Tech

Bagaimana Gen Z Bisa Terpikat pada Cryptocurrency dan NFT?

Jingga Irawan

Posted on May 19th 2022

Iming-iming menghasilkan uang dengan cepat selalu menarik semua kalangan untuk berinvestasi, meskipun asetnya berisiko tinggi banget. Bagi Generasi Z, aset digital seperti cryptocurrency dan NFT adalah sesuatu menarik. Tapi mereka nggak diatur, sehingga hanya ada sedikit perlindungan terhadap investor.

Generasi Z  adalah kelompok usia yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2000-an. Mereka tumbuh besar secara online, bermain game, dan bertemu teman secara virtual, jadi pertemuannya dengan crypto atau NFT wajar-wajar saja.

"Semua temanku membicarakan tentang [cryptocurrency] jadi suatu hari aku memutuskan mengapa nggak terjun dan melihat apakah aku bisa menghasilkan uang," kata Paxton See Tow, 20 tahun, yang dikutip BBC.

Cryptocurrency adalah mata uang digital, sementara non-fungible token (NFT) adalah token untuk memiliki gambar digital asli.

Lebih dari setahun yang lalu, Paxton membeli Bitcoin senilai USD 743. Salah satu cryptocurrency paling populer itu langsung memberinya keuntungan 10 persen. Namanya manusia nggak ada yang pernah puas, dia memutuskan untuk melipatgandakan portofolionya. Tetapi harganya langsung turun. Apa yang terjadi? Rugi.

"Selalu ada pepatah 'beli rendah, jual tinggi' tapi aku melakukan kebalikannya. Aku membiarkan emosi menguasai diriku," katanya.

Paxton telah kehilangan seribu dolar, di atas semua uang yang telah dia investasikan, sebelum dia bisa menarik uangnya dan menyusun ulang strategi.

Tetapi ribuan cerita tentang orang-orang yang kehilangan uang dalam jumlah besar sebagai peringatan itu tampaknya nggak menghalangi kaum muda buat ikutan trading crypto.

Selain iming-iming menghasilkan uang dengan cepat, Pandemi Covid-19 juga mempercepat tren pertumbuhan anak muda yang memperdagangkan crypto dan NFT.

"Ada tingkat volatilitas yang ekstrem di pasar sehingga ketika kalian memiliki volatilitas, kalian juga memiliki peluang di pasar," kata Lily Fang, profesor keuangan di sekolah bisnis INSEAD.

"Orang-orang muda ada di rumah dan ini mirip seperti permainan perdagangan. Semua faktor ini menciptakan kondisi yang sempurna untuk lepas landas."

Gen Z juga merasa saran untuk berdagang sudah tersedia di platform seperti YouTube, Twitter, dan Reddit. Jadi, nggak perlu mengikuti kelas khusus bertahun-tahun jika ingin bermain Crypto. Ini lah faktor lain yang mendorong banyak anak muda terpikat.

Namun, dengan penghasilan yang mudah didapat, masih ada bahaya besar lain yang mengintai. Selain kerugian finansial, pemain cryptocurreny bisa jadi kecanduan.

Andy Leach, dari klinik kecanduan Visions by Promises di Singapura, mengatakan dia telah menerima lonjakan dari klien muda, terutama pria, yang kecanduan sensasi perdagangan crypto dan NFT.

“kamu memiliki kemampuan untuk melihat Bitcoin naik dan turun dan pada dasarnya proses ini, naik rollercoaster ini, tertinggi, terendah, ini tersedia di ponselmu 24/7,” katanya.

Meskipun kehilangan uang di pasar crypto di masa lalu, Leach melihat banyak orang akan terus kembali berdagang cryptocurrency setelah mempelajarinya lebih dekat. (*)

Artikel Terkait
Tech
Popularitas Crypto Tahun 2021 Bikin Penjahat Online Untung Banyak

Tech
Barbershop pun Terima Pembayaran Bitcoin, Bagaimana Masa Depan Crypto?

Tech
Harga Bitcoin Jatuh di Awal Tahun, Ini Penyebabnya Utamanya!