Interest

Manfaatkan IoT, Mahasiswa ITS Gagas Sistem Pengolahan Limbah Cair Peternakan

Dwiwa

Posted on May 25th 2022


(dari kiri) Ahmad Prayoga, Nabiilah Aziizh Tjandra, dan Akbar Krisna Wandana yang merupakan tim mahasiswa ITS perancang inovasi pengolahan limbah cair

Tiga mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) merancang sebuah sistem pengolahan limbah cair pada peternakan sapi perah. Inovasi ini dibuat agar limbah yang dihasilkan tidak mencemari air di sekitarnya.

Dilansir dari ITS News, Nabiilah Aziizh Tjandra, ketua tim menjelaskan jika tidak semua peternak sapi perah bisa mengelola limbah dengan baik. Dia mencontohkan di Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali yang merupakan daerah dengan komoditas peternakan yang melimpah. Namun, sebanyak 56,67 persen peternak sapi perahnya masih membuang limbah ke badan sungai tanpa pengelolaan.

“Hal ini terjadi karena sebagian besar adalah peternakan konvensional, sehingga tidak mempunyai sistem pengelolaan limbah,” katanya.

Dia menambahkan, berdasar penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa kualitas air sungai memiliki angka melebihi ambang baku mutu air limbah yang diperbolehkan, yakni Chemical Oxygen Demand (COD) 20 – 80 miligram per liter dan Total Suspended Solid (TSS) yang mencapai 64 – 94 miligram per liter.

“Oleh karena itu, diperlukan sebuah sistem pengolahan air limbah yang tepat, sehingga tidak mencemari lingkungan,” lanjut Nabiilah.
Hasil temuan itu membuat Nabiilah bersama tim merancang instalasi pengolahan air limbah menggunakan membran bioreaktor yang diintegrasikan dengan Internet of Things (IoT) untuk memudahkan peternak. Menurutnya, membran bioreaktor dipilih karena telah terbukti efektif memperbaiki baku mutu luaran limbah olahanya.

Pada sistem instalasi yang dirancang timnya, Nabiilah menerangkan, air limbah dari hasil peternakan akan memasuki penampungan sebelum dilewatkan membran bioreaktor untuk difiltrasi. Sistem juga dilengkapi dengan sensor untuk memastikan kualitas luaran limbah sesuai dengan standar baku mutu, yaitu kurang dari 50 miligram per liter. Jika kualitas belum terpenuhi, air limbah akan difiltrasi kembali memasuki membran bioreaktor.

Selain itu, sistem pengolahan air limbah rancangan mereka juga dilengkapi dengan sensor yang akan mendeteksi adanya cake fouling akibat impurities yang terperangkap. Cake fouling ini mengakibatkan proses filtrasi menjadi tidak efisien, sehingga membran harus dibersihkan dari cake tersebut. “Dengan adanya sensor ini, peternak akan mengetahui kapan membran harus dibersihkan,” jelas mahasiswi tahun pertama ini.

Selain Nabiilah, tim ini juga beranggotakan dua mahasiswa Departemen Teknik Instrumentasi ITS lainnya, yaitu Akbar Krisna Wandana dan Ahmad Prayoga. Mereka meyakini bahwa sistem pengolahan limbah cair buatannya mempunyai tingkat keefektifan sebesar 99.98 persen dalam memfiltrasi kandungan kimia berbahaya. Nabiilah dan rekan-rekannya pun berharap inovasi buatannya bisa segera terealisasi sehingga dapat memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat.

Inovasi Nabiilah dan tim yang bertajuk Pengaplikasian Membran Bioreaktor dengan Sistem Monitoring Kualitas Luaran Limbah berbasis IoT pada Peternakan Sapi Perah di Kecamatan Cepogo Kabupaten Boyolali sebagai Upaya Mengurangi Pencemaran Sungai ini berhasil membuat mereka meraih Juara 1 dalam ajang Pertamina Smart Innovation Boyolali 2022 yang diadakan oleh Pertamina Patra Niaga Boyolali, belum lama ini.(*)

Foto: ITS News

Related Articles
Interest
SKALASI, Aplikasi Gagasan Mahasiswa ITS untuk Optimalkan Persiapan Kerja

Interest
SMITOL, Inovasi Mahasiswa ITS untuk Mengontrol Pemurnian Biogas

Interest
Mahasiswa ITS Rintis Drafta, Ekosistem Digital bagi Mahasiswa