Tech

Twitter Tak Akan Biarkan Elon Musk ‘Hit and Run’ dari Rencana Akusisi

Jingga Irawan

Posted on May 18th 2022

Twitter tak akan membiarkan Elon Musk melepaskan diri dari tawarannya senilai USD 44 miliar (Rp 644 triliun) untuk membeli platform media sosial itu. Kabar ini muncul setelah Musk mengancam tak jadi beli jika perusahaan gagal mengurusi akun spam dan bot.

Perusahaan yang berbasis di San Francisco itu merilis pernyataan kepada Securities and Exchange Commission pada Selasa (17/5), beberapa jam setelah Musk men-tweet bahwa dia tak dapat melanjutkan kesepakatan.

"Twitter berkomitmen untuk menyelesaikan transaksi pada harga yang disepakati," kata perusahaan itu dalam pengajuan SEC-nya.

Sebelumnya, Bos Tesla dan SpaceX setuju membayar sebesar USD 54,20 per lembar saham media sosial tersebut pada 25 April. Tetapi nilai saham turun sebanyak 30 persen, hingga jatuh pada USD 37,15 pada Senin (16/5).

Musk bisa mendapat denda USD 1 miliar, ditambah risiko biaya hukum yang besar dan kuat dari gugatan pelanggaran kontrak, jika dia membatalkan kesepakatan.

Twitter tampaknya dalam posisi sulit setelah Musk secara terbuka mempermasalahkan kebijakannya tentang akun spam dan bot pekan lalu.

Parag Agrawal, CEO perusahaan saat ini, mencuit di Twitter pada Senin (16/5). Dia membantah klaim Musk bahwa situs media sosial itu telah mengizinkan akun spam dan bot merajalela.

Spam "merugikan pengalaman orang-orang nyata di Twitter," tulisnya, dan perusahaan "sangat didorong untuk mendeteksi dan menghapus spam sebanyak mungkin, setiap hari."

"Siapa pun yang menuduh sebaliknya malah keliru," cuit Agrawal.

Musk tampaknya tak terkesan. Ia malah men-tweet emoji kotoran sebagai tanggapan. Dia kemudian berkomentar, “Jadi bagaimana pengiklan tahu apa yang mereka dapatkan dari uang mereka? Ini fundamental bagi kesehatan finansial Twitter.”

Perusahaan telah mengakui dalam pengajuan dokumen ke Securities and Exchange Commission bahwa sekitar 5 persen dari 300 juta penggunanya adalah palsu.

Musk menuntut Agrawal menunjukkan bukti atau "Kesepakatan ini tak dapat dilanjutkan sampai dia melakukannya," dalam sebuah tweet Selasa (17/5).

Dia menambahkan, “20 persen akun palsu/spam, sementara 4 kali lipat dari klaim Twitter, bisa *jauh* lebih tinggi.”

Pekan lalu, Musk mengklaim ada kemungkinan jumlah akun palsu sebenarnya di Twitter bisa lebih dari 90 persen dari pengguna aktif harian.

Di sisi lain, Agrawal mengatakan operator akun spam dan bot menjadi semakin canggih sehingga mempersulit Twitter untuk mengidentifikasi dan menghilangkannya.

Baru-baru ini, Musk mencuit bahwa tim hukum Twitter menuduhnya melanggar perjanjian kerahasiaan dengan mengungkapkan bahwa ukuran sampel untuk cek platform media sosial pada pengguna otomatis hanya 100 akun.

Twitter legal baru saja menelepon untuk mengeluh bahwa saya melanggar NDA mereka dengan mengungkapkan ukuran sampel pemeriksaan bot adalah 100!” kata Musk. “Ini benar-benar terjadi," tambahnya. (*)

Foto: Pixabay

Related Articles
Tech
Elon Musk Ingin Bikin Platform Media Sosial

Tech
Beli 9,2 Persen, Elon Musk Jadi Pemegang Saham Terbesar di Twitter

Tech
Twitter Mulai Uji Coba Fitur Pemberian Label untuk Akun Bot