Current Issues

Studi: Kekebalan Alami dari Omicron Lemah dan Terbatas

Dwiwa

Posted on May 20th 2022

Sebuah studi baru mengungkap jika pada orang yang tidak divaksinasi, infeksi varian Omicron dari SARS-CoV-2 hanya memberikan sedikit kekebalan jangka panjang terhadap varian lain. Studi baru dari para peneliti di Gladstone Institutes dan UC San Francisco (UCSF) ini diterbitkan di jurnal Nature.

Dilansir dari Medical Xpress, dalam percobaan menggunakan tikus dan sampel darah dari donor yang terinfeksi Omicron, tim menemukan bahwa varian Omicron hanya menginduksi respon imun yang lemah.

Pada individu yang divaksinasi, respons ini - meskipun lemah - membantu memperkuat perlindungan keseluruhan terhadap berbagai jenis virus Covid-19. Namun, pada mereka yang tidak divaksinasi sebelumnya, respons imun gagal memberikan perlindungan yang luas dan kuat terhadap strain lain.

"Pada populasi yang tidak divaksinasi, infeksi dengan Omicron mungkin kira-kira setara dengan mendapatkan satu suntikan vaksin," kata Melanie Ott, MD, Ph.D., direktur Gladstone Institute of Virology dan salah satu penulis senior dari penelitian baru ini. "Ini memberi sedikit perlindungan terhadap Covid-19, tetapi tidak terlalu luas."

Rekan penulis senior Jennifer Doudna, Ph.D., yang merupakan peneliti senior di Gladstone, profesor di UC Berkeley, pendiri Innovative Genomics Institute, dan peneliti dari Howard Hughes Medical Institute menambahkan penelitian ini menggarisbawahi pentingnya tetap mendapatkan vaksinasi, bahkan jika kalian sebelumnya telah terinfeksi dengan varian Omicron. Sebab, kalian masih rentan terhadap infeksi ulang.

Ketika varian Omicron menjadi dominan di seluruh dunia pada akhir 2021 dan awal 2022, bukti menunjukkan bahwa gejala yang ditimbulkan kurang parah daripada Delta dan variant of concern lain. Irene Chen, co-first author studi baru dan mahasiswa pascasarjana di laboratorium Ott mengatakan saat awal kemunculannya, banyak yang berharap jika varian baru ini bisa memunculkan respon imun yang kuat dan luas, bertindak sebagai vaksin bagi mereka yang tidak ingin divaksinasi.

Saat tim mengkarakterisasi respon imun yang dihasilkan oleh infeksi Omicron, mereka menemukan jika meskipun gejalanya lebih ringan, sistem kekebalan masih menghasilkan sel T dan antibodi yang biasanya terlihat sebagai respons terhadap virus lain.

"Dalam penelitian ini kami menunjukkan bahwa patogenisitas yang lebih rendah dari Omicron bukan karena virus tidak dapat bertahan," kata Nadia Roan, Ph.D., peneliti asosiasi di Gladstone.

Tidak ada perlindungan lintas-varian

Dalam studi ini para peneliti juga mengukur respon imun terhadap Omicron dari waktu ke waktu dengan mengumpulkan sampel darah dari tikus yang terinfeksi varian leluhur, Delta, atau Omicron. Mereka juga mengukur kemampuan sel kekebalan dan antibodi untuk mengenali lima varian virus yang berbeda - asli (WA1), Alfa, Beta, Delta, dan Omicron.

Hasilnya, darah dari hewan yang tidak terinfeksi tidak dapat menetralkan virus mana pun atau menghalangi kemampuan virus mana pun untuk menggandakan diri. Sementara yang terinfeksi WA1 dapat menetralkan Alfa dan, pada tingkat yang lebih rendah, virus Beta dan Delta tetapi tidak pada Omicron.

Sampel dari tikus yang terinfeksi Delta dapat menetralkan Delta, Alfa dan, pada tingkat yang lebih rendah, virus Omicron dan Beta. Namun, darah dari tikus yang terinfeksi Omicron hanya bisa menetralkan varian Omicron.

Hasil yang sama juga didapat ketika tim mengonfirmasinya menggunakan darah manusia yang tidak divaksinasi. Pada orang yang terpapar Omicron, darah mereka tidak dapat menetralkan varian lain. Sedangkan pada kelompok yang terinfeksi Delta, sampel dapat menetralkan Delta dan varian lain pada tingkat yang lebih rendah.

Ketika mereka mengulangi percobaan dengan darah dari orang yang divaksinasi, hasilnya berbeda. Individu yang divaksinasi kemudian terpapar Omicron atau breakthrough infection Delta menunjukkan kemampuan untuk menetralkan semua varian yang diuji, memberikan perlindungan yang lebih tinggi.

"Ketika datang ke varian lain yang mungkin berkembang di masa depan, kami tidak dapat memprediksi dengan tepat apa yang akan terjadi. Tetapi berdasarkan hasil ini, saya menduga bahwa orang yang tidak divaksinasi yang terinfeksi Omicron akan memiliki perlindungan yang sangat sedikit," kata Ott. "Tetapi sebaliknya, individu yang divaksinasi cenderung lebih terlindungi secara luas terhadap varian di masa depan, terutama jika mereka memiliki breakthrough infection."

“Hasil kami mungkin berguna bukan hanya untuk menginformasikan keputusan individu tentang vaksinasi, tetapi juga untuk desain vaksin Covid-19 di masa depan yang memberikan perlindungan luas terhadap banyak varian,” kata Charles Chiu, MD, Ph.D., seorang profesor penyakit menular di UCSF dan salah satu penulis senior karya tersebut.(*)

Foto: Pixabay

Artikel Terkait
Current Issues
Studi: Vaksinasi Covid-19 dan Breakthrough Infection Timbulkan “Kekebalan Super"

Current Issues
Varian Omicron Mungkin Lebih Menular, Tetapi Vaksin Masih Memberi Harapan

Current Issues
Kabar Baik, Studi Ungkap Kemungkinan Omicron Sebabkan Long Covid Lebih Rendah