Current Issues

Seberapa Sering Kita Bisa Terinfeksi Virus Corona?

Dwiwa

Posted on May 18th 2022

Kasus infeksi ulang virus Corona bisa terjadi. Dan beberapa ilmuwan sekarang takut jika masa depan Covid-19 akan menjadi varian virus yang mahir menghindari pertahanan tubuh dan mungkin bisa menginfeksi orang beberapa kali.

Dilansir The New York Times, masalah utamanya adalah bahwa virus Corona lebih mahir menginfeksi kembali orang. Contohnya, mereka yang terinfeksi dengan varian Omicron awal melaporkan infeksi kedua dengan varian versi terbaru – BA.2 atau BA2.12.1 di Amerika Serikat, atau BA.4 dan BA.5 di Afrika Selatan.

Menurut peneliti, orang-orang itu mungkin akan mengalami infeksi ketiga atau keempat, bahkan dalam tahun ini. Dan beberapa fraksi kecil mungkin memiliki gejala yang bertahan selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun, suatu kondisi yang dikenal sebagai long Covid.

“Bagi saya itu sepertinya akan menjadi pola jangka panjang,” ujar Juliet Pulliam, ahli epidemiologi di Stellenbosch University di Afrika Selatan. “Virus ini akan terus berkembang. Dan mungkin akan ada banyak orang yang mendapatkan banyak, banyak infeksi ulang sepanjang hidup mereka.”

Sulit untuk menghitung seberapa sering orang terinfeksi ulang, karena banyak infeksi sekarang tidak dilaporkan. Pulliam dan rekan-rekannya telah mengumpulkan data yang cukup di Afrika Selatan untuk mengatakan bahwa tingkatnya lebih tinggi dengan Omicron daripada yang terlihat pada varian sebelumnya.

Padahal dii awal pandemi, para ahli berpikir bahwa kekebalan vaksinasi atau infeksi sebelumnya akan mencegah infeksi ulang. Tetapi varian Omicron tampaknya memupus harapan itu.

Berbeda dari varian sebelumnya, Omicron dan banyak turunannya tampaknya telah berevolusi untuk menghindari sebagian kekebalan. Itu membuat semua orang – bahkan yang sudah divaksinasi berkali-kali – rentan terhadap banyak infeksi.

“Jika kita menanganinya dengan cara seperti sekarang, maka sebagian besar orang akan terinfeksi setidaknya beberapa kali dalam setahun,” ujar Kristian Andersen, virologis di Scripps Research Institute di San Diego. “Saya akan sangat terkejut jika bukan itu yang akan terjadi.”

Varian baru tidak mengubah kegunaan mendasar dari vaksin Covid. Kebanyakan orang yang telah menerima tiga atau bahkan dua dosis tidak akan cukup sakit untuk membutuhkan perawatan medis jika mereka terinfeksi virus Corona. Dan dosis booster, tampaknya mengurangi infeksi ulang, tetapi tidak banyak.

Pada awal pandemi, banyak ahli mendasarkan prediksinya soal virus Corona pada influenza, musuh virus yang paling akrab bagi mereka. Ahli memperkirakan bahwa, seperti halnya flu, mungkin ada satu wabah besar setiap tahun, kemungkinan besar di musim gugur. Cara untuk meminimalkan penyebarannya adalah dengan memvaksinasi orang sebelum kedatangannya.

Tetapi ternyata, virus Corona berperilaku lebih seperti empat sepupu dekatnya, yang beredar dan menyebabkan pilek sepanjang tahun. Jeffrey Shaman, epidemiolog di Columbia University di New York, mengatakan saat mempelajari virus Corona flu biasa, mereka melihat orang-orang dengan berbagai infeksi dalam waktu satu tahun. Dia menambahkan jika infeksi ulang ternyata menjadi umum, virus Corona tidak akan menjadi sesuatu yang terjadi hanya setahun sekali.

Infeksi ulang dengan varian sebelumnya, termasuk Delta, terjadi tetapi relatif jarang. Namun pada September, laju infeksi ulang di Afrika Selatan tampaknya meningkat dan sangat tinggi pada November – ketika varian Omicron diidentifikasi, kata Pulliam.

Infeksi ulang di Afrika Selatan, seperti di Amerika Serikat, mungkin tampak lebih nyata karena begitu banyak yang telah diimunisasi atau terinfeksi setidaknya sekali.

“Persepsi memperbesar apa yang sebenarnya terjadi secara biologis,” ujar Pulliam. “Hanya saja ada lebih banyak orang yang memenuhi syarat untuk terinfeksi ulang."

Varian Omicron cukup berbeda dari Delta, dan Delta dari versi virus sebelumnya, sehingga diprediksi terjadi infeksi ulang. Tapi sekarang, Omicron tampaknya mengembangkan bentuk baru yang menembus pertahanan kekebalan dengan relatif sedikit perubahan pada kode genetiknya.

Infeksi dengan Omicron menghasilkan respon imun yang lebih lemah, yang tampaknya berkurang dengan cepat, dibandingkan dengan infeksi dengan varian sebelumnya. Meskipun versi varian terbaru berkaitan erat, mereka cukup bervariasi dari perspektif kekebalan, sehingga infeksi dengan satu versi tidak meninggalkan banyak perlindungan terhadap yang lain.

Namun, kabar baiknya adalah kebanyakan orang yang terinfeksi ulang dengan versi baru Omicron tidak akan menjadi sakit parah. Setidaknya saat ini, virus belum menemukan cara untuk sepenuhnya menghindari sistem kekebalan tubuh.

“Itu mungkin hal terbaik yang kita dapat saat ini,” kata Alex Sigal, ahli virologi di Africa Health Research Institute. “Bahaya besar mungkin datang ketika variannya akan benar-benar berbeda.”

Namun, setiap infeksi dapat membawa kemungkinan long Covid, kumpulan gejala yang dapat bertahan selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Masih terlalu dini untuk mengetahui seberapa sering infeksi Omicron menyebabkan long Covid, terutama pada orang yang divaksinasi. (*)

 

Foto: Pixabay

Artikel Terkait
Current Issues
Cegah Peningkatan Omicron, Masyarakat Diminta Tak Lakukan Perjalanan Luar Negeri

Current Issues
Varian BA.2.75 Sudah Masuk Indonesia, Apa yang Harus Dilakukan?

Current Issues
"Covid-19 Ringan" Tak Selalu Ringan, Ini Tips Pemulihan dan Isolasi di Rumah