Interest

Mahasiswa ITS Konversikan Getaran Kendaraan Jadi Energi Listrik dengan RSV-P

Dwiwa

Posted on May 12th 2022


Prototipe dari Road Speed Bump’s Vibration Power Plan (RSV-P), rancangan tim mahasiswa ITS sebagai alternatif penghasil listrik

Tim Mahatma Gandhi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menggagas inovasi pembangkit listrik dari getaran kendaraan yang meintasi pita penggaduh. Inovasi ini muncul dari keresahan terkait semakin berkurangnya pasokan sumber daya alam tak terbarukan untuk pembangkit listrik di Indonesia dan juga dampak polusi dari prosesnya yang buruk untuk lingkungan.

Dilansir dari ITS News, tim Mahatma Gandhi beranggotakan Djody Rizqy Rahman dan Tiffany Rachmania Darmawan dari Departemen Teknik Instrumentasi serta Muhamad Kholiq Iqbal dari Departemen Teknik Elektro Otomasi. Melalui Road Speed Bump’s Vibration Power Plan (RSV-P), getaran mekanik hasil kontak antara pita penggaduh dengan roda kendaraan yang melintas bisa dikonversi menjadi energi listrik.

Ketua Tim Mahatma Gandhi Djody Rizqy Rahman memaparkan bahwa ide konversi ini pernah diteliti sebelumnya dengan memanfaatkan polisi tidur. Namun untuk inovasi yang dikembangkan, mereka memilih untuk menggunakan pita penggaduh yang biasanya ada di jalanan padat kendaraan. Alasannya, pita penggaduh seperti ini dapat diaplikasikan pada jenis jalanan yang lebih luas dibandingkan dengan polisi tidur.

Selain itu, menurut Djody, pemanfaatan pita penggaduh ini membuat kontak antara kendaraan dengan jalan semakin besar sehingga energi mekanik yang dapat ditangkap oleh sensor piezoelectric juga semakin banyak. “Pita gundukan ini punya lebih dari satu gundukan jadi kontak dengan kendaraannya semakin banyak,” ujar mahasiswa kelahiran tahun 2003 ini.

Selain perbedaan media kontak, pengembangan ini juga dibekali dengan mikrokontroler ESP8266 yang memungkinkan alat terhubung dengan perangkat seluler melalui teknologi wi-fi. “Pengguna bisa menggunakan aplikasi berbasis Internet of Things (IoT) yaitu Blynk untuk mengatur komponen alatnya, seperti arduino dan node MCU,” jelasnya.

Dalam proses konversi energi mekanik ke listrik, RSV-P menggunakan sensor piezoelectric. Energi listrik yang telah dikonversi selanjutnya dialirkan ke modul op-amp yang berfungsi untuk menguatkan jumlah tegangannya. Tegangan yang dihasilkan oleh alat ini berbanding lurus dengan kecepatan, massa, dan kepadatan kendaraan yang melintasi pita penggaduh.

“Dalam kondisi macet pun alat dapat menangkap energi mekanik yang ada saat kendaraan mulai melintasi pita penggaduh,” lanjut Djody.

Energi listrik yang telah dikuatkan oleh modul op-amp tersebut dialirkan ke modul charger untuk disimpan pada penyimpanan energi. Selain dialirkan ke penyimpanan energi, sinyal yang dihasilkan juga akan dialirkan ke sensor piezoelectric agar sinyal dapat diproses oleh mikrokontroler untuk ditampilkan di layar LCD dan pengguna dapat mengetahui besar tegangan yang dihasilkan.

Prototipe RSV-P menggunakan lima pita penggaduh dan empat sensor piezoelectric pada tiap pita penggaduh yang dirangkai secara seri paralel. Saat diuji coba dengan menggunakan massa kendaraan 186 kilogram dan kecepatan 10 kilometer per jam, tegangan listrik yang dapat dihasilkan bisa mencapai 15,01 volt.

Untuk pengembangan selanjutnya, kata Djody, ketahanan alat akan ditingkatkan sehingga memenuhi standar dan dapat dikatakan layak untuk diaplikasikan di jalan raya umum maupun jalan tol.  “Saya berharap dapat segera diaplikasikan pada jalan raya untuk memberikan sumber energi listrik alternatif bagi lampu penerangan jalan,” tutup mahasiswa asal Tuban ini.(*)

Foto: ITS News

Related Articles
Interest
Mahasiswa ITS Rintis Drafta, Ekosistem Digital bagi Mahasiswa

Interest
Manfaatkan IoT, Mahasiswa ITS Gagas Sistem Pengolahan Limbah Cair Peternakan

Interest
Kreatif, Mahasiswa ITS Manfaatkan Bambu Tali Jadi Elektrolit Padat Baterai