Current Issues

Kebijakan Masker Dilonggarkan Bikin Kamu Cemas? Begini Saran Psikolog

Dwiwa

Posted on May 24th 2022

Selama dua tahun pandemi Covid-19 kita telah terbiasa memakai masker sebagai bentuk perlindungan diri. Tidak heran jika ketika kini kebijakan masker dilonggarkan, sebagian dari kita mungkin mengalami kecemasan.

Untuk mengatasi hal ini, Psikolog klinis dewasa dari Ikatan Psikolog Klinis wilayah Banten Mega Tala Harimukthi mengatakan kepada Antara bahwa dirinya menyarankan orang tersebut untuk tetap menjaga protokol kesehatan demi mengilangkan rasa cemas.

"Karena tidak semua hal bisa kita kendalikan, jadi jika memang kebijakan tersebut membuat semakin cemas, tetaplah memegang protokol kesehatan," ujar dia yang berpraktik di Klinik Mutiara Edu Sensory Bintaro itu kepada Antara pada Senin (23 Mei 2022).

Mega Tala memaparkan jika sejak pandemi Covid-19 dimulai masyarakat berusaha berdamai dan berdampingan hidup dengan penyakit ini. Memakai masker di ruang publik menjadi salah satu cara dalam upaya tersebut.

DIa menambahkan jika dalam prosesnya, sebagian orang merasakan cemas dan kecemasan. Perasaan ini bisa meningkat seiring kebijakan pelonggaran pemakaian masker di area terbuka seperti yang terjadi sekarang.

"Sebagian masyarakat yang masih sangat cemas menghadapi pandemi, justru menjadi semakin cemas dengan kebijakan ini. Orang-orang di sekitar saya pun masih ada namun enggak banyak yang menjadi semakin cemas karena kebijakan ini," tutur dia.

Agar tidak merasa cemas, khususnya bagi mereka yang merasa tidak nyaman dengan kebijakan itu, maka masker bisa tetap dipakai meskipun di area terbuka untuk membuat diri sendiri merasa aman. Selain itu, mereka juga perlu menerima kenyataan bila nantinya banyak orang yang mulai mengikuti kebijakan pelonggaran masker dan bahkan terkesan abai pada protokol kesehatan.

"Karena yang bisa dilakukan adalah mengendalikan diri sendiri, dan yang tidak bisa dilakukan adalah mengendalikan orang lain termasuk perilakunya dalam berprotokol kesehatan. Artinya, kita tidak bisa lagi memaksakan orang lain untuk mengikuti perilaku kita yang masih bermasker untuk menjaga keamanan diri sendiri," jelas Mega Tala.

Pada akhirnya, kata dia, masyarakat dapat tetap menjaga diri sendiri dan orang terdekat diantara kebijakan yang ada. Selain mengenakan masker khususnya di area publik termasuk di ruangan tertutup, juga bisa dengan mencuci tangan menggunakan air dan sabun secara rutin dan mendapatkan vaksin Covid-19.

"Jadi intinya bagi yang masih merasa cemas dengan kebijakan baru ini, ada baiknya tetap menerapkan protokol kesehatan di mana pun kapan pun sebagai upaya menurunkan kecemasannya dan merasa lebih aman," demikian pesan Mega Tala.

Sementara itu, dilansir Healthline, Profesor Penyakit Infeksi dan pengobatan perventif di Vanderbilt University Medical Center, Nashville, Tennessee, Dr. William Schaffner menjelaskan jika adanya kecemasan yang muncul ketika orang mulai melepas masker adalah hal yang normal. Menurutnya, terkadang perlu waktu bagi orang untuk membuat penyesuaian dengan lingkungan yang kurang aman.

Pakar neuropsikologi dan direktur Comprehend the Mind Sanam Hafeez, PsyD, mengatakan, setelah 2 tahun hidup dengan aturan memakai masker, ini menjadi kebiasaan bagi banyak orang.

Dan pelonggaran kebijakan memakai masker bisa membuat orang merasa cemas, terutama pada mereka yang berisiko lebih tinggi terkena komplikasi Covid-19. Menurutnya, meskipun mereka bisa memilih memakai masker tetapi mengetahui orang lain tidak harus melakukannya, maka ini membuat mereka lebih rentan.

Karena itu, sampai jumlah Covid-19 turun lebih signifikan, Hafeez memaklumi individu dengan gangguan kekebalan akan menghadapi kecemasan yang lebih besar dan memiliki situasi yang lebih sulit untuk dinavigasi daripada yang lain. (*)

 

Foto:  Pixabay

Related Articles
Current Issues
Studi: Kecemasan Melonjak Selama Pandemi, Terutama pada Wanita

Current Issues
30 Persen Penyintas Covid Mungkin Mengalami PTSD

Current Issues
Peneliti: Tingkat Kecemasan dan Depresi di Kalangan Mahasiswa Terus Melonjak