Cerpen

Di Lapangan Saat Aku Menyadari Kamu

Esya Charismanda

Posted on October 8th 2018

Sebagai murid SMA yang duduk di semester terakhir tahun kedua, aku kerap merasa kisah cintaku sama abu-abunya dengan seragamku. Nggak jelas, suram, dan jauh dari harapan. Sering aku hanya bisa menatap iri kepada teman-teman yang lain saat mereka bercerita tentang romansa masa remajanya masing-masing.

Bukan. Bukan berarti aku tak pernah jatuh hati. Pernah, namun sudah lama sekali kisah itu usai. Setelah itu sulit rasanya untuk memulai kisah baru. Dan kupikir aku akan terus seperti ini hingga tahun terakhirku nanti. 

Sampai akhirnya aku bertemu dengannya. Bukan pertemuan pertama sebenarnya, sebab ia adalah murid kelas sebelah yang memiliki jam pelajaran olah raga bersamaan dengan kelasku. Juga bukan pertemuan yang istimewa, tapi berhasil membuatku tahu bahwa sosoknya ada. Aku...jadi menyadari keberadaannya. Aku menyadari pemikiranku salah, dan aku menyadari bahwa pada hatiku pun terasa ada yang salah.

Bisa dikatakan hampir setengah tahun terakhir ini kami sudah sering bertemu. Hanya saja, tidak pernah ada kejadian yang memicu interaksi di antara kami. Hingga di sebuah permainan basket, aku merasa ada mata yang tak berhenti memperhatikanku. Entahlah, mungkin ini hanya perasaanku. Tapi...aku yakin mataku belum terlalu rabun buat memastikan soal matanya yang tertuju kepadaku. Ah, silakan saja, batinku saat itu. Bukankah hak setiap orang buat melihat apa yang dia mau lihat?

Tentang dia semakin menggangguku saat teman-temanku jadi terdengar sering membicarakannya. Aneh. Kenapa kemarin-kemarin tidak ada yang membahas tentang dia, ya? Apa aku saja yang baru peduli? Kata teman-teman dia sosok yang tangkas bermain basket. Aku bahkan sampai mau stand by di tepi lapangan demi membuktikan kehebatannya bermain.

Iya, benar ternyata. Ia memang tangkas dan gesit di lapangan. Segesit usahanya mengajakku berkenalan, seusai waktu permainan.

“Jadi sering nonton di sini? Btw, aku Andra,” katanya.

Sore itu, aku jadi tahu namanya. Nama yang keesokan harinya masih melekat di pikiranku. Nama yang membuatku mau menunggu lebih lama saat jam pulang sekolah. 

Ya, hanya demi melihat wajahnya, di tempat kami sadar akan kehadiran kami masing-masing. Di lapangan.

Related Articles
Cerpen
Lima Belas Cupcake Pertama

Cerpen
Siapa Yang Seharusnya Sadar?

Cerpen
Ikhlas Tanpa Batas