemudian dimuntahkan kembali.

“Mereka akan mengonsumsi segala jenis makanan dalam porsi banyak dan kesulitan untuk berhenti makan namun di sisi lain mereka takut mengalami kenaikan berat badan sehingga biasanya akan ada ‘kompensasi,’ secara sembunyi-sembunyi” jelas Tiara.

Tindakan-tindakan seperti memuntahkan makanan, meminum obat pencahar, dan olahraga berlebihan, lanjut Tiara, merupakan bentuk kompensasi dari konsumsi makanan yang tak terkendali. Berbeda dengan anorexia nervosa, pengidap bulimia nervosa cenderung mampu mempertahankan berat badan normal.

3. Binge-Eating (Compulsive Overeating)
“Penderita binge-eating memiliki dorongan makan berlebihan yang tidak terkontrol. Tandanya ada keinginan makan secara banyak, terus-terusan, dan tidak terkendali,” terang dosen Departemen Psikologi UNAIR ini.

Perilaku-perilaku tersebut biasanya akan diikuti dengan emosi negatif seperti malu dan perasaan bersalah. Remaja biasanya merasa tidak dapat mengontrol keinginan makan dan kalau ada yang melarang, mereka akan makan secara diam-diam meskipun tidak dalam kondisi lapar.

“Biasanya mereka makan untuk mengeluarkan emosi negatif mereka. Penderita biasanya memiliki berat badan berlebihan meskipun ada yang normal. Mereka pun tidak melakukan semacam kompensasi untuk menurunkan berat badan,” pungkas Tiara.(*)

Foto: Pexels

Artikel Terkait
Tech
Instagram Dukung Penderita Gangguan Makan untuk Cari Bantuan Melalui Fitur Ini

Interest
Takut Gendut? Jangan-jangan Kamu Terkena Anoreksia!

Interest
Studi Ungkap Cara Deteksi Gangguan Makan Agar Bisa Ditangani Lebih Awal